Category Archives: Modernisasi

Winston Churchill on Money and Peoples’ Attitiude

Former Prime Minister of the United Kingdom, Winston Churchill, once said: “I took taxi one day to the BBC office for an interview.
.When I arrived, I asked the driver to wait for me for forty minutes until I got back, but the driver apologized and said, “I can’t, because I have to go home to listen to Winston Churchill’s speech”.
.
I was amazed and delighted with the man’s desire to listen to my speech! So I took out ten pounds and gave it to the taxi driver without telling him who I was. When the driver collected the money, he said: “I’ll wait for hours until you come back sir! And let Churchill go to hell !”.
.
You can see how principles have been modified against money; nations sold for money; honour for money; families split for money; friends separated for money; people killed for money; and people being made slaves to money.
Source: FB Page

OAP: Mau Bilang Pintar Salah-Salah, Sebaliknya juga Bingung

Kita sebagai Orang Asli Papua (OAP) selalu hidup dalam kondisi serba sulit ditebak, sulit menyatakan sikap, sulit menentukan nasib, bahkan nasib untuk hidup mati-pun kami tidak punya posisi dan sikap yang jelas. Yang bingung adalah dunia, karena mereka tidak sanggup melihat jawaban atas pertanyaan, “OAP sebenarnya maunya apa?”

  • Apakah dunia yang tidak pintar sehingga sulit baca OAP, ataukah OAP yang bikin kabur air?
  • Apakah dunia yang masih jauh dari tingkat perilaku OAP sehingga mereka tidak sanggup membaca sikap kemauan OAP?

Contoh yang paling jelas saja, ada banyak OAP berteriak minta merdeka, keluar dari NKRI, tetapi banyak juga OAP yang mencalonkan diri menjadi anggota DPRD, DPRP/DPRPB dan anggota DPRRI. Jadi, dunia sebenarnya bukannya bingung, tetapi “mencurigai”, bahwa OAP sebenarnya tipu, menipu diri sendiri.

Akhirnya keputusannya, “Ah, biarkan mereka saja, entah apa hasil dari kerja mereka, kasiht inggal mereka saja!”

Contoh kedua, sejak tanggal 1 Desember 2018, sudah terjadi pembunuhan orang pendatang, atau sering kita sebut dengan “Kaum Amberi” di Kabupaten Nduga, dilakukan oleh para pejuang atau gerilyawan Papua Merdeka yang NKRI sebut sebagai kelompok kriminal bersenjata, sama dengan Jenderal Sudirman, Diponegoro, dan sebagainya bergerilya sebagai KKB melawan Belanda tempo doloe.

Sementara terjadi begitu, nah, di sini letak kebodohan atau kepintara OAP,

  • MASIH ADA OAP bawa diri ke rumah-rumah sakit ynng mana kita semua tahu rumah-rumah sakit di Tanah Papua sudah dipenuhi oleh para pembunuh bayaran, yang telah disebar-luas sejak 15 tahun lalu. Lebih menyedihkan lagi, orang-orang bayaran itu sudah pernah keliling gereja-gereja di Tanah Papua dan bersaksi tentang perbuatan mereka. Jumlah OAP yang mereka bunuh bukan satu-dua, tetapi puluhan, ratusan, ribuan.
  • MASIH ADA OAP yang makan-makan terus di warung-warung kaum Amberi. OAP menjadi pemalas masak di rumah, bikin diri seolah-olah kaya, padahal pulang tidur di gubug tetapi makannya di warung-warung yang sudah dipasang racun.
  • MASIH OAP yang tidur di hotel-hotel di mana pemiliknya, pengelolannya, dan pelayannya adalah kaum Amberi.

Jadi, di mana letak kepintaran OAP, kalau OAP mau dibilang pintar?

Kalau mau dibilang OAP kebalikan dari pintar, malahan kita yang dimaki-makinya dengan nama-nama hewan!

Jadi mungkin ini nasib sial bangsa ini. Pantas saja tahun 2030 OAP ras Melanesia akan punah dari Tanah Papua.

Satu saja peringatan: Jangan salahkan NKRI, jangan salahkan kaum Amberi, kau sendiri terbalik dari pintar, makanya nasibmu sial.

Bukan Tuhan yang salah, bukan Belanda yang salah, bukan misionaris yang salah, bukan kapitalisme yang salah, bukan sosialisme yang salah, yang salah diri sendiri.

Bertobatlah Hari Orang Asli Papua!

  • Belajar makan makanan asli Papua
  • Belajar tanam dan makan makanan sendiri
  • Belajar masak dan makan makanan di rumah sendiri
  • Belajar tidur di rumah sendiri baru pergi rapat dan pulang makan di rumah

Belajar dan belajar! Kalau tidak Anda akan punah dari muka Bumi, dari Bumi Cenderawasih

 ‡ Amber, , OAP, Rumah Sakit Length: [610] words.

Perihal “Waktu” dan Nasib Manusia yang Hidup “di dalam” Waktu ?

Pengantar

Catatan sebelumnya kita bicara tentang “Waktu” dan “Ruang” adalah ciptaan Manusia modern! Pikirkan untuk Hidup di luar mereka! dengan tujuan untuk melihat konsep waktu menurut Orang Asli Papua (OAP) mewakili Masyarakat Adat (MADAT) sedunia, dan waktu menurut masyarakat modern.

Ada lima hal yang sering diperhatikan dalam melihat “waktu”.

  1. Pertama apa yang membatasi waktu
  2. Kedua, apa arti waktu dalam fisika? Karena waktu dilihat sebagai sesuatu yang pasti.
  3. Maksud waktu dalam sains (ilmu pengetahuan), yaitu nalar, secara khusus manusia modern.
  4. Filsafat waktu dan
  5. Konsep waktu

Dalam artikel sebelumnya kita sudah singgung tentang konsep waktu menurut MADAT dan masyarakat modrn.

Konsep Waktu

Menurut Wikipedia.org waktu adalah

Time is the indefinite continued progress of existence and events that occur in apparently irreversible succession from the past through the present to the future.

<https://en.wikipedia.org/wiki/Time>

[Artinya: Waktu adalah kemajuan tak tentu terus-menerus dari keadaan dan kejadian yang terjadi dalam suksesi yang nampak tidak dapat dibalikkan kembali dari masa lalu melewati masakini ke masadepan.]

Sesuatu sedang berlangsung secara tak menentu, tanpa batas, tanpa akhir dan ia berlangsung terus-menerus. Berlangsung dalam eksistensi dan peristiwa. Dan eksistensi dan peristiwa itu tidak dapat dibalikkan kembali, dari kemarin, hari ini, dan hari esok.

Itu dalam pandangan modern dan barat, inilah pemikiran Newtonian, yang mengatkan bahwa proses waktu dari kemarin, hari ini dan hari esok terjadi terus-menerus, tidak dapat diulang kembali, dalam garis lurus.

Berbeda dengan itu, MADAT dan dunia non-Barat tidak melihat waktu seperti itu. Waktu adalah “keberadaan saat ini”, tidak ada kemarin, tidak ada besok. Kami ada! saat ini! Titik!

Ada yang melihat malahan waktu dia berputar bolak-balik, dari kemarin, hari ini dan besok, dia berputar. Sama seperti planet Bumi adalah bundar, sesungguhnya waktu berjalan dalam sebuah proses siklus, dan ia kembali lagi ke awal, dan kembali lagi ke awal, dan kembali lagi ke awal, tidak berakhir.

Hari ini tanggal 31 Desember 2018, dan besok adalah tanggal 1 Januari 2019. Dan tanggal 31 Desember 2018 itu tidak akan pernah berulang kembali, tidak pernah terkena siklus lagi. Itu pandangan modern.

Itu sebabnya Tahun Baru dianggap sebagai sesuatu yang sangat berarti. Kita dipaksa untuk berbuat banyak hal, misalnya membuat resolusi-resolusi, mengevaluasi peri kehidupan kita dalam berbagai aspek, kalau pengusaha mengeluarkan keputusan-keputusan penting untuk usaha, kalau di dalam gereja biasanya ada pengakuan-pengakuan dosa dan resolusi-resolusi yang dibuat untuk tahun baru nanti.

Karena waktu dianggap TIDAK AKAN PERNAH DATANG KEMBALI, maka pelepasan tahun yang sedang berjalan menjadi sangat vital, dan resolusi menjadi sangat penting.

Hidup di Dalam Waktu = Budak Waktu

Pertanda pertama manusia hari ini yang ada “di dalam waktu” ialah dia punya kalender di dinding, atau di HandPhone, atau di Kompuernya, dan bukan itu saja, dia sering mengecek “waktu” itu sendiri.

Ada yang mengenakan arloji tangan, walaupun sudah punya handphone dan laptop yang menggunakan waktu. Dan pada saat bicara, berjalan, selalu melihat-lihat ke “waktu” yang ada di tangan.

Selain itu, orang yang hidup “di dalam waktu” memiliki jadwal kerja yang jelas. Pagi, siang, sore, malam; Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu; Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember. Ada yang lebih ketat lagi, semua diator menurut jam dan bahkan menit.

Orang seperti ini akan terlihat gelisah dalam hidup. Hidup mereka penuh dengan beban dan stress. Mereka terlihat selalu dikejar-kejar oleh sesuatu, saya tidak menganggap sedang mengejar sesuatu. Mereka mengira mereka mengejar waktu, tetapi sebenarnya bukan, mereka justru dikejar oleh waktu.

Bukan sekedar dikejar, mereka telah menjadi hamba dan budak dari “waktu”. Mereka menjadi tahanan dari “waktu”. Mereka menjadi “terpenjara” oleh konsep waktu.

Jangan heran, di mana ada masyarakat modern, di situ pasti ada Rumah Sakit Jiwa (disingkat RSJ). Di mana ada masyarakat modern, pasti penyakit stress dan depresi, sampai bunuh diri. Pasti ada banyak orang “gila” yang kehilangan keseimbangan antara emosi, nalar dan nurani sehingga mereka menjadi “sampah” masyarakat.

Budak Waktu Memperbudak Manusia Lain

Dampak lanjutan dari manusia-manusia “budak waktu” ialah mereka dikejar dan diperintah oleh waktu, sehingga mereka harus melakukan sesuatu, tanpa disadari, sebenarnya apa-apa yang dilakukan itu merupakan langkah manusia-manusia budak dimaksud untuk menyelamatkan diri atau memerdekakan diri dari perbudakan waktu.

Mereka menyembah kepada “waktu”. Mereka menjadi budak “waktu”. Mereka mengira mereka maju menjadi modern, menjadi makmur, menjadi kaya-raya dan bahagia. Ternyata tidak! Benar! Ternyata tidak! Kekayaan dalma bentuk harta benda dan uang ternyata tidak mendatangkan apa yang dijanjikan oleh “waktu”, yaitu “kebahagiaan hidup”.

Kata mereka, “Time is money“, dan karena itu “waktu” digunakan, atau “waktu memeras mereka semampu-mampunya sampai manusia menjadi mampus dipermainkan oleh waktu”, dan janji dari perbudakannya itu katanya adalah “money”. Dikira “money” dapat membeli “kebahagiaan”. Abraham Maslow mengatakan begitu ada “mass production” dan “mass production” maka ada kebahagiaan dan realisasi diri masng-masing orang. Itulah tujuan akhir dari keberadaan kita dalam kehidupan dalam tubuh fisik ini.

Dapatkan Kita Lihat “Kebahagiaan Hidup” dari Manusia “Budak Waktu”?

Kalau secara jujur kita lihat per tanggal 31 Desember 2018, maka tanpa ragu-ragu kita apat membantah Pak Maslow dan mengatakan kepada dia, “Kok hal itu tidak terbukti dalam hidup daya?”

Definisi “hidup bahagia” seperti yang digambarkan dalam ilmu-ilmu sosial, psikologi, filsafat justru lebih nyata dan dialami di tengah-tengah MADAT. Justru di masyarakat modern terlihat “hidup bahagia” itu menjadi sangat semu. “Kebahagiaan” masyarakat modern jadinya mirip dengan berfoya-foya, berpesta-pora, tampil seolah-olah kaya. Saat kita tatap di mata mereka, karena mereka adalah manusia sama dengan kita, akan nampak jelas “TIDAK ADA KEHAHAGIAAN” terpancar dari wajah mereka.

Apa solusinya?

Solusinya hanya satu, yaitu “Keluar”-lah dari “waktu”, karena perbudakan dimulai oleh, untuk dan karena “waktu”. Dan pada saat kita keluar dari “waktu” maka kita akan menjadi manusia yang benar-benar merdeka secara hakiki.

[Catatan berikut berjudul “Bagaimana dan Siapa yang Hidup di Luar Waktu”]

Kalender sebagai Cara Manusia Memahami dan Memanfaatkan Waktu

Setiap saat ada peringatan-peringatan dirayakan umat manusia di seluruh dunia, dalam berbagai budaya yang menciptakan waktu (kalender).

Menurut catatan “Ancient Near East, kalender Egyptian dan Sumerian merupakan yang tertua, disusul dengan Babylonian calendar,  Zoroastrian calendar dan juga Hebrew calendar. Kalender yang kita gunakan sebagai kalender umum atau kalender barat atau kalender Masehi ialah  Gregorian calendar, yang diperkenalkan pada tahun 1582

Siklus waktu dapat disinkronisasi dengan fenomena periodik:

Kalender-kalender ini disusun didasarkan atas budaya manusia yang memahami pergerakan dan fenomena alamiah yang terjadi menurut budaya masing-masing kelompok manusia.

“Waktu” dipatok dengan tujuan, baik tujuan yang diakui maupun tujuan yang tidak diakui, bahkan tujuan yang tidak disadari. Waktu sebagai bagian dari budaya manusia. Sebelumnya saat budaya manusia belum kompleks manusia tidak mengenal waktu. Waktu yang dikenal pada umumnya sama dengan yang ada dalam budaya Melanesia saat ini, yaitu waktu pagi, siang, sore dan waktu malam, tidak ada tanggal, tidak ada minggu, bulan, tahun semuanya tidak ada. Begitu budaya manusia menjadi semakin kompleks, tatanan sosial menjadi semakin rumit, manusia mulai berinteraksi dalam kelompok yang lebih besar, maka muncul kebutuhan untuk mengelola diri manusia sebagai kelompok.

Bersamaan dengan itu terjadi konsentrasi kegiatan, konsentrasi kekuasaan dan konsentrasi kepemimpinan dalam pemerintahan. Ada sejumlah orang mengkhususkan diri untuk mengelola pikiran dan energi untuk menguasai, menyisahkan yang lain sebagai yang dikuasai. Lama-kelamaan tenaga, kekuatan dan kebutuhan masyarakat umum harus dikelola, yaitu dikelola untuk mendatangkan keuntungan bagi para penguasa, pengendali pikiran dan kehidupan sosial-politik.

Kehidupan menjadi semakin kompleks, dan butuh alat untuk mengendalikannya. Maka proses pe-waktu-an muncul terutama untuk mengendalikan pemanfaatan “sumberdaya” manusia dalam mengelola “sumberdaya” alam. Alam dan manusia menjadi “sumberdaya”.Bahkan waktu ikut menjadi “sumberdaya” untuk dimanfaatkan. Bahkan sampai ada ungkapan “Waktu adalah uang” telah merajai pikiran dan perbuatan manusia sampai hari ini. Tidak ada seorangpun yang membayangkan kapan kerajaan “duit” akan runtuh dalam sejarah kehidupan manusia.

Melanesia dan Waktu

Manusia dunia barat ialah manusia yang telah diperbudak dan budak abadi dari si “waktu”. Mereka selalu dikejar oleh waktu dan juga selalu mengejar waktu. Di sebagian besar Asia, waktu adalah karet, bisa dirarik, bisa diputar, bisa dilupakan. Di Melanesia waktu berhenti total, karena konsep dan realitas waktu di Melanesia kembali kepada konsep awal, “no time zone”, dari sisi jam, hari, minggu, bulan, tanggal, tahun. Yang ada hanya pagi, siang, sore, dan malam.

Itulah sebabnya pada hari ini sudah umum dikenal beberapa istilah berkaitan dengan waktu

  1. Waktu internasional artinya waktu yang berlaku di seluruh budaya modern
  2. Waktu karet, yaitu waktu yang dimanfaatkan di sebagian besar negara-negara Asia dan Afrika
  3. Waktu Melanesia, yaitu ketika waktu berhenti total.

Sekarang pilihan kita untuk merenungkan dan memutuskan, waktu mana yang cocok dan bermanfaat untuk kita. Saya harap tidak ada dari kita yang mengatakan konsep “waktu” ini yang lebih baik daripada konsep “waktu” itu. Saya harap kita menerima semua konsep tentang waktu sesuai dengan konteks sosial-budaya dan geografis di mana kami berada.

Dalam konteks ini, kita perlu berpikir kembali apa artinya “perayaan”, “ulang tahun”, “peringatan”,  dan “pekerjaan” yang dikaitkan dengan waktu. HUT kelahiran, HUT pernikahan, HUT kemerdekaan, jam kerja dan waktu libur, dan sebagainya perlu dipikir ulang menurut konsep waktu tadi.

Gideon Kristian: Tiga Macam Waktu Tuhan

Renungan tentang Konsep Waktu
Renungan tentang Konsep Waktu

Penulis : Gideon Kristian

Dalam membicarakan waktu Tuhan, kita bertemu dengan tiga istilah dalam Alkitab (bah. Aslinya)

1. Waktu Kronos

Yang dimaksud Kronos adalah waktu yang biasa, yang selalu ada. kronos menunjukan jangka waktu tertentu, entah itu waktu yang singkat (sekejap mata, Luk 4:5) Atau waktu yang lama (Luk 8:27; 20:9). Dengan demikian kita mengerti bahwa kata Yunani kronos dipakai berhubungan dengan jam, bulan, dan tahun. Waktu kronos adalah siklus waktu yang biasa.

2. Waktu Aion:

Kata Aion dipakai untuk menunjukan entah waktu yang lama sekali, atau waktu yang tanpa batas. Oleh sebab itu waktu aion dipakai tentang waktu ini yang mulai dengan penciptaan dan berakhir denga kedatangan Kristus yang kedua kali; atau juga tentang waktu kekekalan, yaitu waktu tanpa batas. (Matius 12:32 dunia inidan dunia yang akan datang. Yang diterjemahkan dengan kata dunia adalah aion (lih. Ef 1:21)

3. Waktu Kairos :

Kata kairos berbicara tentang periode tertentu. Kalau waktu itu sudah lewat, tidak akan kembali lagi (Roma 5:6) Oleh sebab itu waktu kairos berbicara tentang kesempatan dan momentum yang ada di waktu waktu tertentu.

Galatia 6: 10 Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman – artinya, kalau kesempatan tidak digunakan, maka waktu (kairos) akan hilang.

Kalau kita tidak cermat kita akan kehilangan kesempatan. Sebab itu kita harus memperhatikan waktu pintu terbuka dan waktu pintu tertutup. Alkitab berkata, Apabila Ia (Yesus ) membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka. (wahyu 3:7)

Ada waktunya Tuhan membuka pintu masuk bagi kita dalam sebuah kesempatan. Bila mana kita tidak masuk, pintu akan tertutup. *Pintu itu bisa sebuah kesempatan kesempatan baik yang kita miliki. Yang mungkin Cuma sekali saja. Jadi perhatikan KAIROS yang Tuhan berikan. Jadilah peka, bijaksana, berani mengambil keputusan namun tidak terburuburu. Atau anda akan menyesalinya!

Catatan saya:

Saya sadari bahwa agama pada umumnya adalah warna kehidupan modern, ciri penting dari manusia modern ialah ia “punya agama”. Tanpa agama sering secara langsung dihubungkan dengan “purba”, “adat”, “tidak modern”. Oleh karena itu konsep waktu dalam Alkitab ini mengajarkan pandangan masyarakat modern tentang “waktu”.

Sedangkan masyarakat adat (Madat), secara khsusus Madat Melanesia memiliki konsep waktu tanpa tanggal dan bulan, tanpa jam, menit dan detik. Tanpa tahun dan abad. Madat Melanesia hanya mengenal pagi, siang, sore, dan malam; kemarin, kemarin dulu, besok, dan besok lusa. Tidak mengenal minggu depan, minggu lalu. Apalagi tahun depan atau tahun lalu. Hanya mengenal barusan lalu, dulu sekali, besok-besok, nanti kapan-kapan.

Dibandingkan antara kedua pandangan ini, maka kita manusia Papua secara sepihak perlu memaknai “waktu” di era yang modern ini secara bijaksana. Cara-cara yang saya anjurkan buat diri saya sendiri ialah sebagai berikut:

  1. Pertama, saya usahakan supaya diri saya tidak terkesan dikejar waktu, atau mengejar waktu. Walaupun saya tahu tanggal dan bulan, minggu dan tahun, saya melepaskan diri dari kesan di hati dan tubuh saya, otak dan pikiran saya, kesan saya dikejar waktu atau saya mengejar waktu.
  2. Kedua, saya juga usahakan supaya saya tidak ketinggalan zaman, sehingga orang lain bisa menilai saya manusia purba yang terpaksa ada di zaman ini. Jadi, saya tetap menggunakan waktu modern, tetapi dengan cara memperlakukannya sebagai sahabat yang bersahabat, yang tidak perlu saya kejar, dan juga dia tidak perlu kejar saya. Segala sesuatu saya berikan waktu yang luas, sehingga saya tidak merasa terdesak dan terpaksa. Dengan cara ini memang sangat sulit, terutama dalam berbisnis. Oleh karena itu yang harus berubah ialah mentalitas saya, cara berpikir saya, cara respon saya berikan dari otak, pikiran dan naluri saya, saya harus perlakukan apa yang harus saya lakukan sebagai sebuah pelayanan, sebuah amanat yang harus kutanggung, bagian dari panggilan hidup. Bukan karena kewajiban, bukan karena tugas, tidak karena dipaksa, tetapi karena memang saya mau melakukannya, dan karena saya senang melakukannya. Mental saya dengan sengaja saya setting sehingga pelayanan penjualan dan pembelian yang saya lakukan dalam dunia bisnis tidak terasa seperti “saya harus”, tetapi menjadi “saya beruntung karena mendapatkan tanggungjawab melaksanakan tugas pelayanan ini”. Dalam dunia bisnis disebut “passion”, akan tetapi yang saya maksudkan di sini lebih dari itu. Walaupun bukan “passion”, saya juga membantu pikiran saya untuk selalu “gembira” dan “bersedia” melayani konsumen, karena mereka mereka membutuhkan pelayanan saya, dan terutama karena saya merasa senang melakukannya.

    Dengan kata lain, secara prinsipil saya memberitahukan kepada diri sendiri bahwa waktu ini adalah sebuah “kairos”, bukan “kronos”, yang dipersembahkan oleh Tuhan untuk saya, dalam tubuh dan kondisi hidup ini tunaikan demi kepentingan pengembangan jiwa dan rohani saya secara pribadi. Tidak ada yang diuntungkan dari apa yang saya lakukan ini, selain diri saya sendiri, dalam hidup ini dan terutama setelah saya meninggalkan tubuh dan dunia fisik ini.

  3. Waktu dengan konsep “Ainon” inilah waktu menurut pengalaman hidup manusia Melanesia. Waktu Melanesia tidak mengenal kalender, periode, era. Kita hanya mengenal sebelum lahir, setelah lahir dan sampai di situ. Tidak banyak yang membahas tentang setelah meninggal dunia. Yang orang Melanesia tahu ialah “I was here, I am here, and I will be here forever” (saya ada di sini kemarin, hari ini, besok dan selama-lamanya).

Dalam kaitannya dengan berbagai perayaan, seperti Lebaran, Natalan dan Tahun baru, HUT Kelahiran, HUT Pernikahan, HUT Kematian, dan sebagainya, yang ditentukan oleh waktu-waktu menurut konsep “waktu” masyarakat modern, maka kita sebagai orang Melanesia perlu secara bijak memiliki dan menikmati konsep waktu dan perayaan sebagaimana seharusnya.

Kita harus keluar dari pembatasan modern tentang waktu.

  • Apa artinya hari kelahiran saya?
  • Apa artinya hari kematian saya?
  • Apa artinya hari kelahiran Yesus?
  • Siapa yang menentukan hari-hari ini?
  • Waktu dan tanggal menurut siapa: China, Eropa, Jawa, Indian, Aborigine? Banyak Kalender waktu di dunia, mana yang kita anggap sebagai “waktu” yang tepat untuk kita?

Yang terpenting saya rasa kita tidak termakan oleh “waktu” yang di-setting dengan sengaja sejak era pencerahan dimulai, lewat proyek modernisasi, dengan etika religious yang mengutamakan kerja, kerja dan kerja, yang mengabaikan esensi kehidupan, yang melupakan maksud manusia hadir ke planet Bumi, hidup, dan mati.

Kita harus keluar dari lingkaran setan waktu buatan manusia. Sudah saatnya kita berdialogue langsung dengan Tuhan, Sang Pencipta, Moyang, Dewa, entah siapa yang kita agungkan dan percaya sebagai yang “maha” di atas kita, dan memiliki kerinduan dan doa seperti ini, “Ya…. saya mau memahami dan menjalani hidup saya menurut dan sesuai waktu-waktu …., bukan waktu menurut masyarakat modern, bukan waktu seperti saya pahami yang terbatas ini.”

Saya curiga berat, jawabannya kemungkinan besar “Waktu tidak ada urusan dengan saya! Itu buatan kalian manusia. Jadi, jawabannya keluar dari lingkaran setan waktu buatan manusia, waktu yang dapat dipahami otak yang tidak sanggup memahami apa itu waktu, atau memang waktu itu pernah ada?

“Waktu” dan “Ruang” adalah ciptaan Manusia modern! Pikirkan utk Hidup di luar mereka!

“Waktu” dan “Ruang” adalah ciptaan Manusia, khususnya manusia modern. Waktu dan ruang diciptakan beberapa ratus tahun lalu, pasti “dalam rangka sesuatu”, yaitu proses modernisasi.

Karena itu, untuk kembali kepada jatidiri non-modern, atau Masyarakat Adat, pertama-tama kita harus keluar dari mindset “waktu” dan “ruang”.

Saya teringat kata-kata yang biasa kita gunakan di pedalaman Tanah Papua, baik di West Papua maupun di Papua New Guinea saat ada orang mengenakan jam tangan. Biasanya kita bilang, “Jangan pakai jam, nanti kita dikejar waktu“. Ada juga bilang, “Jam pekagak ndakakugwarak?” (Apakah orang tua pakai jam untuk melahirkanmu?)

Kita tidak sadar, bahwa kalimat-kalimat ini keluar secara alamiah, dari alam bawah sadar Masyarakat Adat (madat) menanggapi proses modernisasi yang sedang terjadi. Alam bawah sadar kita sebenarnya mengatkan bahwa “waktu” dan “ruang” tidak boleh hadir dalam hidup ini, karena itu yang menyebabkan masalah buat tubuh kita, yaitu tubuh alamiah ini.

Tadi modernisasi dan waktu adalah fokus pertama. Yang kedua, dari sisi cosmos. Waktu dan ruang hanya berguna untuk tubuh-jasmani ini. Tubuh ini pertama-tama butuh tempat,  atau wadah untuk ber-ada dan ber-ekspresi. Hanya sampai ruang saja sudah cukup. Tetapi manusia-lah yang menciptakan “waktu”.

Tadinya waktu yang ada di Tanah Papua ialah “Pagi, Siang, Sore, dan Malam”, itu waktu Melanesia (Melanesian Time). Sekarang waktu modern ialah 12:00 AM (atau 00:00); 12:00PM; 18:00 (atau 06:00PM).

Sekarang ada Selamat Pagi, Selamat Siang, Selamat Sore, Selamat Petang, Selamat Malam. Dalam Madat Papua hanya ada “Wa!” itu saja. Tidak ada keterangan pagi, malam, siang.

Itu baru hitungan jam, kita belum bicara hari, minggu, bulan, tahun, abad. Maka kita tahu ada ajaran-ajaran modern tentang waktu dan tempat, tentang agama dan politik, tentang filsafat dan sains. Semua ini dikemas di dalam waktu dan tempat. Ini semua wajah modernisasi, atau masyarakat modern.

Kalau ada MADAT Papua, terutama saya, yang sudah mulai gelisah karena waktu dan tempat, karena terlambat, karena lambat dari jam makan, lambat dari jam kerja, dan sebagainya, maka sadarilah, tubuh alamiah Anda sebenarnya menolak “waktu” itu, tetapi Anda memaksakan mematuhi “waktu” karena Anda sedang dalam proses me-modern-kan alam sadar Anda.

Saat ini semua orang Papua mengirim pesan-pesan Natal dan Pesan Tahun Baru! Ini menarik, karena ini berkaitan langsung dengan “Waktu” dan “Ruang”, waktu 25 Desember dan tempat di Kandang Bethlehem, di Jerusalem yang saat ini menjadi isu kontroversial karena Donald Trump mengatakan Ibukota Israel berdasarkan Alkitab ialah Jerusalem, bukan di Tel-Aviv.

MADAT Papua yang mau merayakan dan menyampaikan Salam Natal sebenarnya dapat melakukannya kapan saja, di mana saja. Tidak harus membuat Ilustrasi salju, Father Christmas dan Bethlehem. Tidak harus tanggal 20 – 30 Desember setiap tahun. Tetapi setiap saat, dan di semua tempat.

Natal bukan sebuah ritual Winter Solstice, yaitu “waktu” pemujaan dewa yang di-Kristen-kan dalam budaya suku-suku di Eropa, yang jatuh tepat waktu bulan desember tanggal 21, yang dalam agama Kristen dijadikan tanggal 25 desember.

Natal haruslah menjadi pengalaman sehari-hari. Setiap hari raja damai haruslah hadir dalam nafas hidup kita dan dirayakan dalam keseharian kita.

Pertama-tama kita hidup berdamai dengan diri kita sendiri, kemudian kedua dengan sanak-keluarga, lalu ketiga tetangga makhluk manusia, semarga, sesuku, sebangsa, keempat dengan sesama makhluk non-manusia dan segala yang ada di sekitar kita, di dunia kita. Kita seharusnya memberi salam kepada mereka semua, lintas batas waktu dan ruang, lintas makhluk dan kaum.

Kalau ada orang Papua yang mengucapkan Salam Natal kepada keluarga-nya tetapi membenci orang Jawa yang Islam, misalnya, maka sesungguhnya Raja Damai itu tidka pernah ada dalam hidup-mu, dan Anda harus bertobat. Kalau ada orang Papua hanya mengucapkan Salam Natal di Bulan Desember saja, maka kita harus di-baptis kembali.

Lalu hal ketiga ialah persoalan tempat: di mana Orang Kristen merayakan Natal itu? Di Bethlehem? Di Yerusalem? Di Kandang yang hina? Di Gereja? Ahhh, ketahuan, kita membatasi perayaan natal ke dalam scope ruang/ tempat buatan manusia modern.

Tidak banyak orang Kristen bertanya kepada Yesus,

“Di mana Kau sebenarnya bertahun-tahun lama-nya tidak pernah hadir di Synagoge, dan biasa Kau datang tiba-tiba dan khotbah, lalu segera Kau tinggalkan Synagoge?”

Tuhan Yesus tolong saya, Roh saya katakan, Yesus akan jawab ini.

Saya tidak terbatas oleh waktu dan tempat sobat, jadi jangan batasi saya dengan Synagoge, Gereja, Katedral. Ini semua buatan tangan manusia, bukan ciptaan Tuhan. Yang diciptakan Tuhan ialah langit, bumi, air, tumbuhan, hewan, Danau, Gunung, Pohon. Karena itu ada telah dikatakan alam semesta menyatakan kemuliaan Allah. Itu sudah cukup! Kau tidak usah pusing-pusing cari muka bikin diri inti merayakan ini dan itu di dalam gedung-gedung buatanmu sendiri.

Sobat, kebanyakan waktu saya habiskan di alam semesta buatan Tuhan. Saya masuk ke Synagoge hanya dalam rangka menegur orang Farisi dan Saduki, ahli-ahli taurat dan penguasa, bukan untuk merayakan natal.

Lalu saya pikir begini, “Kalau ceritanya begini, MADAT Papua seharusnya memuji-memuliakan Tuhan di kampung, hutan rimba New Guinea, di Danau dan Lautan Pasifik yang jelas-jelas memancarkan kemuliaan Tuhan, daripada masuk ke dalam gereja yang dibangun dengan uang-uang kotor hasil korupsi para politisi Papua dan non-Papua, yang tujuannya jelas-jelas bukan untuk  memuliakan Nama Tuhan.

Jadi, MADAT Papua seharusnya merayakan natal DI LUAR dari “Waktu” dan “Tempat” yang diciptakan masyarakat modern, sehingga Tuhan benar-benar menjadi Sahabat Sejati dalam hidup kita, bukan sekedar Tuhan yang kita datangi saat-saat ada perayaan di geraja, saat-saat ada kesulitan dalam hidup saja.

Apa lagi?

Melepas tahun 2017, sudah banyak orang Papua sibuk membahasnya, menulis status, menyatakan sikap, misalnya mau berhenti merokok, berhenti mabuk-mabukan, fokus kuliah, dan sebagainya. “Waktu” menjadi fokus di sini.

Padahal, kalau Anda “KELUAR” dari “waktu” tahun 2017, 2018, 2019 dan seterusnya, maka Anda dapat berubah kapan saja, hari apa saja, di mana saja, tanpa harus menunggu tahun 2017 berakhir menurut waktu masyarakat modern.

Metafisika Misteri Ruang dan Waktu

TEORI Albert Einstein, mengatakan bahwa dalam perhitungan-perhitungan ilmiah, manusia tidak hanya berurusan dengan tinggi, lebar dan panjang; melainkan juga dengan satu dimensi lain, yaitu waktu. Hidup ini terasa lama karena manusia terikat oleh ruang dan waktu dan terikat pada pola Logika Manusia. Padahal, di dalam kontek Logika Tuhan, maka sebenarnya hidup manusia hanya “satu detik” saja.

Ketika Tuhan masih sendiri, maka ruang dan waktu belum ada. Jadi, Tuhan tak terikat oleh ruang dan waktu. Maka ketika Tuhan berfirman “kun fayakun”, maka jadilah semuanya dan mulai berproses. Tidak hanya alam semesta yang diciptakan, melainkan juga ruang dan waktu. Tuhan menciptakan alam semesta tanpa terikat oleh ruang dan waktu.

Menurut Logika Tuhan, maka konsep ciptaan Tuhan adalah sekaligus. Tidak satu persatu.Tidak menciptakan ruang ,kemudian menciptakan matahari,kemudian menciptakan bulan,kemudian menciptakan bumi,kemudian menciptakan bintang dan seterusnya. Berdasar logika ini, maka sorga dan Nabi Adam serta neraka sudah ada sejak awal penciptaannya.Itulah Logika Tuhan.

Apakah ruang itu?

Secara ilmiah, ruang adalah tempat di mana benda-benda berada. Terikat oleh panjang,lebar,tinggi dan luas. Kalau Anda berada di kamar tidur, maka kamar tidur itulah ruang. Kalau Anda di dalam gerbong kereta api, maka gerbong itulah ruang. Kalau Anda jadi astronout, maka angkasa adalah ruang.

Misteri ruang

Ada misteri logika tentang ruang. Kita sering mendengar kalimat “langit yang tak terbatas” dan “langit berkembang terus”. Kalau tak terbatas, lantas sampai di mana batas langit? Kalau langit berkembang terus, berkembang ke arah mana? Adakah langit di atas langit? Adakah ruang kosong sesudah langit? Bagaimana bentuk fisik ruang? Logika Manusia tak mampu menjawabnya sebab itu merupakan wilayah Logika Tuhan.

Apakah waktu itu?

Klau Anda berangkat dari rumah pukul 07:00 WIB dan sampai di kantor pukul 09:00 WIB, maka Anda menempuh waktu 2 jam. Itulah waktu, yaitu perpindahaan saat ke saat yang lain.

Misteri waktu

Namun, bagaimana bentuknya waktu? Bagaimana warnanya waktu? Logika Manusia tak mampu menjawabnya. Ini wilayah Logika Tuhan.

Konsekuensi ruang dan waktu

Kalau Anda meninggal pada usia 80 tahun, maka Anda akan mengatakan hidup Anda cukup lama. Namun bagi Tuhan, 80 tahun itu sama dengan “satu detik”.Tidak lama. Lama menurut manusia tidak lama menurut Tuhan.

Konsekuensi terikat oleh ruang dan waktu, maka segalanya akan mengalami proses. Dari tumbuh, berkembang menjadi mati. Dari baik menjadi tidak baik atau rusak. Dulu tampan berubah menjadi ompong peot. Dulu cantik menjadi tidak cantik.

Hidup di ruang angkasa

Itu kalau Anda hidup di bumi yang terikat oleh hukum gravitasi yang membuat proses penuaan dan kehancuran menjadi lebih cepat. Namun, jika Anda tinggal di planet yang terjauh dari bumi, di sebuah galaksi lain yang jauh dari bumi, maka ruang dan waktu mempunyai kualitas yang berbeda. Manusia bisa awet muda dan waktu berjalan terasa begitu lambat. Ketika saudara Anda di bumi telah berusia 100 tahun, maka di planet terjauh itu umur Anda baru 50 tahun atau bahkan 25 tahun.

Tidak terikat ruang dan waktu

Artinya, semakin kita menjauh dari bumi, maka kita semakin melepaskan diri dari ruang dan waktu. Dengan kecepatan cahaya, kita akan sampai ke langit terjauh. Jauh,jauh dan di luar ruang dan waktu adalah ruang dan waktu abadi yang sebenarnya tak terikat oleh ruang dan waktu. Ada yang mengatakan itulah sorga dan neraka. Dimensinya sangat berbeda dengan dimensi kehidupan di bumi. Dan Logika Manusia tak mampu menjangkaunya.

Kesimpulan

1.Dengan demikian, tidak benar bahwa Siti Hawa diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam. Sebab,Tuhan menciptakan alam semesta dan seisinya sekaligus.

2.Juga, tidak benar Tuhan menciptakan alam semesta dalam kurun waktu tujuh hari tujuh malam, sebab Tuhan menciptakan ruang dan waktu dan tak terikat oleh ruang dan waktu.

3.Bahkan, tidak benar Tuhan menciptakan manusia dari tanah, udara,api ataupun cahaya sebab Tuhan tak menciptakan sesuatu dari sesuatu yang sudah ada.

Kesimpulan khusus

1.Konsep citaan manusia yaitu dari sesuatu yang ada menjadi ada yang lain (from beingness to another beigness). Misalnya, dari kayu menjadi kursi. Dari benang menjadi kain. Dari air menjadi es. Dari ide menjadi kenyataan. Manusia tak mungkin menciptakan sesuatu dari sesuatu yang tidak ada.

2.Konsep ciptaan Tuhan yaitu dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada (from nothingness to beingness). Misalnya,dari tak ada ruang dan waktu menjadi ada ruang dan waktu. Dari tak ada manusia menjadi ada manusia. Dari tak ada Nabi Adam dan Siti Hawa menjadi ada Nabi Adam dan Siti Hawa. Dari tak ada sorga dan neraka menjadi ada sorga dan neraka. Namun, semua ciptaan Tuhan terjadi sekaligus. Tidak satu persatu.

“Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata: “Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang orang yang kena sihir.” (QS: Al Hijr 14-15)”

Jadi, hidup manusia yang katanya hidup 100 tahun menurut Logika Manusia, sebenarnya hanya “satu detik” menurut Logika Tuhan.

Sumber gambar: husnulyakin.wordpress.com

 

Hariyanto Imadha

 ‡ Albert Einstein, lebar, panjang, , tinggi,  Length: [853] words.

Waktu Dalam Sains Dan Filsafat

“Apa itu Waktu ?” mungkin adalah pertanyaan paling sulit yang  bisa anda ajukan kepada seorang fisikawan atau filusuf. Jawaban dari pertanyaan tersebut mungkin dapat dijawab dengan sederhana seperti : waktu adalah apa yang diukur oleh jam, atau waktu adalah sesuatu yang dapat membuat segala sesuatu memiliki urutan. Namun mari kita berfikir lebih dalam dari itu.
Mari kita mulai dari definisi waktu dalam dunia newtonian. Dalam dunia newtonian, waktu diperlakukan sebagai sesuatu yang eksternal dan absolut. Waktu newtonian dapat diandaikan sebagai container, dimana peristiwa terjadi dalam cara yang deterministik, secara linier dan independen dari pengamat.
Kemudian muncul  Einstein. Teori relativitas khusus dan relativitas umum, keduanya mengarah pada kesimpulan bahwa waktu adalah relatif terhadap pengamat. Waktu bergantung pada tempat dan bagaimana pengamat bergerak relatif terhadap yang lain dan tidak ada sesuatu yang dinamakan waktu universal. Ruang dan waktu saling terikat dengan kecepatan cahaya c sedemikian rupa sehingga waktu “sekarang” bagi pengamat A tidak berarti waktu “sekarang” menurut pengamat B.  Gravitasi dan kecepatan cahaya secara seimbang mampu mendistorsi ruang dan waktu.
Dilasi waktu dan kontraksi panjang bukan hanya konstruksi teoritis dalam sebuah gagasan yang elegan, efek ini telah diuji berkali-kali tanpa adanya kesalahan. Dalam skala makroskopik, teori einstein telah menjadi model yang sangat baik dari realita alam semesta.
Kita telah melihat konsep waktu absolut yang bertahan selama ratusan tahun runtuh, dan waktu kini dipahami menjadi sesuatu yang sangat bergantung pada pengamat. Namun tetap saja,  waktu absolut yang diajukan newton adalah aproksimasi yang sangat baik ketika kita membatasi objek pengamatan pada kecepatan yang jauh lebih kecil dari kecepatan cahaya dan efek gravitasi yang ditimbulkan oleh masa disekitarntya sangat kecil.
Sekarang, bagaimana konsep waktu jika dilihat dari sudut pandang filosofis? Kita mepunyai sebuah teori yang disebut teori waktu A dan teori waktu B. Kedua teori ini diperkenalkan filusuf bernama John McTaggart pada awal abad 19 juga.
Teori waktu A mengatakan bahwa waktu yang real adalah waktu sekarang, masa lalu telah hilang, dan masa depan adalah sebuah distribusi kemungkinan potensial dari segala sesuatu yang dapat terjadi.  Tidak ada sesuatu yang dinamakan masa depan pasti, (sesuatu yang banyak orang menggambarkannya seperti “garis” yang telah ditentukan yang menunggu untuk terjadi), karenanya masa depan tidaklah nyata.
Dilain sisi, teori waktu B mengatakan bahwa masa lalu, masa kini dan masa depan telah ada dan sangat real. Menurut teori waktu B, perbedaan antara masa lalu, sekarang, dan masa depan hanyalah ilusi kesadaran.
Konsekuensi yang digambarkan oleh banyak fisikawan ortodoks dapat disimpulkan : baik dalam fisika newtonian atau teori relativitas, determinisme adalah sebuah fakta. Bahwa masa lalu mendetermenasi masa depan. Lebih lajut lagi, semua yang terjadi didalam big bang telah didetermenasi, termasuk anda, saya dan perilaku kita, fikiran dan perasaan. Tidak ada ruang bagi free will yang namaknya hanya berupa ilusi bila kita melihat dari sudut pandang deterministik.
Dari pandapat yang ada, apakah kita sudah cukup bisa memahami hakikat waktu ? dapatkah waktu lebih komleks dari sekedar teori A dan teori B ? atau mungkin realita adalah gabungan dari kedua ide tersebut. atau bahkan mungkin model waktu linier  bukanlah pendekatan yang tepat untuk menggambarkan realita ? kita dapat mengeksplorasi ide ini lebih lanjut dalam fisika quantum.
 ‡ filusuf, fisikawan, teori Length: [671] words.

Reza A.A Wattimena: Aku dan Waktu

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di Jerman

Banyak orang yang hidupnya dikejar oleh waktu. Mereka membuat rencana yang detil pada hidupnya. Pada usia tertentu, misalnya, mereka sudah harus selesai kuliah. Pada usia yang lainnya, mereka sudah harus punya pacar, dan sebagainya.

Ketika rencana tidak sejalan dengan kenyataan, mereka lalu kecewa. Mereka mulai membandingkan keadaan yang mereka alami dan keadaan yang mereka rencanakan. Dari perbandingan lalu muncul kesedihan. Kesedihan menjadi akar dari depresi, stress dan berbagai penderitaan batin lainnya.

Hal ini khususnya dialami oleh banyak perempuan. Mereka membuat rencana yang detil dalam hidupya. Pada usia tertentu, mereka merasa harus sudah punya pasangan. Dan beberapa tahun berikutnya, mereka berencana untuk segera menikah.

Setelah menikah, mereka juga segera langsung berencana punya anak. Semua sudah terpeta dan terencana. Namun, sayangnya, hidup selalu berkelit dari rencana. Ketika rencana dan kenyataan tak berjalan seiring, kekecewaan dan kesedihan pun datang melanda.

Semua rencana ini biasanya lahir dari tuntutan sosial. Orang tua dan masyarakat sekitar menginginkan kita untuk hidup sesuai dengan nilai dan pola yang telah mereka buat. Kita pun kemudian melihat nilai dan pola itu sebagai bagian dari diri dan identitas kita sebagai manusia. Ketika hidup kita tidak sejalan dengan nilai dan pola yang ditetapkan masyarakat, kita lalu dianggap sebagai orang yang aneh, bahkan kriminal.

Nilai dan pola masyarakat telah kita telan menjadi nilai pribadi kita sendiri. Inilah yang disebut sebagai proses internalisasi nilai. Kita tidak lagi secara sadar melihat perbedaan antara nilai-nilai pribadi yang kita punya, dan nilai-nilai masyarakat yang ditanamkan pada kita. Ketika kita gagal mewujudkan semua ini, kita pun lalu hidup dalam penderitaan.

Semua rencana ini berpijak pada satu pandangan tentang waktu. Kita memacu diri kita untuk bisa berlari dengan waktu. Bahkan, kita pun merasa terus dikejar oleh waktu. Pertanyaan yang perlu kita pikirkan disini adalah, apa itu waktu?

Waktu dan Filsafat

Filsuf di awal abad pertengahan Eropa, yakni Agustinus, telah melihat perbedaan antara dua macam waktu, yakni waktu subyektif dan waktu obyektif. Waktu subyektif adalah waktu yang kita rasakan di dalam batin kita. Sementara, waktu obyektif adalah waktu sebagai mana tertera di dalam jam dan kalender. Ia adalah hari, jam dan tanggal yang digunakan sebagai panduan oleh banyak orang di dalam hidupya.

Waktu subyektif dan waktu obyektif berjalan dengan logika yang berbeda. Satu jam terkena macet di jalan dan satu jam bersama kekasih tercinta memiliki rasa yang amat berbeda. Secara obyektif, keduanya sama, yakni satu jam. Namun, secara subyektif, keduanya amatlah berbeda.

Di masa awal perkembangan ilmu pengetahuan modern di Eropa, pandangan tentang waktu subyektif pun disingkirkan. Yang tersisa kemudian adalah pandangan tentang waktu yang obyektif. Di sini, waktu dipandang sebagai sesuatu yang ada secara mandiri di luar diri manusia. Ia adalah bagian nyata dari alam yang bisa diukur.

Pandangan ini kemudian dikritik oleh Immanuel Kant, filsuf Pencerahan asal Jerman. Ia berpendapat, bahwa waktu adalah bagian dari akal budi manusia. Ia tidak berada di alam, melainkan di dalam pikiran manusia. Sebagai bagian dari pikiran manusia, waktu membantu manusia sampai pada pengetahuan tentang dunia.

Di dalam filsafatnya, Kant sudah menegaskan, bahwa waktu selalu terkait dengan ruang. Keduanya adalah bagian dari pikiran manusia. Pandangan ini dikembangkan selanjutnya oleh Albert Einstein. Ia melihat, bahwa waktu tidak pernah bisa dipisahkan dari ruang. Maka dari itu, ia merumuskan konsep ruang-waktu untuk menegaskan maksudnya.

Pada awal abad 20, Filsafat Barat menimba banyak sekali pemikiran dari Filsafat Timur, terutama tradisi Taoisme dan Buddhisme yang berkembang di Cina dan India. Di dalam Filsafat Timur, waktu dilihat sebagai persepsi manusia. Ia tidak bisa dipisahkan dari kedirian manusia itu sendiri.

Pandangan semacam ini sudah mengakar begitu dalam di dalam tradisi Cina dan India. Mereka melihat, bahwa waktu tak bisa dilepaskan dari pikiran manusia. Maka dari itu, bisa juga dirumuskan, bahwa waktu adalah aku. Jika Einstein melihat kaitan tak terpisahkan antara ruang-waktu, maka Filsafat Timur melihat kaitan yang tak terpisahkan antara aku-waktu.

Peradaban Eropa melihat waktu sebagai sesuatu yang linear, yakni sesuatu yang bergerak lurus. Ia terdiri dari masa lalu, masa kini dan masa depan. Ketiganya dilihat sebagai tiga hal yang berbeda, walaupun saling berhubungan. Jika masa lalu sudah lewat, maka ia sudahlah berlalu, dan tak akan bisa kembali lagi.

Pandangan ini menjadi akar dari slogan yang populer tentang waktu, bahwa waktu adalah uang. Artinya, waktu adalah sumber daya yang bisa habis dipakai. Jika kita menggunakan waktu kita secara tidak produktif, maka kita seperti membuang uang saja. Pandangan waktu sebagai sesuatu yang lurus dan terbatas layaknya sumber daya inilah yang membuat kita merasa terus dikejar oleh waktu, dan memacu diri kita terus menerus untuk mewujudkan rencana-rencana kita dalam rentang waktu tertentu.

Namun, pandangan ini tidak universal. Ada pandangan yang lain tentang waktu, yakni waktu sebagai lingkaran. Ia tidak lurus, dan tidak terbagi terpisah antara masa lalu, masa kini dan masa depan. Di dalam pandangan waktu sebagai lingkaran, segala sesuatu akan berulang, dan membentuk pola yang tetap. Waktu bukanlah sumber daya yang terbatas. Sebaliknya, ia tak terbatas, dan akan menciptakan dirinya sendiri berulang-ulang tanpa henti.

Martin Heidegger, filsuf Jerman di awal abad 20, menimba pemikiran dari kedua tradisi tersebut. Baginya, waktu adalah horison hidup manusia. Dalam arti ini, manusia adalah mahluk yang mampu mempertanyakan dasar dari seluruh kenyataan yang ada. Ia berada di dalam kenyataan, dan selalu hidup di dalam tiga kategori waktu yang terjadi secara bersamaan, yakni masa lalu, masa kini dan masa depan.

Jadi, ketika kita berpikir, kita secara otomatis berpikir dalam tiga waktu yang berbeda, yakni masa lalu, masa kini dan masa depan. Ketiga kategori itu selalu hidup di dalam diri kita. Pertanyaan kritisnya adalah, apakah pandangan Heidegger ini bisa dipertanggungjawabkan? Apakah masa lalu dan masa depan memiliki keajegan yang sama dengan masa kini yang sedang kita alami?

Masa lalu, Masa Kini dan Masa Depan

Secara alamiah, kita tahu, bahwa kita hidup di masa kini. Yang ada adalah masa kini. Masa lalu tidaklah sungguh ada, karena ia hanya sebentuk ingatan atas peristiwa yang tak lagi ada. Masa depan juga tidak sungguh ada, karena ia hanya terbentuk dari harapan dan bayangan semata. Jadi, jika dipikirkan secara tepat dan alamiah, yang ada hanyalah masa kini.

Namun, seringkali karena terbiasa, kita melihat masa lalu sebagai kenyataan. Kita mengingat apa yang telah lalu secara berlebihan, sehingga itu membuat kita cemas. Penyesalan dan kemarahan atas apa yang telah lalu pun muncul. Pada titik ini, kita lupa, bahwa kita memikirkan apa yang tidak ada. Kita pun akibatnya membuang-buang energi percuma, serta menciptakan penderitaan tanpa alasan untuk diri kita sendiri.

Kita juga terbiasa terbiasa berpikir tentang masa depan. Kita terpaku pada rencana dan ambisi. Kita mengira, bahwa rencana dan ambisi adalah sesuatu yang nyata. Kita pun lupa, bahwa keduanya tidaklah sungguh ada, melainkan hanya sekedar bayangan semata.

Jika yang ada adalah masa kini, maka waktu pun menjadi tidak relevan bukan? Pada titik ini, saya sepakat dengan konsep aku-waktu. Keduanya adalah satu. Makna waktu yang sejati amat tergantung pada cara berpikir yang kita gunakan dalam hidup.

Ketika kita memilih untuk dibebani masa lalu, maka masa kini akan lenyap, dan kita akan hidup sepenuhnya dalam penindasan masa lalu. Ketika kita memilih untuk dibebani oleh ambisi dan rencana masa depan, maka kita juga akan kehilangan masa kini, dan hidup dalam tegangan kecemasan terus menerus. Keduanya adalah cara berpikir yang menciptakan penderitaan, dan membuang banyak sekali energi. Namun, keduanya bisa dengan mudah dihindari.

Caranya adalah dengan menjadi alamiah. Secara alamiah, kita tahu, bahwa yang sungguh-sungguh nyata dan ada adalah masa kini. Jadi, mengapa sibuk memikirkan masa lalu dan masa depan? Lakukan apa yang terbaik disini dan saat ini, tanpa beban masa lalu, tanpa ambisi akan masa depan.

Inilah kebijaksanaan tertinggi. Ketika orang bisa mengakar pada masa kini dan sini, ia hidup dengan ketenangan batin yang dalam. Ia punya ingatan akan masa lalu, tetapi tidak dijajah olehnya. Ia punya harapan akan masa depan, tetapi tidak hidup di dalam bayang-bayangnya.

Waktu adalah aku. Aku adalah waktu. Keduanya sama dan tak terpisahkan. Pikiranku tak bisa terpisahkan dari waktu, dan waktu adalah persepsi dari pikiranku sendiri. Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana kondisi pikiranku?

Sumber: https://rumahfilsafat.com