Konsep Waktu dalam Filsafat dan Sains (1)

Semua orang merasakan waktu, tetapi kebanyakan tidak mempertanyakan hal itu karena mereka mengalami setiap hari dan sangat intim (Fraser, 1987: 17-22). Jika kita ingin memahami sifat waktu, maka renungkanlah pertanyaan-pertanyaan mendasar ini:
• Apakah waktu benar-benar nyata?
• Bisakah kita menghentikannya?
• Bisakah kita membalikkannya?
• Apakah aliran waktu bersifat universal, atau hal itu hanya terkait dengan pengamat?
• Kapan waktu berawal, dan apakah ia memiliki akhir?
• Apakah ada waktu objektif, atau ia hanya suatu konstruksi dari imajinasi kita?
• Apakah ada hubungan antara ruang dan waktu?
• Bagaimana struktur waktu?
• Apakah waktu itu kontinu atau diskrit?
• Apakah arti dari kata “sekarang” dan “sebentar”?
• Mengapa waktu bergerak ke masa lalu?
• Bagaimana realitas masa depan?

Pertanyaan-pertanyaan di atas menjadi subjek filsafat, fisika, dan kosmologi selama berabad-abad dengan sedikit kemajuan dalam menemukan jawabannya. Pertanyaan: “Apa itu waktu?”, tidak berbeda seperti pertanyaan: “Apa itu cinta?”; karena ia adalah sesuatu yang semua orang bisa merasakannya tapi tidak ada yang dapat memberikan definisi dengan tepat atasnya. Jika Anda mengajukan pertanyaan kepada banyak orang tentang waktu, pasti akan mendapatkan banyak jawaban. St. Augustine dalam Confessions bertanya, “Apa itu waktu?” Ketika tidak ada yang bertanya kepadanya, ia mengetahui; ketika seseorang bertanya kepadanya, ia tidak mengetahuinya.

Pemahaman mengenai waktu sangat penting dari sudut praktis di mana orang membutuhkan informasi untuk mengantisipasi peristiwa-peristiwa besar seperti banjir dan waktu panen, dan dari sudut filosofis didasarkan pada rasa ingin tahu dan cinta terhadap pengetahuan. Banyak agama dan aliran filsafat mencoba untuk menjawab pertanyaan tentang waktu. Beberapa agama dan aliran filsafat mempertimbangkan waktu sebagai lingkaran tanpa awal atau akhir, ada juga yang menganggapnya sebagai linier dengan eksistensi pada masa lalu dan masa depan yang tak berbatas, dan ada pula yang menganggapnya sebagai imajiner karena eksistensi nyata adalah gerakan atau materi fisik saja.

Konsep waktu diperlukan ketika kita bertanya tentang kronologis suatu peristiwa dan durasinya. Dan karena hidup manusia dipenuhi dengan peristiwa-peristiwa yang beragam jenisnya sehingga waktu memiliki tanda atau simbol pada semua aspek kehidupan. Beberapa contohnya seperti: proses penuaan secara biologis, ketepatan waktu dalam mekanika, arah waktu dan entropi dalam termodinamika, dan variasi waktu psikis yang dirasakan seseorang ketika menunggu sesuatu atau peristiwa. Oleh karena itu, waktu diperlukan untuk memahami realitas pada berbagai bidang yang terkait erat dengan fisika, biologi, psikologi, dan kosmologi.

Selama abad terakhir, seiring dengan konsep baru yang revolusioner dalam fisika dan kosmologi serta teknologi modern, akurasi ketepatan waktu menjadi sangat penting karena merupakan acuan bagi gerakan-gerakan yang sangat rumit—misalnya berbagai bagian mesin—karena diperlukan sistem kerja sama secara koheren. Pentingnya peristiwa waktu di Bumi dan di ruang angkasa telah disempurnakan oleh mesin yang mengukur ketepatan waktu seperti jam elektronik, jam atom, dan pulsar yang memancarkan gelombang radio pendek secara berkala dengan presisi sangat tinggi. Tetapi meskipun konsep-konsep abstrak tentang waktu seperti “perjalanan waktu” dan “kelengkungan waktu” yang dibawa oleh teori Relativitas, konsep modern kita mengenai waktu biasanya cukup praktis karena semuanya dilakukan sesuai jarum jam. Bahkan, teori fisika dan kosmologi modern telah menambahkan banyak pertanyaan dan paradoks tentang waktu daripada menjawabnya (Grunbaum, 1971, 195:230).
Sekarang kita dapat mengetahui dua aliran utama yang bertentangan secara filosofi mengenai waktu:
1. Rasionalis (realistis) yang memiliki pandangan berdasarkan pemahaman dunia fisik.
2. Idealis (dapat dikatakan irasional) berdasarkan pandangan metafisika.

Rasionalis percaya bahwa pikiran adalah kekuatan yang paling kuat dari manusia dan mampu memahami segala sesuatu di dunia, sedangkan irasionalis mempertimbangkan dunia, termasuk waktu, sebagai sesuatu di luar kemampuan pikiran. Menurut Idealis, tidak ada yang terlepas dari pikiran, termasuk waktu. Oleh karena itu, Idealis percaya bahwa waktu dikonstruk dalam pikiran dan tidak memiliki eksistensi terpisah darinya.

Konsep Waktu dalam Filsafat Yunani

Sejak masa Homer, kata Yunani chronos digunakan untuk merujuk kepada waktu. Chronos adalah dewa Yunani yang ketakutan terhadap anak-anaknya karena akan mengambil alih kerajaannya, sehingga ia memakan mereka satu persatu—seperti waktu yang membawa sesuatu menjadi eksistensi dan kemudian eksistensi tersebut kembali datang kepada waktu.

Kita sudah mengetahui dua aliran berlawanan mengenai waktu yang berbeda dengan pemikiran Plato dan Aristoteles. Plato menganggap waktu dibuat dengan dunia, sementara Aristoteles berpandangan bahwa dunia diciptakan dalam waktu yang merupakan perluasan tak terbatas dan berkesinambungan. Plato mengatakan, “Waktu muncul bersama-sama dengan surga, karena keduanya menjadi secara bersamaan” (Cornford, 1997:99).

Aristoteles percaya bahwa proposisi Plato memerlukan titik waktu sebagai awal waktu yang memiliki waktu sebelumnya. Gagasan ini tak terbayangkan bagi Aristoteles sesuai dengan pendapat Demokritus mengenai konsep waktu tak diciptakan dan mengatakan: “Jika waktu adalah gerakan abadi, maka ia juga harus abadi karena waktu adalah anggota gerak. Mayoritas filsuf, kecuali Plato, menegaskan keabadian waktu. Waktu tidak memiliki batas (awal atau akhir), dan setiap saat adalah awal dari waktu masa depan dan akhir dari masa lalu” (Lettinck, 1994: 562).
Waktu menurut Aristoteles adalah kontinum, dan selalu dikaitkan dengan gerakan, dengan demikian tidak dapat memiliki awal (Lettinck, 1994: 241-259, 361). Di sisi lain, Plato menganggap waktu sebagai gerakan melingkar dari langit (Cornford, 2004: 103), sedangkan Aristoteles mengatakan bahwa itu bukan gerakan waktu melainkan ukuran gerak (Lettinck, 1994: 351, 382, 390). Aristoteles jelas menghubungkan waktu rasional dan gerakan, tetapi di sini masalah timbul karena waktu adalah seragam, sementara beberapa gerakan ada yang cepat dan lambat. Jadi, kita mengukur gerak oleh waktu karena seragam—jika tidak demikian maka tidak dapat dikatakan sebagai ukuran. Untuk mengatasi masalah ini, Aristoteles mengambil gerakan bola surgawi sebagai referensi, dan semua gerakan lainnya beserta waktu diukur menurut gerakan ini (Badawi, 1965: 90). Di sisi lain, Aristoteles menganggap waktu sebagai khayalan karena itu adalah masa lalu atau masa depan dan keduanya tidak ada, sementara saat ini bukan bagian dari waktu karena tidak memiliki ekstensi (Lettinck, 1994: 348).

Kita akan melihat bahwa Ibn Arabi sependapat dengan pendapat Aristoteles bahwa waktu tak berujung dan ia adalah ukuran gerak, tetapi Ibn Arabi tidak menganggap waktu bersifat kontinum. Di sisi lain, Ibn Arabi setuju dengan Plato bahwa waktu diciptakan dengan dunia. Bahkan Plato menganggap waktu telah diciptakan, tetapi Aristoteles menolak pendapat ini karena ia tidak bisa membayangkan titik awal untuk dunia maupun waktu. Hanya setelah teori Relativitas Umum pada tahun 1915 lahir yang memperkenalkan ide “waktu melengkung”, bisakah kita membayangkan waktu yang terbatas tetapi kelengkungan waktu sebagai tanda memiliki awal. Dengan hal ini, kita bisa menggabungkan pandangan Plato dan Aristoteles yang berlawanan. Namun, Ibn Arabi melakukan hal tersebut tujuh abad sebelumnya, dan ia juga secara eksplisit berbicara tentang kelengkungan waktu, lama sebelum Einstein mengeluarkan teorinya.

Detik, Menit, Jam, Hari, Minggu, Bulan, Tahun, TIDAK PERNAH menjadi BARU!

Sejak pemikiran manusia “tercerahkan” di era Pencerahan, manusia mulai berpikir segala-sesuatu sebagai sebuah pergerakan dari satu titik ke titik lain, secara linear. Dari pemikiran inilah, maka muncul pandangan bahwa waktu ini bergerak dari satu titik ke titik lain, secara linear. Kita kenal teori Newtonian yang linear. Kita

Gideon Kristian: Tiga Macam Waktu Tuhan

Renungan tentang Konsep Waktu
Renungan tentang Konsep Waktu

Penulis : Gideon Kristian

Dalam membicarakan waktu Tuhan, kita bertemu dengan tiga istilah dalam Alkitab (bah. Aslinya)

1. Waktu Kronos

Yang dimaksud Kronos adalah waktu yang biasa, yang selalu ada. kronos menunjukan jangka waktu tertentu, entah itu waktu yang singkat (sekejap mata, Luk 4:5) Atau waktu yang lama (Luk 8:27; 20:9). Dengan demikian kita mengerti bahwa kata Yunani kronos dipakai berhubungan dengan jam, bulan, dan tahun. Waktu kronos adalah siklus waktu yang biasa.

2. Waktu Aion:

Kata Aion dipakai untuk menunjukan entah waktu yang lama sekali, atau waktu yang tanpa batas. Oleh sebab itu waktu aion dipakai tentang waktu ini yang mulai dengan penciptaan dan berakhir denga kedatangan Kristus yang kedua kali; atau juga tentang waktu kekekalan, yaitu waktu tanpa batas. (Matius 12:32 dunia inidan dunia yang akan datang. Yang diterjemahkan dengan kata dunia adalah aion (lih. Ef 1:21)

3. Waktu Kairos :

Kata kairos berbicara tentang periode tertentu. Kalau waktu itu sudah lewat, tidak akan kembali lagi (Roma 5:6) Oleh sebab itu waktu kairos berbicara tentang kesempatan dan momentum yang ada di waktu waktu tertentu.

Galatia 6: 10 Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman – artinya, kalau kesempatan tidak digunakan, maka waktu (kairos) akan hilang.

Kalau kita tidak cermat kita akan kehilangan kesempatan. Sebab itu kita harus memperhatikan waktu pintu terbuka dan waktu pintu tertutup. Alkitab berkata, Apabila Ia (Yesus ) membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka. (wahyu 3:7)

Ada waktunya Tuhan membuka pintu masuk bagi kita dalam sebuah kesempatan. Bila mana kita tidak masuk, pintu akan tertutup. *Pintu itu bisa sebuah kesempatan kesempatan baik yang kita miliki. Yang mungkin Cuma sekali saja. Jadi perhatikan KAIROS yang Tuhan berikan. Jadilah peka, bijaksana, berani mengambil keputusan namun tidak terburuburu. Atau anda akan menyesalinya!

Catatan saya:

Saya sadari bahwa agama pada umumnya adalah warna kehidupan modern, ciri penting dari manusia modern ialah ia “punya agama”. Tanpa agama sering secara langsung dihubungkan dengan “purba”, “adat”, “tidak modern”. Oleh karena itu konsep waktu dalam Alkitab ini mengajarkan pandangan masyarakat modern tentang “waktu”.

Sedangkan masyarakat adat (Madat), secara khsusus Madat Melanesia memiliki konsep waktu tanpa tanggal dan bulan, tanpa jam, menit dan detik. Tanpa tahun dan abad. Madat Melanesia hanya mengenal pagi, siang, sore, dan malam; kemarin, kemarin dulu, besok, dan besok lusa. Tidak mengenal minggu depan, minggu lalu. Apalagi tahun depan atau tahun lalu. Hanya mengenal barusan lalu, dulu sekali, besok-besok, nanti kapan-kapan.

Dibandingkan antara kedua pandangan ini, maka kita manusia Papua secara sepihak perlu memaknai “waktu” di era yang modern ini secara bijaksana. Cara-cara yang saya anjurkan buat diri saya sendiri ialah sebagai berikut:

  1. Pertama, saya usahakan supaya diri saya tidak terkesan dikejar waktu, atau mengejar waktu. Walaupun saya tahu tanggal dan bulan, minggu dan tahun, saya melepaskan diri dari kesan di hati dan tubuh saya, otak dan pikiran saya, kesan saya dikejar waktu atau saya mengejar waktu.
  2. Kedua, saya juga usahakan supaya saya tidak ketinggalan zaman, sehingga orang lain bisa menilai saya manusia purba yang terpaksa ada di zaman ini. Jadi, saya tetap menggunakan waktu modern, tetapi dengan cara memperlakukannya sebagai sahabat yang bersahabat, yang tidak perlu saya kejar, dan juga dia tidak perlu kejar saya. Segala sesuatu saya berikan waktu yang luas, sehingga saya tidak merasa terdesak dan terpaksa. Dengan cara ini memang sangat sulit, terutama dalam berbisnis. Oleh karena itu yang harus berubah ialah mentalitas saya, cara berpikir saya, cara respon saya berikan dari otak, pikiran dan naluri saya, saya harus perlakukan apa yang harus saya lakukan sebagai sebuah pelayanan, sebuah amanat yang harus kutanggung, bagian dari panggilan hidup. Bukan karena kewajiban, bukan karena tugas, tidak karena dipaksa, tetapi karena memang saya mau melakukannya, dan karena saya senang melakukannya. Mental saya dengan sengaja saya setting sehingga pelayanan penjualan dan pembelian yang saya lakukan dalam dunia bisnis tidak terasa seperti “saya harus”, tetapi menjadi “saya beruntung karena mendapatkan tanggungjawab melaksanakan tugas pelayanan ini”. Dalam dunia bisnis disebut “passion”, akan tetapi yang saya maksudkan di sini lebih dari itu. Walaupun bukan “passion”, saya juga membantu pikiran saya untuk selalu “gembira” dan “bersedia” melayani konsumen, karena mereka mereka membutuhkan pelayanan saya, dan terutama karena saya merasa senang melakukannya.

    Dengan kata lain, secara prinsipil saya memberitahukan kepada diri sendiri bahwa waktu ini adalah sebuah “kairos”, bukan “kronos”, yang dipersembahkan oleh Tuhan untuk saya, dalam tubuh dan kondisi hidup ini tunaikan demi kepentingan pengembangan jiwa dan rohani saya secara pribadi. Tidak ada yang diuntungkan dari apa yang saya lakukan ini, selain diri saya sendiri, dalam hidup ini dan terutama setelah saya meninggalkan tubuh dan dunia fisik ini.

  3. Waktu dengan konsep “Ainon” inilah waktu menurut pengalaman hidup manusia Melanesia. Waktu Melanesia tidak mengenal kalender, periode, era. Kita hanya mengenal sebelum lahir, setelah lahir dan sampai di situ. Tidak banyak yang membahas tentang setelah meninggal dunia. Yang orang Melanesia tahu ialah “I was here, I am here, and I will be here forever” (saya ada di sini kemarin, hari ini, besok dan selama-lamanya).

Dalam kaitannya dengan berbagai perayaan, seperti Lebaran, Natalan dan Tahun baru, HUT Kelahiran, HUT Pernikahan, HUT Kematian, dan sebagainya, yang ditentukan oleh waktu-waktu menurut konsep “waktu” masyarakat modern, maka kita sebagai orang Melanesia perlu secara bijak memiliki dan menikmati konsep waktu dan perayaan sebagaimana seharusnya.

Kita harus keluar dari pembatasan modern tentang waktu.

  • Apa artinya hari kelahiran saya?
  • Apa artinya hari kematian saya?
  • Apa artinya hari kelahiran Yesus?
  • Siapa yang menentukan hari-hari ini?
  • Waktu dan tanggal menurut siapa: China, Eropa, Jawa, Indian, Aborigine? Banyak Kalender waktu di dunia, mana yang kita anggap sebagai “waktu” yang tepat untuk kita?

Yang terpenting saya rasa kita tidak termakan oleh “waktu” yang di-setting dengan sengaja sejak era pencerahan dimulai, lewat proyek modernisasi, dengan etika religious yang mengutamakan kerja, kerja dan kerja, yang mengabaikan esensi kehidupan, yang melupakan maksud manusia hadir ke planet Bumi, hidup, dan mati.

Kita harus keluar dari lingkaran setan waktu buatan manusia. Sudah saatnya kita berdialogue langsung dengan Tuhan, Sang Pencipta, Moyang, Dewa, entah siapa yang kita agungkan dan percaya sebagai yang “maha” di atas kita, dan memiliki kerinduan dan doa seperti ini, “Ya…. saya mau memahami dan menjalani hidup saya menurut dan sesuai waktu-waktu …., bukan waktu menurut masyarakat modern, bukan waktu seperti saya pahami yang terbatas ini.”

Saya curiga berat, jawabannya kemungkinan besar “Waktu tidak ada urusan dengan saya! Itu buatan kalian manusia. Jadi, jawabannya keluar dari lingkaran setan waktu buatan manusia, waktu yang dapat dipahami otak yang tidak sanggup memahami apa itu waktu, atau memang waktu itu pernah ada?

“Waktu” dan “Ruang” adalah ciptaan Manusia modern! Pikirkan utk Hidup di luar mereka!

“Waktu” dan “Ruang” adalah ciptaan Manusia, khususnya manusia modern. Waktu dan ruang diciptakan beberapa ratus tahun lalu, pasti “dalam rangka sesuatu”, yaitu proses modernisasi.

Karena itu, untuk kembali kepada jatidiri non-modern, atau Masyarakat Adat, pertama-tama kita harus keluar dari mindset “waktu” dan “ruang”.

Saya teringat kata-kata yang biasa kita gunakan di pedalaman Tanah Papua, baik di West Papua maupun di Papua New Guinea saat ada orang mengenakan jam tangan. Biasanya kita bilang, “Jangan pakai jam, nanti kita dikejar waktu“. Ada juga bilang, “Jam pekagak ndakakugwarak?” (Apakah orang tua pakai jam untuk melahirkanmu?)

Kita tidak sadar, bahwa kalimat-kalimat ini keluar secara alamiah, dari alam bawah sadar Masyarakat Adat (madat) menanggapi proses modernisasi yang sedang terjadi. Alam bawah sadar kita sebenarnya mengatkan bahwa “waktu” dan “ruang” tidak boleh hadir dalam hidup ini, karena itu yang menyebabkan masalah buat tubuh kita, yaitu tubuh alamiah ini.

Tadi modernisasi dan waktu adalah fokus pertama. Yang kedua, dari sisi cosmos. Waktu dan ruang hanya berguna untuk tubuh-jasmani ini. Tubuh ini pertama-tama butuh tempat,  atau wadah untuk ber-ada dan ber-ekspresi. Hanya sampai ruang saja sudah cukup. Tetapi manusia-lah yang menciptakan “waktu”.

Tadinya waktu yang ada di Tanah Papua ialah “Pagi, Siang, Sore, dan Malam”, itu waktu Melanesia (Melanesian Time). Sekarang waktu modern ialah 12:00 AM (atau 00:00); 12:00PM; 18:00 (atau 06:00PM).

Sekarang ada Selamat Pagi, Selamat Siang, Selamat Sore, Selamat Petang, Selamat Malam. Dalam Madat Papua hanya ada “Wa!” itu saja. Tidak ada keterangan pagi, malam, siang.

Itu baru hitungan jam, kita belum bicara hari, minggu, bulan, tahun, abad. Maka kita tahu ada ajaran-ajaran modern tentang waktu dan tempat, tentang agama dan politik, tentang filsafat dan sains. Semua ini dikemas di dalam waktu dan tempat. Ini semua wajah modernisasi, atau masyarakat modern.

Kalau ada MADAT Papua, terutama saya, yang sudah mulai gelisah karena waktu dan tempat, karena terlambat, karena lambat dari jam makan, lambat dari jam kerja, dan sebagainya, maka sadarilah, tubuh alamiah Anda sebenarnya menolak “waktu” itu, tetapi Anda memaksakan mematuhi “waktu” karena Anda sedang dalam proses me-modern-kan alam sadar Anda.

Saat ini semua orang Papua mengirim pesan-pesan Natal dan Pesan Tahun Baru! Ini menarik, karena ini berkaitan langsung dengan “Waktu” dan “Ruang”, waktu 25 Desember dan tempat di Kandang Bethlehem, di Jerusalem yang saat ini menjadi isu kontroversial karena Donald Trump mengatakan Ibukota Israel berdasarkan Alkitab ialah Jerusalem, bukan di Tel-Aviv.

MADAT Papua yang mau merayakan dan menyampaikan Salam Natal sebenarnya dapat melakukannya kapan saja, di mana saja. Tidak harus membuat Ilustrasi salju, Father Christmas dan Bethlehem. Tidak harus tanggal 20 – 30 Desember setiap tahun. Tetapi setiap saat, dan di semua tempat.

Natal bukan sebuah ritual Winter Solstice, yaitu “waktu” pemujaan dewa yang di-Kristen-kan dalam budaya suku-suku di Eropa, yang jatuh tepat waktu bulan desember tanggal 21, yang dalam agama Kristen dijadikan tanggal 25 desember.

Natal haruslah menjadi pengalaman sehari-hari. Setiap hari raja damai haruslah hadir dalam nafas hidup kita dan dirayakan dalam keseharian kita.

Pertama-tama kita hidup berdamai dengan diri kita sendiri, kemudian kedua dengan sanak-keluarga, lalu ketiga tetangga makhluk manusia, semarga, sesuku, sebangsa, keempat dengan sesama makhluk non-manusia dan segala yang ada di sekitar kita, di dunia kita. Kita seharusnya memberi salam kepada mereka semua, lintas batas waktu dan ruang, lintas makhluk dan kaum.

Kalau ada orang Papua yang mengucapkan Salam Natal kepada keluarga-nya tetapi membenci orang Jawa yang Islam, misalnya, maka sesungguhnya Raja Damai itu tidka pernah ada dalam hidup-mu, dan Anda harus bertobat. Kalau ada orang Papua hanya mengucapkan Salam Natal di Bulan Desember saja, maka kita harus di-baptis kembali.

Lalu hal ketiga ialah persoalan tempat: di mana Orang Kristen merayakan Natal itu? Di Bethlehem? Di Yerusalem? Di Kandang yang hina? Di Gereja? Ahhh, ketahuan, kita membatasi perayaan natal ke dalam scope ruang/ tempat buatan manusia modern.

Tidak banyak orang Kristen bertanya kepada Yesus,

“Di mana Kau sebenarnya bertahun-tahun lama-nya tidak pernah hadir di Synagoge, dan biasa Kau datang tiba-tiba dan khotbah, lalu segera Kau tinggalkan Synagoge?”

Tuhan Yesus tolong saya, Roh saya katakan, Yesus akan jawab ini.

Saya tidak terbatas oleh waktu dan tempat sobat, jadi jangan batasi saya dengan Synagoge, Gereja, Katedral. Ini semua buatan tangan manusia, bukan ciptaan Tuhan. Yang diciptakan Tuhan ialah langit, bumi, air, tumbuhan, hewan, Danau, Gunung, Pohon. Karena itu ada telah dikatakan alam semesta menyatakan kemuliaan Allah. Itu sudah cukup! Kau tidak usah pusing-pusing cari muka bikin diri inti merayakan ini dan itu di dalam gedung-gedung buatanmu sendiri.

Sobat, kebanyakan waktu saya habiskan di alam semesta buatan Tuhan. Saya masuk ke Synagoge hanya dalam rangka menegur orang Farisi dan Saduki, ahli-ahli taurat dan penguasa, bukan untuk merayakan natal.

Lalu saya pikir begini, “Kalau ceritanya begini, MADAT Papua seharusnya memuji-memuliakan Tuhan di kampung, hutan rimba New Guinea, di Danau dan Lautan Pasifik yang jelas-jelas memancarkan kemuliaan Tuhan, daripada masuk ke dalam gereja yang dibangun dengan uang-uang kotor hasil korupsi para politisi Papua dan non-Papua, yang tujuannya jelas-jelas bukan untuk  memuliakan Nama Tuhan.

Jadi, MADAT Papua seharusnya merayakan natal DI LUAR dari “Waktu” dan “Tempat” yang diciptakan masyarakat modern, sehingga Tuhan benar-benar menjadi Sahabat Sejati dalam hidup kita, bukan sekedar Tuhan yang kita datangi saat-saat ada perayaan di geraja, saat-saat ada kesulitan dalam hidup saja.

Apa lagi?

Melepas tahun 2017, sudah banyak orang Papua sibuk membahasnya, menulis status, menyatakan sikap, misalnya mau berhenti merokok, berhenti mabuk-mabukan, fokus kuliah, dan sebagainya. “Waktu” menjadi fokus di sini.

Padahal, kalau Anda “KELUAR” dari “waktu” tahun 2017, 2018, 2019 dan seterusnya, maka Anda dapat berubah kapan saja, hari apa saja, di mana saja, tanpa harus menunggu tahun 2017 berakhir menurut waktu masyarakat modern.

Hello world! This is my World

Welcome to Yikwanak.com Sites. This is the first post at Yikwanak Kole Blog, and I hope to see many  things coming from this particular blog in order to help all of us become more advanced not only in modernisation process but particularly in rooting back to our own roots and ancestors.

I believe in modern building construction theory that simply says, “the more you dig into the ground, the more you can build up over the ground” If I apply this principles in our personal development, then I clearly see how important it is for each of us to be rooted into our self in order to grow bigger and higher, wider and deeper.

I have two roots as far as I can tell and I know well. The first one is my ancestral root, related to my clan and my tribe, my land and my society. This is the primary and  most important one. Then the secondary and complementary one is my root into myself, how deep I contemplate, mediate, learn and apply what I learn in my life.

 

Banyak Insan Manusia Tersiksa, bahkan Bunuh Diri Karena Salah Pikir Cinta HANYA Didapatkan karena Diberikan Orang Lain….

Inilah riwayat hidup manusia. Tragis memang! Sudah banyak menjadi korban! Walaupun begitu manusia yang katanya sebagai makhluk paling sempurna menurut agama modern itu tidak mengenal apa yang disebut dengan cinta.Manusia selama ini selalu menyangka bahwa cinta itu hanya didapatkan karena diberikan oleh orang lain. Banyak syair, banyak puisi, banyak lagu, banyak cerita dalam bentuk novel, fiksi dan non-fiksi diceritakan tentang “cinta”, “jatuh cinta”, “putus cinta”, “cinta buta”, “cinta mati”, dan sebagainya.Dalam semua cerita itu, manusia mengajarkan kepada dirinya bahwa “cinta itu hanya didapatkan dari orang lain”, kalau tidak ada orang lain, kalau tidak diberikan orang lain, maka hidup ini menjadi tak ada artinya, dan karena itu lebih baik mati saja daripada hidup tanpa cinta.Seperti saya katakan dalam catatan sebelumnya, cinta itu bukan obyek, tidak terpisah dari diri kita. Cinta itu melekat pada kita, cinta itu kehidupan itu sendiri. Kalau ada kehidupan, maka itu adalah cinta, kalau ada manusia, maka di situ ada cinta, tidak harus diberikan, dan karena itu tidak perlu dicari.Pertanyaannya,

  • Ada di mana cinta itu?
  • Kalau cinta itu adalah kehidupan itu sendiri, kehidupan yang mana maksudnya?
  • Kalau maksudnya kehidupan yang saya hidupi ini, maka di mana persisnya?

Menurut Universal Healing Tao System (UHTS) cinta itu ada dalam emosi-emosi kita: mulai dari takut, sedih, marah, gelisah, curiga, lalu ke tenang, gembira, kasih-sayang, percaya/ yakin. Caranya kita harus tahu kunci untuk bertemu dengan semua emosi ini. Dalam UHTS dikenal ada emosi negatif, dan ada emosi positif. Negatif dan positif tidak berarti baik dan tidak baik, tetapi itu berarti keseimbangan, antara lelaki-perempuan, siang-malam, kiri-kanan, negatif-positif. Maka untuk menikmati hidup ini, menurut UHTS, kita harus belajar cara-cara untuk mencari keseimbangan-keseimbangan emosi, karena dengan emosi yang seimbang, kita menjadi manusia yang sehat rohani – jasmani, menta-spiritual.Dengan cara mengolah emosi-emosi kita inilah, kita akan menemukan cinta yang sejati, yaitu unsur ilahi, sebagai potensi dan kapasitas ilahi universal yang dimiliki sejak lahir sampai selama-lamanya, dan dapat kita “tap” ke dalamnya dan menikmatinya selama roh kita bermukim dalam tubuh kita, untuk mengolahnya dan membudi-dayakannya menjadi modal hidup kita hari ini dan hari-hari tak terhitung setelah kita meninggalkan tubuh fana ini.Untuk itulah kita dalam agama modern diajarkan untuk selalu berdoa, selau merenungkan Kitab Suci, selalu tunduk dan taat kepada ajaran agama. Tujuannya untuk menjaga agar cinta sebagai unsur ilahi itu tidak ternodai, tidak tercemar, tidak terdegradasi, tetapi menjadi dibudi-dayakan, dikembang-biakkan, dan berbuah banyak, karena dia menjadi modal penting untuk hidup kita setelah kita meninggalkan tubuh yang fana ini.Cara pertama dan paling mudah yang sering saya lakukan secara sederhana ialah

  1. Tutup mata
  2. Meletakkan kedua tangan saya di dada saya
  3. Senyum kepada kedua tangan, dan kedua bilah paru-paru dan kepada jantung di tengah
  4. Bicara kepada jantung, “Halo, apakabar…. (sebut nama Anda)… dan katakan kepada-nya, I love you, You are loved, I am love!
  5. Hormati, salut, dan bila perlu bersyukur kepada Tuhan karena ini modal pemberian Tuhan.
  6. Jangan lupa, hati adalah alat untuk berkomunikasi dengan Tuhan lewat kepala, ada corong terpasang secara alamiah dari jantung ke Tuhan lewat kepala (Cakra di kepala).

Catatan: Pada saat meletakkan tangan di dada, jangan menyentuh tangan ke dada, tetapi hanya dengan jarak beberapa centimeter. Anda akan merasakan secara energi bahwa tangan yang tidak menyentuh dada secara fisik itu ternyata secara energi mereka sudah terhubung. Anda akan merasakannya, karena itu realitas alamiah.

Sumber: Facebook.com

Metafisika Misteri Ruang dan Waktu

TEORI Albert Einstein, mengatakan bahwa dalam perhitungan-perhitungan ilmiah, manusia tidak hanya berurusan dengan tinggi, lebar dan panjang; melainkan juga dengan satu dimensi lain, yaitu waktu. Hidup ini terasa lama karena manusia terikat oleh ruang dan waktu dan terikat pada pola Logika Manusia. Padahal, di dalam kontek Logika Tuhan, maka sebenarnya hidup manusia hanya “satu detik” saja.

Ketika Tuhan masih sendiri, maka ruang dan waktu belum ada. Jadi, Tuhan tak terikat oleh ruang dan waktu. Maka ketika Tuhan berfirman “kun fayakun”, maka jadilah semuanya dan mulai berproses. Tidak hanya alam semesta yang diciptakan, melainkan juga ruang dan waktu. Tuhan menciptakan alam semesta tanpa terikat oleh ruang dan waktu.

Menurut Logika Tuhan, maka konsep ciptaan Tuhan adalah sekaligus. Tidak satu persatu.Tidak menciptakan ruang ,kemudian menciptakan matahari,kemudian menciptakan bulan,kemudian menciptakan bumi,kemudian menciptakan bintang dan seterusnya. Berdasar logika ini, maka sorga dan Nabi Adam serta neraka sudah ada sejak awal penciptaannya.Itulah Logika Tuhan.

Apakah ruang itu?

Secara ilmiah, ruang adalah tempat di mana benda-benda berada. Terikat oleh panjang,lebar,tinggi dan luas. Kalau Anda berada di kamar tidur, maka kamar tidur itulah ruang. Kalau Anda di dalam gerbong kereta api, maka gerbong itulah ruang. Kalau Anda jadi astronout, maka angkasa adalah ruang.

Misteri ruang

Ada misteri logika tentang ruang. Kita sering mendengar kalimat “langit yang tak terbatas” dan “langit berkembang terus”. Kalau tak terbatas, lantas sampai di mana batas langit? Kalau langit berkembang terus, berkembang ke arah mana? Adakah langit di atas langit? Adakah ruang kosong sesudah langit? Bagaimana bentuk fisik ruang? Logika Manusia tak mampu menjawabnya sebab itu merupakan wilayah Logika Tuhan.

Apakah waktu itu?

Klau Anda berangkat dari rumah pukul 07:00 WIB dan sampai di kantor pukul 09:00 WIB, maka Anda menempuh waktu 2 jam. Itulah waktu, yaitu perpindahaan saat ke saat yang lain.

Misteri waktu

Namun, bagaimana bentuknya waktu? Bagaimana warnanya waktu? Logika Manusia tak mampu menjawabnya. Ini wilayah Logika Tuhan.

Konsekuensi ruang dan waktu

Kalau Anda meninggal pada usia 80 tahun, maka Anda akan mengatakan hidup Anda cukup lama. Namun bagi Tuhan, 80 tahun itu sama dengan “satu detik”.Tidak lama. Lama menurut manusia tidak lama menurut Tuhan.

Konsekuensi terikat oleh ruang dan waktu, maka segalanya akan mengalami proses. Dari tumbuh, berkembang menjadi mati. Dari baik menjadi tidak baik atau rusak. Dulu tampan berubah menjadi ompong peot. Dulu cantik menjadi tidak cantik.

Hidup di ruang angkasa

Itu kalau Anda hidup di bumi yang terikat oleh hukum gravitasi yang membuat proses penuaan dan kehancuran menjadi lebih cepat. Namun, jika Anda tinggal di planet yang terjauh dari bumi, di sebuah galaksi lain yang jauh dari bumi, maka ruang dan waktu mempunyai kualitas yang berbeda. Manusia bisa awet muda dan waktu berjalan terasa begitu lambat. Ketika saudara Anda di bumi telah berusia 100 tahun, maka di planet terjauh itu umur Anda baru 50 tahun atau bahkan 25 tahun.

Tidak terikat ruang dan waktu

Artinya, semakin kita menjauh dari bumi, maka kita semakin melepaskan diri dari ruang dan waktu. Dengan kecepatan cahaya, kita akan sampai ke langit terjauh. Jauh,jauh dan di luar ruang dan waktu adalah ruang dan waktu abadi yang sebenarnya tak terikat oleh ruang dan waktu. Ada yang mengatakan itulah sorga dan neraka. Dimensinya sangat berbeda dengan dimensi kehidupan di bumi. Dan Logika Manusia tak mampu menjangkaunya.

Kesimpulan

1.Dengan demikian, tidak benar bahwa Siti Hawa diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam. Sebab,Tuhan menciptakan alam semesta dan seisinya sekaligus.

2.Juga, tidak benar Tuhan menciptakan alam semesta dalam kurun waktu tujuh hari tujuh malam, sebab Tuhan menciptakan ruang dan waktu dan tak terikat oleh ruang dan waktu.

3.Bahkan, tidak benar Tuhan menciptakan manusia dari tanah, udara,api ataupun cahaya sebab Tuhan tak menciptakan sesuatu dari sesuatu yang sudah ada.

Kesimpulan khusus

1.Konsep citaan manusia yaitu dari sesuatu yang ada menjadi ada yang lain (from beingness to another beigness). Misalnya, dari kayu menjadi kursi. Dari benang menjadi kain. Dari air menjadi es. Dari ide menjadi kenyataan. Manusia tak mungkin menciptakan sesuatu dari sesuatu yang tidak ada.

2.Konsep ciptaan Tuhan yaitu dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada (from nothingness to beingness). Misalnya,dari tak ada ruang dan waktu menjadi ada ruang dan waktu. Dari tak ada manusia menjadi ada manusia. Dari tak ada Nabi Adam dan Siti Hawa menjadi ada Nabi Adam dan Siti Hawa. Dari tak ada sorga dan neraka menjadi ada sorga dan neraka. Namun, semua ciptaan Tuhan terjadi sekaligus. Tidak satu persatu.

“Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata: “Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang orang yang kena sihir.” (QS: Al Hijr 14-15)”

Jadi, hidup manusia yang katanya hidup 100 tahun menurut Logika Manusia, sebenarnya hanya “satu detik” menurut Logika Tuhan.

Sumber gambar: husnulyakin.wordpress.com

 

Hariyanto Imadha

Waktu Dalam Sains Dan Filsafat

“Apa itu Waktu ?” mungkin adalah pertanyaan paling sulit yang  bisa anda ajukan kepada seorang fisikawan atau filusuf. Jawaban dari pertanyaan tersebut mungkin dapat dijawab dengan sederhana seperti : waktu adalah apa yang diukur oleh jam, atau waktu adalah sesuatu yang dapat membuat segala sesuatu memiliki urutan. Namun mari kita berfikir lebih dalam dari itu.
Mari kita mulai dari definisi waktu dalam dunia newtonian. Dalam dunia newtonian, waktu diperlakukan sebagai sesuatu yang eksternal dan absolut. Waktu newtonian dapat diandaikan sebagai container, dimana peristiwa terjadi dalam cara yang deterministik, secara linier dan independen dari pengamat.
Kemudian muncul  Einstein. Teori relativitas khusus dan relativitas umum, keduanya mengarah pada kesimpulan bahwa waktu adalah relatif terhadap pengamat. Waktu bergantung pada tempat dan bagaimana pengamat bergerak relatif terhadap yang lain dan tidak ada sesuatu yang dinamakan waktu universal. Ruang dan waktu saling terikat dengan kecepatan cahaya c sedemikian rupa sehingga waktu “sekarang” bagi pengamat A tidak berarti waktu “sekarang” menurut pengamat B.  Gravitasi dan kecepatan cahaya secara seimbang mampu mendistorsi ruang dan waktu.
Dilasi waktu dan kontraksi panjang bukan hanya konstruksi teoritis dalam sebuah gagasan yang elegan, efek ini telah diuji berkali-kali tanpa adanya kesalahan. Dalam skala makroskopik, teori einstein telah menjadi model yang sangat baik dari realita alam semesta.
Kita telah melihat konsep waktu absolut yang bertahan selama ratusan tahun runtuh, dan waktu kini dipahami menjadi sesuatu yang sangat bergantung pada pengamat. Namun tetap saja,  waktu absolut yang diajukan newton adalah aproksimasi yang sangat baik ketika kita membatasi objek pengamatan pada kecepatan yang jauh lebih kecil dari kecepatan cahaya dan efek gravitasi yang ditimbulkan oleh masa disekitarntya sangat kecil.
Sekarang, bagaimana konsep waktu jika dilihat dari sudut pandang filosofis? Kita mepunyai sebuah teori yang disebut teori waktu A dan teori waktu B. Kedua teori ini diperkenalkan filusuf bernama John McTaggart pada awal abad 19 juga.
Teori waktu A mengatakan bahwa waktu yang real adalah waktu sekarang, masa lalu telah hilang, dan masa depan adalah sebuah distribusi kemungkinan potensial dari segala sesuatu yang dapat terjadi.  Tidak ada sesuatu yang dinamakan masa depan pasti, (sesuatu yang banyak orang menggambarkannya seperti “garis” yang telah ditentukan yang menunggu untuk terjadi), karenanya masa depan tidaklah nyata.
Dilain sisi, teori waktu B mengatakan bahwa masa lalu, masa kini dan masa depan telah ada dan sangat real. Menurut teori waktu B, perbedaan antara masa lalu, sekarang, dan masa depan hanyalah ilusi kesadaran.
Konsekuensi yang digambarkan oleh banyak fisikawan ortodoks dapat disimpulkan : baik dalam fisika newtonian atau teori relativitas, determinisme adalah sebuah fakta. Bahwa masa lalu mendetermenasi masa depan. Lebih lajut lagi, semua yang terjadi didalam big bang telah didetermenasi, termasuk anda, saya dan perilaku kita, fikiran dan perasaan. Tidak ada ruang bagi free will yang namaknya hanya berupa ilusi bila kita melihat dari sudut pandang deterministik.
Dari pandapat yang ada, apakah kita sudah cukup bisa memahami hakikat waktu ? dapatkah waktu lebih komleks dari sekedar teori A dan teori B ? atau mungkin realita adalah gabungan dari kedua ide tersebut. atau bahkan mungkin model waktu linier  bukanlah pendekatan yang tepat untuk menggambarkan realita ? kita dapat mengeksplorasi ide ini lebih lanjut dalam fisika quantum.

Reza A.A Wattimena: Aku dan Waktu

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di Jerman

Banyak orang yang hidupnya dikejar oleh waktu. Mereka membuat rencana yang detil pada hidupnya. Pada usia tertentu, misalnya, mereka sudah harus selesai kuliah. Pada usia yang lainnya, mereka sudah harus punya pacar, dan sebagainya.

Ketika rencana tidak sejalan dengan kenyataan, mereka lalu kecewa. Mereka mulai membandingkan keadaan yang mereka alami dan keadaan yang mereka rencanakan. Dari perbandingan lalu muncul kesedihan. Kesedihan menjadi akar dari depresi, stress dan berbagai penderitaan batin lainnya.

Hal ini khususnya dialami oleh banyak perempuan. Mereka membuat rencana yang detil dalam hidupya. Pada usia tertentu, mereka merasa harus sudah punya pasangan. Dan beberapa tahun berikutnya, mereka berencana untuk segera menikah.

Setelah menikah, mereka juga segera langsung berencana punya anak. Semua sudah terpeta dan terencana. Namun, sayangnya, hidup selalu berkelit dari rencana. Ketika rencana dan kenyataan tak berjalan seiring, kekecewaan dan kesedihan pun datang melanda.

Semua rencana ini biasanya lahir dari tuntutan sosial. Orang tua dan masyarakat sekitar menginginkan kita untuk hidup sesuai dengan nilai dan pola yang telah mereka buat. Kita pun kemudian melihat nilai dan pola itu sebagai bagian dari diri dan identitas kita sebagai manusia. Ketika hidup kita tidak sejalan dengan nilai dan pola yang ditetapkan masyarakat, kita lalu dianggap sebagai orang yang aneh, bahkan kriminal.

Nilai dan pola masyarakat telah kita telan menjadi nilai pribadi kita sendiri. Inilah yang disebut sebagai proses internalisasi nilai. Kita tidak lagi secara sadar melihat perbedaan antara nilai-nilai pribadi yang kita punya, dan nilai-nilai masyarakat yang ditanamkan pada kita. Ketika kita gagal mewujudkan semua ini, kita pun lalu hidup dalam penderitaan.

Semua rencana ini berpijak pada satu pandangan tentang waktu. Kita memacu diri kita untuk bisa berlari dengan waktu. Bahkan, kita pun merasa terus dikejar oleh waktu. Pertanyaan yang perlu kita pikirkan disini adalah, apa itu waktu?

Waktu dan Filsafat

Filsuf di awal abad pertengahan Eropa, yakni Agustinus, telah melihat perbedaan antara dua macam waktu, yakni waktu subyektif dan waktu obyektif. Waktu subyektif adalah waktu yang kita rasakan di dalam batin kita. Sementara, waktu obyektif adalah waktu sebagai mana tertera di dalam jam dan kalender. Ia adalah hari, jam dan tanggal yang digunakan sebagai panduan oleh banyak orang di dalam hidupya.

Waktu subyektif dan waktu obyektif berjalan dengan logika yang berbeda. Satu jam terkena macet di jalan dan satu jam bersama kekasih tercinta memiliki rasa yang amat berbeda. Secara obyektif, keduanya sama, yakni satu jam. Namun, secara subyektif, keduanya amatlah berbeda.

Di masa awal perkembangan ilmu pengetahuan modern di Eropa, pandangan tentang waktu subyektif pun disingkirkan. Yang tersisa kemudian adalah pandangan tentang waktu yang obyektif. Di sini, waktu dipandang sebagai sesuatu yang ada secara mandiri di luar diri manusia. Ia adalah bagian nyata dari alam yang bisa diukur.

Pandangan ini kemudian dikritik oleh Immanuel Kant, filsuf Pencerahan asal Jerman. Ia berpendapat, bahwa waktu adalah bagian dari akal budi manusia. Ia tidak berada di alam, melainkan di dalam pikiran manusia. Sebagai bagian dari pikiran manusia, waktu membantu manusia sampai pada pengetahuan tentang dunia.

Di dalam filsafatnya, Kant sudah menegaskan, bahwa waktu selalu terkait dengan ruang. Keduanya adalah bagian dari pikiran manusia. Pandangan ini dikembangkan selanjutnya oleh Albert Einstein. Ia melihat, bahwa waktu tidak pernah bisa dipisahkan dari ruang. Maka dari itu, ia merumuskan konsep ruang-waktu untuk menegaskan maksudnya.

Pada awal abad 20, Filsafat Barat menimba banyak sekali pemikiran dari Filsafat Timur, terutama tradisi Taoisme dan Buddhisme yang berkembang di Cina dan India. Di dalam Filsafat Timur, waktu dilihat sebagai persepsi manusia. Ia tidak bisa dipisahkan dari kedirian manusia itu sendiri.

Pandangan semacam ini sudah mengakar begitu dalam di dalam tradisi Cina dan India. Mereka melihat, bahwa waktu tak bisa dilepaskan dari pikiran manusia. Maka dari itu, bisa juga dirumuskan, bahwa waktu adalah aku. Jika Einstein melihat kaitan tak terpisahkan antara ruang-waktu, maka Filsafat Timur melihat kaitan yang tak terpisahkan antara aku-waktu.

Peradaban Eropa melihat waktu sebagai sesuatu yang linear, yakni sesuatu yang bergerak lurus. Ia terdiri dari masa lalu, masa kini dan masa depan. Ketiganya dilihat sebagai tiga hal yang berbeda, walaupun saling berhubungan. Jika masa lalu sudah lewat, maka ia sudahlah berlalu, dan tak akan bisa kembali lagi.

Pandangan ini menjadi akar dari slogan yang populer tentang waktu, bahwa waktu adalah uang. Artinya, waktu adalah sumber daya yang bisa habis dipakai. Jika kita menggunakan waktu kita secara tidak produktif, maka kita seperti membuang uang saja. Pandangan waktu sebagai sesuatu yang lurus dan terbatas layaknya sumber daya inilah yang membuat kita merasa terus dikejar oleh waktu, dan memacu diri kita terus menerus untuk mewujudkan rencana-rencana kita dalam rentang waktu tertentu.

Namun, pandangan ini tidak universal. Ada pandangan yang lain tentang waktu, yakni waktu sebagai lingkaran. Ia tidak lurus, dan tidak terbagi terpisah antara masa lalu, masa kini dan masa depan. Di dalam pandangan waktu sebagai lingkaran, segala sesuatu akan berulang, dan membentuk pola yang tetap. Waktu bukanlah sumber daya yang terbatas. Sebaliknya, ia tak terbatas, dan akan menciptakan dirinya sendiri berulang-ulang tanpa henti.

Martin Heidegger, filsuf Jerman di awal abad 20, menimba pemikiran dari kedua tradisi tersebut. Baginya, waktu adalah horison hidup manusia. Dalam arti ini, manusia adalah mahluk yang mampu mempertanyakan dasar dari seluruh kenyataan yang ada. Ia berada di dalam kenyataan, dan selalu hidup di dalam tiga kategori waktu yang terjadi secara bersamaan, yakni masa lalu, masa kini dan masa depan.

Jadi, ketika kita berpikir, kita secara otomatis berpikir dalam tiga waktu yang berbeda, yakni masa lalu, masa kini dan masa depan. Ketiga kategori itu selalu hidup di dalam diri kita. Pertanyaan kritisnya adalah, apakah pandangan Heidegger ini bisa dipertanggungjawabkan? Apakah masa lalu dan masa depan memiliki keajegan yang sama dengan masa kini yang sedang kita alami?

Masa lalu, Masa Kini dan Masa Depan

Secara alamiah, kita tahu, bahwa kita hidup di masa kini. Yang ada adalah masa kini. Masa lalu tidaklah sungguh ada, karena ia hanya sebentuk ingatan atas peristiwa yang tak lagi ada. Masa depan juga tidak sungguh ada, karena ia hanya terbentuk dari harapan dan bayangan semata. Jadi, jika dipikirkan secara tepat dan alamiah, yang ada hanyalah masa kini.

Namun, seringkali karena terbiasa, kita melihat masa lalu sebagai kenyataan. Kita mengingat apa yang telah lalu secara berlebihan, sehingga itu membuat kita cemas. Penyesalan dan kemarahan atas apa yang telah lalu pun muncul. Pada titik ini, kita lupa, bahwa kita memikirkan apa yang tidak ada. Kita pun akibatnya membuang-buang energi percuma, serta menciptakan penderitaan tanpa alasan untuk diri kita sendiri.

Kita juga terbiasa terbiasa berpikir tentang masa depan. Kita terpaku pada rencana dan ambisi. Kita mengira, bahwa rencana dan ambisi adalah sesuatu yang nyata. Kita pun lupa, bahwa keduanya tidaklah sungguh ada, melainkan hanya sekedar bayangan semata.

Jika yang ada adalah masa kini, maka waktu pun menjadi tidak relevan bukan? Pada titik ini, saya sepakat dengan konsep aku-waktu. Keduanya adalah satu. Makna waktu yang sejati amat tergantung pada cara berpikir yang kita gunakan dalam hidup.

Ketika kita memilih untuk dibebani masa lalu, maka masa kini akan lenyap, dan kita akan hidup sepenuhnya dalam penindasan masa lalu. Ketika kita memilih untuk dibebani oleh ambisi dan rencana masa depan, maka kita juga akan kehilangan masa kini, dan hidup dalam tegangan kecemasan terus menerus. Keduanya adalah cara berpikir yang menciptakan penderitaan, dan membuang banyak sekali energi. Namun, keduanya bisa dengan mudah dihindari.

Caranya adalah dengan menjadi alamiah. Secara alamiah, kita tahu, bahwa yang sungguh-sungguh nyata dan ada adalah masa kini. Jadi, mengapa sibuk memikirkan masa lalu dan masa depan? Lakukan apa yang terbaik disini dan saat ini, tanpa beban masa lalu, tanpa ambisi akan masa depan.

Inilah kebijaksanaan tertinggi. Ketika orang bisa mengakar pada masa kini dan sini, ia hidup dengan ketenangan batin yang dalam. Ia punya ingatan akan masa lalu, tetapi tidak dijajah olehnya. Ia punya harapan akan masa depan, tetapi tidak hidup di dalam bayang-bayangnya.

Waktu adalah aku. Aku adalah waktu. Keduanya sama dan tak terpisahkan. Pikiranku tak bisa terpisahkan dari waktu, dan waktu adalah persepsi dari pikiranku sendiri. Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana kondisi pikiranku?

Sumber: https://rumahfilsafat.com

Forgive and Forget

How can one earn the forgiveness of Allah and be rewarded with His Paradise? There is a way for this – and that is to forgive others. Today people call it “the general forgiveness.” and that is for every night, to forgive and forget. Apply each night at bedtime; to pardon anyone who has insulted you and has spoken ill of you. In other words, cleanse this heart of anger, envy and hostility.

How much should you give way to feelings like envy, hatred, deceit, resentment, and hostility?

By Allah, how will peace be made with this heart? If you do not forgive and forget you will be the victim of this before the punishment of the Hereafter. You’ll be the one that suffers and not the one you’re upset with, or want to take revenge on…

A man once said: “Whoever carries hostilities with him, their toe furnaces the fire, and advances it to the chest. That oven than burns you.”

We therefore need to forgive people, in the hope that Allah forgives us. He saw) said: “And when you accompany rage, then forgive and Allah loves the righteous.”

Our life cannot bear to have a hostile attitude towards others. A life of hatred towards people results in living in a (created) prison, a punishment for man. I want us, if were lucky, to earn the forgiveness and Paradise of Allah (swt). So if there is someone who has wronged you, and has misbehaved in front of you then forgive! That you show mercy towards all Muslim men and women and that you remember the rights of others that you forgot and also the rights to others you meet. If you will do this, you will experience peace and tranquility.

The Messenger of Allah (sallaAllahu ‘alayhi wasallam) was sitting with a group of the sahabah (RAA) in the masjid and he said “A man will now enter [who is] from the people of Paradise.” and a Sahabi (companion of Muhammad (saw) ) walked in. Later it happened again, and then a third time. ‘Abdullah ibn ‘Amr ibn al-‘aas (RAA) wanted to find out what was so special about this man, so he asked the man if he can stay over his house for 3 days. (He made up an excuse). The man allowed him to stay. ‘Abdullah noticed that the man didn’t do anything out of the ordinary: He didn’t fast all the time, he slept some of the night and prayed some of the night, and so on. So after the 3 days, ‘Abdullah told him the real reason why he requested to stay with him, and he asked him what it was that could be the reason why he was from the people of Jannah. The man (RA) couldn’t think of anything, but after a bit he said: “Every night, before I go to sleep, I forgive whoever has wronged me. I remove any bad feelings towards anyone from my heart.”

One of the scholars said: “When you go to bed, clean your heart – so to forgive seven times, and the eighth time with mercy.” Then say: “May Allah forgive all men. May Allah forgive those who have wronged us. May Allah guide us, and forgive those who have misbehaved. May Allah be merciful to those who have spoken ill of us. May Allah forgive us, and every other Muslim.” In other words, know the rights, so that the reward of Allah will find you and Allah (swt) treats people the way they treat His servants.

The one who forgives others and shows mercy, Allah forgives him and gives him favors, and the one who does not do this, Allah (swt) makes it difficult and troublesome for him on the Day of Judgement.

In that he (peace be upon him) said: “O Allah, the person who is entrusted of my community and shows mercy, be merciful to him. And the person who is entrusted of my community but makes it difficult for them, then make it difficult for him.”

You must therefore know that someone who does something, he is also met with it, so what you do here, you will also find there (i.e: Hereafter).

May Allah forgive us, and all Muslims. May Allah forgive us, and His servants. May Allah grant you and I the Gardens of paradise, and may He gather us together in His Paradise.

Ameen

By – Shaykh Aid al Qarni

Situs Anaknya Perempuan Yikwa