Loading, please wait...
 

Archives by date

You are browsing the site archives by date.

 results 1 - 4 of about 4 for June, 2019 . (0.967 seconds) 

 🡩

Aku Telah Menjadikan Mengampuni dan Melupakan sebagai Makanan Pokok (2)

Komentar untuk “Inner Smile”

Dengan praktek “Inner Smile” kita belajar untuk menyampaikan “senyum” kepada seluruh organ penting di dalam tubuh kita: Senyum kepada (1) jantung; (2) paru-paru; (3) liver atau hati; (4) perut dan usus; (5) buah pinggang. Sebagai puncak, kita senyum kepada alat vital atau organ seks kita.

Inner smile punya prinsip dasar dalam kalimat sederhana saya,

Tersenyumlah kepada dunia, maka dunia akan tersenyum kepadamu

Teorinya sangat sederhana. Senyum ada dalam diri saya, bersumber dari diri saya. Dia tidak dijual-beli, tetapi dapat ditukar-balik, saya tersenyum, maka dia siapapun dia akan tersenyum kembali.

Anak kecil yang kita tidak kenal dan dia tidak mengenal kita saja, bilamana kita tersenyum, kemungkinan besar ia akan tersenyum kembali.

Apalagi organ tubuh kita sendiri, bila kita tersenyum kepadanya, pasti sekali dia akan tersenyum kembali.

Kalau organ kita sudah terbiasa kita ajarkan tersenyum, maka dunia-pun yang mengelilingi kita, mendiami kita, akan tersenyum.

Praktek “Inner Smile”

Prakteknya seperti ini.
  1. Duduklah dengan posisi tenang.
  2. Tenangkan pikiran dan hati
  3. Bawa fokus perhatian ke dalam tubuh sendiri.
  4. Arahkan pikiran ke bagian-bagian tubuh sendiri: dari rambut, kepala, telinga, mata, hidung, mulut, gigi, lengan, tangan, sampai ke ujung kaki. Secara perlahan cek mereka masing-masing.
  5. Tenangkan mulut, lepaskan tekanan yang ada di antara gigi atas dan gigi bawah. Longgarkan dagu
  6. Secara perlahan, tutup mata, sampai mata tertutup rapat.
  7. Apa-pun yang terjadi di sekeliling, biarkan mereka terjadi sesuai kejadiannya masing-masing. Kita tidak berusaha mengontrol, menilai, mengomentari apalagi mengatur kejadian-kejadian di sekitar, tetapi kita mau menerima semuanya sebagaimana adanya.
  8. Mulai-lah tersenyum. (Ingat bukan tertawa, tetapi tersenyum).
  9. Mulailah tersenyum kepada jantung.
  10. Lalu tersenyum kepada paru-paru
  11. Lalu tersenyum kepada perut dan usus
  12. Kemudian tersenyum kepada buah pinggang, (dua buah, di bagian belakang bawah)
  13. Tersenyum kepada liver atau hati, di dekat buah dada sebelah kanan atas.
  14. Tersenyum kepada organ seks Anda.
  15. Perlahan-lahan tersenyumlah kepada mereka bolak-balik, naik-turun, berulang-ulang.
  16. Dengan santai dan tenang. Lakukanlah praktek ini kapan saja anda merasa mau dan tertarik.

“Inner Smile” untuk Mengampuni dan Melupakan

Hanya dengan bersenyum kepada diri sendiri, bersenyum kepada organ-organ vital dalam tubuh kita, kita telah bersenyum kepada dunia. Dan dengan demikian, dunia pasti bersenyum kepada kita. Dan semua orang pasti tahu, pasti-lah ada kedamaian dan keceriaan di mana dunia saling bersapa dengan senyum.

Dalam dunia ini kita kenal kosmik ini ada yang makro dan ada yang mikro. Tubuh kita sendiri ialah kosmik mikro dari dunia yang diwakiliknya, yaitu dunia dan semesta alam, yang disebut kosmik makro.

Ada praktek Orbit Kosmik Makro dan Orbit Kosmik Mikro yang diajarkan tetapi saya bahas hal ini dalam situs Universal Healing Tao Sstem.

Dalam interaksi senyum antara diri sendiri dengan organ tubuh sendiri, akan tercipta suasana cinta-kasih dan saling menghargai di antara organ kita sendiri. Dengan menciptakan suasana damai di dalam organ tubuh sendiri akan mendatangkan kedamaian dan ketenangan di alam sekitar, bersama orang-orang sekitar.

Dengan bersenyum kita sudah memulai suatu proses perdamaian, netraliasi dan penjinakan atas berbagai potensi yang merusak energi di dalam keseluruhan tubuh kita.

Dengan demikian, apapun yang sedang datang dan pergi, sedang masuk dan keluar, sedang merasuk dan mengusik, semuanya akan ternetralisir sendiri.

Senyum adalah obat yang mujarab untuk menetralisir dan mengamankan semuanya.

Saat Anda marah, tersinggung, merasa tidak senang, merasa apa saja yang negatif terhadap siapapun, suami-isteri, teman, sesama, tetangga, biasakanlah diri bersenyum, yaitu pertama bersenyum kepada diri sendiri, bersenyum kepada organ tubuh sendiri.

Dari situ sudah mulai tercipta ruang untuk mengampuni dan melupakan. [bersambung …]

Aku Telah Menjadikan Mengampuni dan Melupakan sebagai Makanan Pokok (1)

Catatan Pembuka

Sejak saya menjadikan “mengampuni dan melupakan” sebagai makanan pokok setiap hari, khususnya setiap akhir hari saya, maka saya telah temukan banyak hal. Yang pertama dan utama ialah “kedamaian bathin dan jiwa”.

Kedamaian yang saya maksudkan di sini ialah “berdamai dengan diri sendiri”, bukan dengan pihak lain.

Pesan untuk selalu mengampuni dan melupakan saya dapatkan dari Grandmaster Mantak Chia dalam praktek Universal Healing Tao System (UHTS) yang saya dapatkan dari beliau. Dalam praktek utama, Grandmaster Mantak Chia mengajarkan dua praktek dasar, yaitu (1) Inner Smile; dan (2) Six Healing Sounds.

Selain Mantah Chia, saya juga telah belajar jauh sebelumnya dari ajaran Alkitab yang menyatakan kita harus mengampuni dan menyelesaikan masalah dengan saudara sesama manusia sebelum matahari terbenam dan sebelum kita mempersembahkan korban sesuatu kepada Tuhan.

Di samping itu, tulisan ini dipicu oleh ucapan Perdana Menteri Papua New Guinea Peter O’Neill sebagai pesan Tahun baru 2019, yang telah berulang-kali saya kutip di mana-mana. Sejak diucapkan oleh Peter O’Neill, persoalan mengampuni dan melupakan menjadi praktek yang saya lakukan setiap saat. Dan kini saya sudah berupaya untuk menjadikannya sebagai “makanan pokok”.

Menjadikan “mengampuni dan melupakan” sebagai “makanan pokok”, artinya tanpa itu saya tidak bisa hidup, dan oleh karena itu saya hidup harus dengan mengampuni dan melupakan, setiap saat, tanpa alasan, tanpa kompromi.

Saya bertekad menjadikan cinta-kasih yang “mengampuni dan melupakan” sebagai makanan pokok saya menjadi lebih besar, lebih berkuasa, lebih banyak, lebih nikmat daripada kebencian, kecurigaan, gosip, saling mencurigai, saling menceritakan, saling tidak percaya, dan saling mendendam.

Saya tidak bisa membayangkan sama sekali, bagaimana suatu kehidupan yang tanpa mengampuni dan tanpa melupakan apa yang telah saya ampuni. Saya yakin, seyakin-yakinnya, pertama-tama saya tidak akan pernah masuk ke dalam kerajaan Sorga, karena saya tahu persis secara pribadi, bahwa saya telah menjadi anak Allah, dan saya punya jaminan pasti masuk surga, hanya dengan modal kasih-sayang yang telah mendatangkan “pengampunan dosa” buat saya.

Ini bukanlah pilihan pikiran dan akal sehat. Rasionalisai tidak punya tempat di sini. Yang saya bicarakan ialah persoalan perasaan dan hati-burani, yang telah Tuhan tempatkan dalam diri saya, dalam jiwa yang saya kandung dalam tubuh ini.

Karena dengan mengambpuni dan melupakan, saya telah mendapatkan damai sejahtera yang sesungguhnya, yang sepenuhnya dan memuaskan. [bersamung…]

Forgiveness: Don’t go to bed without it!

Releasing anger and irritation before the sun goes down is a mercy worth ritualizing

28) Create a short end-of-day ritual to ask for (and extend) forgiveness with those you live with. “Do not let the sun set on your anger” (Eph. 4:26). — 56 Ways to Be Merciful During the Jubilee Year of Mercy

Women’s magazines are always stressing the importance of not going to bed with your makeup on. It’s true – unless removed with gentle cleansing, makeup residue left to linger overnight can attract dirt, clog pores, and eventually trigger flare-ups of inflammation and ugly blemishes.

In our everyday spiritual lives, the opposite is true. Scripture warns us against going to bed without making up. “So then,” Paul writes to the Ephesians, “putting away all falsehood, let us speak the truth to our neighbors, for we are members of one another. Be angry but do not sin; do not let the sun go down on your anger, and do not make room for the devil.” (Ephesians 4:25-27).

Spiritual advice can sometimes be complicated, but this is one teaching that makes pure and perfect common sense. The effects of not reconciling with one another – our family members, friends, coworkers, even ourselves, and especially our God – on a regular basis are much like the effects of leaving makeup on overnight. Grudges held attract the dirt of more anger and irritation. Withholding forgiveness (or stubbornly refusing to ask it from those we have wronged) clogs the pores of the soul and the arteries of the heart. The smoldering embers of anger will inevitably stir into explosive flames of rage when we least expect it, and give rise to outbreaks of sin’s ugly blemishes.

Don’t believe it? Think about the last time you took your spouse’s head off for installing the toilet paper roll facing the wrong direction.

Making up – acknowledging and forgiving and setting ourselves free of the day’s burden of aggressions, micro and macro – is more than just good spiritual and psychological hygiene. It’s a mercy, a participation in God’s merciful making up with humanity in Christ Jesus, every day until the sun shall shine no more. And as such it is an act of spiritual combat, because the devil is defeated when we make peace.

Those magazine articles about removing makeup before going to bed stress the importance of making nightly skin care a habit. If you build in the time to cleanse your skin and do it regularly for a couple of weeks, it will become routine. You will be less likely to skip the step “just this once,” because you’ve made the practice of removing makeup consciously important.

In other words, you’ve created a ritual.

This week’s suggestion for how to practice mercy in the Jubilee Yearprompts us to think about doing the same thing with making up: “Create a short end-of-day ritual to ask for (and extend) forgiveness with those you live with.” That is, don’t just have a general good intention not to go to bed mad. Act, with conscious deliberation, to clear the decks of anger each day before the lights go off.

“Creating a ritual” doesn’t have to mean composing a liturgical office, wearing special forgiveness vestments, and selecting suitable hymns. (Good luck with that last one, in any case, because getting any two Catholics to agree on what constitutes a suitable hymn is more likely to trigger an all-out war than to celebrate reconciliation!) No, the important thing is doing something that is meaningful to you and yours, over and over again, until it becomes second nature. Your ritual will depend a lot on who you are and who you live with, but here are just a few ideas to get you started:

  • Before falling asleep, hold hands with your spouse, look into each other’s eyes, and say “I’m sorry. I forgive you.”
  • When praying bedtime prayers with your children, take a minute to mention and let go of the crankiness and arguments and sulks of the day. Let kids do this with one another and with you as parents.
  • When things have been particularly stressful, invite family members to write notes to place on one another’s pillows. The message can be as simple as “Let’s make tomorrow better.” Children can draw pictures.

If you live alone, adapt these ideas to your circumstances. Sometimes that will mean calling or texting others at the end of the day to ask “Are we good?” Often it will mean finding ways to let go of the old angers that keep you isolated and lonely. Always, it will mean asking God to help you make up with yourself and with him before the sun goes down.

“Do not make room for the devil” – or the nasty pimples of rage. Say goodnight, Gracie, with grace and mercy, every night.

Source: https://aleteia.org/

Copyright © 218-2024 - Twenty Fourteen - 2014 AutoGrids 06.