Amunggut Tabi: Demokrasi Kesukuan Tidak Mengenal Partai Politik

Di masa-masa Piklada atau Pemilukada dan disusul Pemilu di negara kolonial Indonesia, dan negara-negara lain yang berlangsung di seluruh dunia, di mana ada fenomena umum dalam sejarah manusia bahwa para elit politik/ calon tpemimpin yang kelihatan fenomenal dan eksrim justru mendapatkan dukungan publik daripada pemimpin yang penuh gairah, yang penuh strategi dan percaya kepada ideologi politik aliran kiri dan aliran kanan, Amunggut Tabi dengan tenang menanyakan,

Kami punya demokrasi modern itu usianya berapa tahun? Kalau hanya 200 tahun lebih jangan pasang gaya. Demokrasi Kesukuan sudah berusia puluhan ribu bahkan jutaan tahun.

Mendengar tanggapan itu, PMNews menanyakan partai politik atau aliran politik mana yang sedang dipersiapkan untuk diterapkan dalam Negara West Papua. Tabi menjawab:
Negara West Papua dengan Demokrasi Kesukuan tidak mengenal partai politik, tidak akan mendirikan partai politik.
PMNews kembali tanyakan, "Apa artinya politik tanpa partai politik?" Tabi t menjawab

Di dalam Demokrasi Kesukuan para calon tidak mengkampanyekan ideologi politik dan strategi pembangunan serta janji-janji politik, tetapi yang terjadi adalah pameran hasil karya selama hidup masing-masing calon di dalam suku/ klen masing-masing dan mereka tawarkan apa yang telah mereka lakukan untuk di-copy dan di-paste ke klen/ suku lain di dalam negara West Papua.

Tabi selanjutnya menjelaskan bahwa masyarakat di dalam suku-suku tidak perlu lagi dipetak-ketak dengan partai-partai politik. Kita sudah daa dalam petak-petak marga, klen dan suku, jadi kita mendirikan negara bukan untuk memetak-metakkan apa yang sudah terpetak-petak secara alamiah. Kita dirikan negara untuk menyatukan kesatuan suku-bangsa dan negara dengan dasar bangunan marga, klen dan suku.

Jadi, dengan mengeluarkan partai politik dari kehidupan demokrasi Negara West Papua, kita bermaksud memanfaatkan keberagaman yang ada untuk kesatuan dan persatuan di dalam negara West Papua.