“Waktu” dan “Ruang” adalah ciptaan Manusia modern! Pikirkan utk Hidup di luar mereka!

“Waktu” dan “Ruang” adalah ciptaan Manusia, khususnya manusia modern. Waktu dan ruang diciptakan beberapa ratus tahun lalu, pasti “dalam rangka sesuatu”, yaitu proses modernisasi.

Karena itu, untuk kembali kepada jatidiri non-modern, atau Masyarakat Adat, pertama-tama kita harus keluar dari mindset “waktu” dan “ruang”.

Saya teringat kata-kata yang biasa kita gunakan di pedalaman Tanah Papua, baik di West Papua maupun di Papua New Guinea saat ada orang mengenakan jam tangan. Biasanya kita bilang, “Jangan pakai jam, nanti kita dikejar waktu“. Ada juga bilang, “Jam pekagak ndakakugwarak?” (Apakah orang tua pakai jam untuk melahirkanmu?)

Kita tidak sadar, bahwa kalimat-kalimat ini keluar secara alamiah, dari alam bawah sadar Masyarakat Adat (madat) menanggapi proses modernisasi yang sedang terjadi. Alam bawah sadar kita sebenarnya mengatkan bahwa “waktu” dan “ruang” tidak boleh hadir dalam hidup ini, karena itu yang menyebabkan masalah buat tubuh kita, yaitu tubuh alamiah ini.

Tadi modernisasi dan waktu adalah fokus pertama. Yang kedua, dari sisi cosmos. Waktu dan ruang hanya berguna untuk tubuh-jasmani ini. Tubuh ini pertama-tama butuh tempat,  atau wadah untuk ber-ada dan ber-ekspresi. Hanya sampai ruang saja sudah cukup. Tetapi manusia-lah yang menciptakan “waktu”.

Tadinya waktu yang ada di Tanah Papua ialah “Pagi, Siang, Sore, dan Malam”, itu waktu Melanesia (Melanesian Time). Sekarang waktu modern ialah 12:00 AM (atau 00:00); 12:00PM; 18:00 (atau 06:00PM).

Sekarang ada Selamat Pagi, Selamat Siang, Selamat Sore, Selamat Petang, Selamat Malam. Dalam Madat Papua hanya ada “Wa!” itu saja. Tidak ada keterangan pagi, malam, siang.

Itu baru hitungan jam, kita belum bicara hari, minggu, bulan, tahun, abad. Maka kita tahu ada ajaran-ajaran modern tentang waktu dan tempat, tentang agama dan politik, tentang filsafat dan sains. Semua ini dikemas di dalam waktu dan tempat. Ini semua wajah modernisasi, atau masyarakat modern.

Kalau ada MADAT Papua, terutama saya, yang sudah mulai gelisah karena waktu dan tempat, karena terlambat, karena lambat dari jam makan, lambat dari jam kerja, dan sebagainya, maka sadarilah, tubuh alamiah Anda sebenarnya menolak “waktu” itu, tetapi Anda memaksakan mematuhi “waktu” karena Anda sedang dalam proses me-modern-kan alam sadar Anda.

Saat ini semua orang Papua mengirim pesan-pesan Natal dan Pesan Tahun Baru! Ini menarik, karena ini berkaitan langsung dengan “Waktu” dan “Ruang”, waktu 25 Desember dan tempat di Kandang Bethlehem, di Jerusalem yang saat ini menjadi isu kontroversial karena Donald Trump mengatakan Ibukota Israel berdasarkan Alkitab ialah Jerusalem, bukan di Tel-Aviv.

MADAT Papua yang mau merayakan dan menyampaikan Salam Natal sebenarnya dapat melakukannya kapan saja, di mana saja. Tidak harus membuat Ilustrasi salju, Father Christmas dan Bethlehem. Tidak harus tanggal 20 – 30 Desember setiap tahun. Tetapi setiap saat, dan di semua tempat.

Natal bukan sebuah ritual Winter Solstice, yaitu “waktu” pemujaan dewa yang di-Kristen-kan dalam budaya suku-suku di Eropa, yang jatuh tepat waktu bulan desember tanggal 21, yang dalam agama Kristen dijadikan tanggal 25 desember.

Natal haruslah menjadi pengalaman sehari-hari. Setiap hari raja damai haruslah hadir dalam nafas hidup kita dan dirayakan dalam keseharian kita.

Pertama-tama kita hidup berdamai dengan diri kita sendiri, kemudian kedua dengan sanak-keluarga, lalu ketiga tetangga makhluk manusia, semarga, sesuku, sebangsa, keempat dengan sesama makhluk non-manusia dan segala yang ada di sekitar kita, di dunia kita. Kita seharusnya memberi salam kepada mereka semua, lintas batas waktu dan ruang, lintas makhluk dan kaum.

Kalau ada orang Papua yang mengucapkan Salam Natal kepada keluarga-nya tetapi membenci orang Jawa yang Islam, misalnya, maka sesungguhnya Raja Damai itu tidka pernah ada dalam hidup-mu, dan Anda harus bertobat. Kalau ada orang Papua hanya mengucapkan Salam Natal di Bulan Desember saja, maka kita harus di-baptis kembali.

Lalu hal ketiga ialah persoalan tempat: di mana Orang Kristen merayakan Natal itu? Di Bethlehem? Di Yerusalem? Di Kandang yang hina? Di Gereja? Ahhh, ketahuan, kita membatasi perayaan natal ke dalam scope ruang/ tempat buatan manusia modern.

Tidak banyak orang Kristen bertanya kepada Yesus,

“Di mana Kau sebenarnya bertahun-tahun lama-nya tidak pernah hadir di Synagoge, dan biasa Kau datang tiba-tiba dan khotbah, lalu segera Kau tinggalkan Synagoge?”

Tuhan Yesus tolong saya, Roh saya katakan, Yesus akan jawab ini.

Saya tidak terbatas oleh waktu dan tempat sobat, jadi jangan batasi saya dengan Synagoge, Gereja, Katedral. Ini semua buatan tangan manusia, bukan ciptaan Tuhan. Yang diciptakan Tuhan ialah langit, bumi, air, tumbuhan, hewan, Danau, Gunung, Pohon. Karena itu ada telah dikatakan alam semesta menyatakan kemuliaan Allah. Itu sudah cukup! Kau tidak usah pusing-pusing cari muka bikin diri inti merayakan ini dan itu di dalam gedung-gedung buatanmu sendiri.

Sobat, kebanyakan waktu saya habiskan di alam semesta buatan Tuhan. Saya masuk ke Synagoge hanya dalam rangka menegur orang Farisi dan Saduki, ahli-ahli taurat dan penguasa, bukan untuk merayakan natal.

Lalu saya pikir begini, “Kalau ceritanya begini, MADAT Papua seharusnya memuji-memuliakan Tuhan di kampung, hutan rimba New Guinea, di Danau dan Lautan Pasifik yang jelas-jelas memancarkan kemuliaan Tuhan, daripada masuk ke dalam gereja yang dibangun dengan uang-uang kotor hasil korupsi para politisi Papua dan non-Papua, yang tujuannya jelas-jelas bukan untuk  memuliakan Nama Tuhan.

Jadi, MADAT Papua seharusnya merayakan natal DI LUAR dari “Waktu” dan “Tempat” yang diciptakan masyarakat modern, sehingga Tuhan benar-benar menjadi Sahabat Sejati dalam hidup kita, bukan sekedar Tuhan yang kita datangi saat-saat ada perayaan di geraja, saat-saat ada kesulitan dalam hidup saja.

Apa lagi?

Melepas tahun 2017, sudah banyak orang Papua sibuk membahasnya, menulis status, menyatakan sikap, misalnya mau berhenti merokok, berhenti mabuk-mabukan, fokus kuliah, dan sebagainya. “Waktu” menjadi fokus di sini.

Padahal, kalau Anda “KELUAR” dari “waktu” tahun 2017, 2018, 2019 dan seterusnya, maka Anda dapat berubah kapan saja, hari apa saja, di mana saja, tanpa harus menunggu tahun 2017 berakhir menurut waktu masyarakat modern.

Hello world! This is my World

Welcome to Yikwanak.com Sites. This is the first post at Yikwanak Kole Blog, and I hope to see many  things coming from this particular blog in order to help all of us become more advanced not only in modernisation process but particularly in rooting back to our own roots and ancestors.

I believe in modern building construction theory that simply says, “the more you dig into the ground, the more you can build up over the ground” If I apply this principles in our personal development, then I clearly see how important it is for each of us to be rooted into our self in order to grow bigger and higher, wider and deeper.

I have two roots as far as I can tell and I know well. The first one is my ancestral root, related to my clan and my tribe, my land and my society. This is the primary and  most important one. Then the secondary and complementary one is my root into myself, how deep I contemplate, mediate, learn and apply what I learn in my life.

 

Banyak Insan Manusia Tersiksa, bahkan Bunuh Diri Karena Salah Pikir Cinta HANYA Didapatkan karena Diberikan Orang Lain….

Inilah riwayat hidup manusia. Tragis memang! Sudah banyak menjadi korban! Walaupun begitu manusia yang katanya sebagai makhluk paling sempurna menurut agama modern itu tidak mengenal apa yang disebut dengan cinta.Manusia selama ini selalu menyangka bahwa cinta itu hanya didapatkan karena diberikan oleh orang lain. Banyak syair, banyak puisi, banyak lagu, banyak cerita dalam bentuk novel, fiksi dan non-fiksi diceritakan tentang “cinta”, “jatuh cinta”, “putus cinta”, “cinta buta”, “cinta mati”, dan sebagainya.Dalam semua cerita itu, manusia mengajarkan kepada dirinya bahwa “cinta itu hanya didapatkan dari orang lain”, kalau tidak ada orang lain, kalau tidak diberikan orang lain, maka hidup ini menjadi tak ada artinya, dan karena itu lebih baik mati saja daripada hidup tanpa cinta.Seperti saya katakan dalam catatan sebelumnya, cinta itu bukan obyek, tidak terpisah dari diri kita. Cinta itu melekat pada kita, cinta itu kehidupan itu sendiri. Kalau ada kehidupan, maka itu adalah cinta, kalau ada manusia, maka di situ ada cinta, tidak harus diberikan, dan karena itu tidak perlu dicari.Pertanyaannya,

  • Ada di mana cinta itu?
  • Kalau cinta itu adalah kehidupan itu sendiri, kehidupan yang mana maksudnya?
  • Kalau maksudnya kehidupan yang saya hidupi ini, maka di mana persisnya?

Menurut Universal Healing Tao System (UHTS) cinta itu ada dalam emosi-emosi kita: mulai dari takut, sedih, marah, gelisah, curiga, lalu ke tenang, gembira, kasih-sayang, percaya/ yakin. Caranya kita harus tahu kunci untuk bertemu dengan semua emosi ini. Dalam UHTS dikenal ada emosi negatif, dan ada emosi positif. Negatif dan positif tidak berarti baik dan tidak baik, tetapi itu berarti keseimbangan, antara lelaki-perempuan, siang-malam, kiri-kanan, negatif-positif. Maka untuk menikmati hidup ini, menurut UHTS, kita harus belajar cara-cara untuk mencari keseimbangan-keseimbangan emosi, karena dengan emosi yang seimbang, kita menjadi manusia yang sehat rohani – jasmani, menta-spiritual.Dengan cara mengolah emosi-emosi kita inilah, kita akan menemukan cinta yang sejati, yaitu unsur ilahi, sebagai potensi dan kapasitas ilahi universal yang dimiliki sejak lahir sampai selama-lamanya, dan dapat kita “tap” ke dalamnya dan menikmatinya selama roh kita bermukim dalam tubuh kita, untuk mengolahnya dan membudi-dayakannya menjadi modal hidup kita hari ini dan hari-hari tak terhitung setelah kita meninggalkan tubuh fana ini.Untuk itulah kita dalam agama modern diajarkan untuk selalu berdoa, selau merenungkan Kitab Suci, selalu tunduk dan taat kepada ajaran agama. Tujuannya untuk menjaga agar cinta sebagai unsur ilahi itu tidak ternodai, tidak tercemar, tidak terdegradasi, tetapi menjadi dibudi-dayakan, dikembang-biakkan, dan berbuah banyak, karena dia menjadi modal penting untuk hidup kita setelah kita meninggalkan tubuh yang fana ini.Cara pertama dan paling mudah yang sering saya lakukan secara sederhana ialah

  1. Tutup mata
  2. Meletakkan kedua tangan saya di dada saya
  3. Senyum kepada kedua tangan, dan kedua bilah paru-paru dan kepada jantung di tengah
  4. Bicara kepada jantung, “Halo, apakabar…. (sebut nama Anda)… dan katakan kepada-nya, I love you, You are loved, I am love!
  5. Hormati, salut, dan bila perlu bersyukur kepada Tuhan karena ini modal pemberian Tuhan.
  6. Jangan lupa, hati adalah alat untuk berkomunikasi dengan Tuhan lewat kepala, ada corong terpasang secara alamiah dari jantung ke Tuhan lewat kepala (Cakra di kepala).

Catatan: Pada saat meletakkan tangan di dada, jangan menyentuh tangan ke dada, tetapi hanya dengan jarak beberapa centimeter. Anda akan merasakan secara energi bahwa tangan yang tidak menyentuh dada secara fisik itu ternyata secara energi mereka sudah terhubung. Anda akan merasakannya, karena itu realitas alamiah.

Sumber: Facebook.com

Metafisika Misteri Ruang dan Waktu

TEORI Albert Einstein, mengatakan bahwa dalam perhitungan-perhitungan ilmiah, manusia tidak hanya berurusan dengan tinggi, lebar dan panjang; melainkan juga dengan satu dimensi lain, yaitu waktu. Hidup ini terasa lama karena manusia terikat oleh ruang dan waktu dan terikat pada pola Logika Manusia. Padahal, di dalam kontek Logika Tuhan, maka sebenarnya hidup manusia hanya “satu detik” saja.

Ketika Tuhan masih sendiri, maka ruang dan waktu belum ada. Jadi, Tuhan tak terikat oleh ruang dan waktu. Maka ketika Tuhan berfirman “kun fayakun”, maka jadilah semuanya dan mulai berproses. Tidak hanya alam semesta yang diciptakan, melainkan juga ruang dan waktu. Tuhan menciptakan alam semesta tanpa terikat oleh ruang dan waktu.

Menurut Logika Tuhan, maka konsep ciptaan Tuhan adalah sekaligus. Tidak satu persatu.Tidak menciptakan ruang ,kemudian menciptakan matahari,kemudian menciptakan bulan,kemudian menciptakan bumi,kemudian menciptakan bintang dan seterusnya. Berdasar logika ini, maka sorga dan Nabi Adam serta neraka sudah ada sejak awal penciptaannya.Itulah Logika Tuhan.

Apakah ruang itu?

Secara ilmiah, ruang adalah tempat di mana benda-benda berada. Terikat oleh panjang,lebar,tinggi dan luas. Kalau Anda berada di kamar tidur, maka kamar tidur itulah ruang. Kalau Anda di dalam gerbong kereta api, maka gerbong itulah ruang. Kalau Anda jadi astronout, maka angkasa adalah ruang.

Misteri ruang

Ada misteri logika tentang ruang. Kita sering mendengar kalimat “langit yang tak terbatas” dan “langit berkembang terus”. Kalau tak terbatas, lantas sampai di mana batas langit? Kalau langit berkembang terus, berkembang ke arah mana? Adakah langit di atas langit? Adakah ruang kosong sesudah langit? Bagaimana bentuk fisik ruang? Logika Manusia tak mampu menjawabnya sebab itu merupakan wilayah Logika Tuhan.

Apakah waktu itu?

Klau Anda berangkat dari rumah pukul 07:00 WIB dan sampai di kantor pukul 09:00 WIB, maka Anda menempuh waktu 2 jam. Itulah waktu, yaitu perpindahaan saat ke saat yang lain.

Misteri waktu

Namun, bagaimana bentuknya waktu? Bagaimana warnanya waktu? Logika Manusia tak mampu menjawabnya. Ini wilayah Logika Tuhan.

Konsekuensi ruang dan waktu

Kalau Anda meninggal pada usia 80 tahun, maka Anda akan mengatakan hidup Anda cukup lama. Namun bagi Tuhan, 80 tahun itu sama dengan “satu detik”.Tidak lama. Lama menurut manusia tidak lama menurut Tuhan.

Konsekuensi terikat oleh ruang dan waktu, maka segalanya akan mengalami proses. Dari tumbuh, berkembang menjadi mati. Dari baik menjadi tidak baik atau rusak. Dulu tampan berubah menjadi ompong peot. Dulu cantik menjadi tidak cantik.

Hidup di ruang angkasa

Itu kalau Anda hidup di bumi yang terikat oleh hukum gravitasi yang membuat proses penuaan dan kehancuran menjadi lebih cepat. Namun, jika Anda tinggal di planet yang terjauh dari bumi, di sebuah galaksi lain yang jauh dari bumi, maka ruang dan waktu mempunyai kualitas yang berbeda. Manusia bisa awet muda dan waktu berjalan terasa begitu lambat. Ketika saudara Anda di bumi telah berusia 100 tahun, maka di planet terjauh itu umur Anda baru 50 tahun atau bahkan 25 tahun.

Tidak terikat ruang dan waktu

Artinya, semakin kita menjauh dari bumi, maka kita semakin melepaskan diri dari ruang dan waktu. Dengan kecepatan cahaya, kita akan sampai ke langit terjauh. Jauh,jauh dan di luar ruang dan waktu adalah ruang dan waktu abadi yang sebenarnya tak terikat oleh ruang dan waktu. Ada yang mengatakan itulah sorga dan neraka. Dimensinya sangat berbeda dengan dimensi kehidupan di bumi. Dan Logika Manusia tak mampu menjangkaunya.

Kesimpulan

1.Dengan demikian, tidak benar bahwa Siti Hawa diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam. Sebab,Tuhan menciptakan alam semesta dan seisinya sekaligus.

2.Juga, tidak benar Tuhan menciptakan alam semesta dalam kurun waktu tujuh hari tujuh malam, sebab Tuhan menciptakan ruang dan waktu dan tak terikat oleh ruang dan waktu.

3.Bahkan, tidak benar Tuhan menciptakan manusia dari tanah, udara,api ataupun cahaya sebab Tuhan tak menciptakan sesuatu dari sesuatu yang sudah ada.

Kesimpulan khusus

1.Konsep citaan manusia yaitu dari sesuatu yang ada menjadi ada yang lain (from beingness to another beigness). Misalnya, dari kayu menjadi kursi. Dari benang menjadi kain. Dari air menjadi es. Dari ide menjadi kenyataan. Manusia tak mungkin menciptakan sesuatu dari sesuatu yang tidak ada.

2.Konsep ciptaan Tuhan yaitu dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada (from nothingness to beingness). Misalnya,dari tak ada ruang dan waktu menjadi ada ruang dan waktu. Dari tak ada manusia menjadi ada manusia. Dari tak ada Nabi Adam dan Siti Hawa menjadi ada Nabi Adam dan Siti Hawa. Dari tak ada sorga dan neraka menjadi ada sorga dan neraka. Namun, semua ciptaan Tuhan terjadi sekaligus. Tidak satu persatu.

“Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata: “Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang orang yang kena sihir.” (QS: Al Hijr 14-15)”

Jadi, hidup manusia yang katanya hidup 100 tahun menurut Logika Manusia, sebenarnya hanya “satu detik” menurut Logika Tuhan.

Sumber gambar: husnulyakin.wordpress.com

 

Hariyanto Imadha

Waktu Dalam Sains Dan Filsafat

“Apa itu Waktu ?” mungkin adalah pertanyaan paling sulit yang  bisa anda ajukan kepada seorang fisikawan atau filusuf. Jawaban dari pertanyaan tersebut mungkin dapat dijawab dengan sederhana seperti : waktu adalah apa yang diukur oleh jam, atau waktu adalah sesuatu yang dapat membuat segala sesuatu memiliki urutan. Namun mari kita berfikir lebih dalam dari itu.
Mari kita mulai dari definisi waktu dalam dunia newtonian. Dalam dunia newtonian, waktu diperlakukan sebagai sesuatu yang eksternal dan absolut. Waktu newtonian dapat diandaikan sebagai container, dimana peristiwa terjadi dalam cara yang deterministik, secara linier dan independen dari pengamat.
Kemudian muncul  Einstein. Teori relativitas khusus dan relativitas umum, keduanya mengarah pada kesimpulan bahwa waktu adalah relatif terhadap pengamat. Waktu bergantung pada tempat dan bagaimana pengamat bergerak relatif terhadap yang lain dan tidak ada sesuatu yang dinamakan waktu universal. Ruang dan waktu saling terikat dengan kecepatan cahaya c sedemikian rupa sehingga waktu “sekarang” bagi pengamat A tidak berarti waktu “sekarang” menurut pengamat B.  Gravitasi dan kecepatan cahaya secara seimbang mampu mendistorsi ruang dan waktu.
Dilasi waktu dan kontraksi panjang bukan hanya konstruksi teoritis dalam sebuah gagasan yang elegan, efek ini telah diuji berkali-kali tanpa adanya kesalahan. Dalam skala makroskopik, teori einstein telah menjadi model yang sangat baik dari realita alam semesta.
Kita telah melihat konsep waktu absolut yang bertahan selama ratusan tahun runtuh, dan waktu kini dipahami menjadi sesuatu yang sangat bergantung pada pengamat. Namun tetap saja,  waktu absolut yang diajukan newton adalah aproksimasi yang sangat baik ketika kita membatasi objek pengamatan pada kecepatan yang jauh lebih kecil dari kecepatan cahaya dan efek gravitasi yang ditimbulkan oleh masa disekitarntya sangat kecil.
Sekarang, bagaimana konsep waktu jika dilihat dari sudut pandang filosofis? Kita mepunyai sebuah teori yang disebut teori waktu A dan teori waktu B. Kedua teori ini diperkenalkan filusuf bernama John McTaggart pada awal abad 19 juga.
Teori waktu A mengatakan bahwa waktu yang real adalah waktu sekarang, masa lalu telah hilang, dan masa depan adalah sebuah distribusi kemungkinan potensial dari segala sesuatu yang dapat terjadi.  Tidak ada sesuatu yang dinamakan masa depan pasti, (sesuatu yang banyak orang menggambarkannya seperti “garis” yang telah ditentukan yang menunggu untuk terjadi), karenanya masa depan tidaklah nyata.
Dilain sisi, teori waktu B mengatakan bahwa masa lalu, masa kini dan masa depan telah ada dan sangat real. Menurut teori waktu B, perbedaan antara masa lalu, sekarang, dan masa depan hanyalah ilusi kesadaran.
Konsekuensi yang digambarkan oleh banyak fisikawan ortodoks dapat disimpulkan : baik dalam fisika newtonian atau teori relativitas, determinisme adalah sebuah fakta. Bahwa masa lalu mendetermenasi masa depan. Lebih lajut lagi, semua yang terjadi didalam big bang telah didetermenasi, termasuk anda, saya dan perilaku kita, fikiran dan perasaan. Tidak ada ruang bagi free will yang namaknya hanya berupa ilusi bila kita melihat dari sudut pandang deterministik.
Dari pandapat yang ada, apakah kita sudah cukup bisa memahami hakikat waktu ? dapatkah waktu lebih komleks dari sekedar teori A dan teori B ? atau mungkin realita adalah gabungan dari kedua ide tersebut. atau bahkan mungkin model waktu linier  bukanlah pendekatan yang tepat untuk menggambarkan realita ? kita dapat mengeksplorasi ide ini lebih lanjut dalam fisika quantum.

Reza A.A Wattimena: Aku dan Waktu

Oleh Reza A.A Wattimena

Dosen di Fakultas Filsafat Unika Widya Mandala Surabaya, sedang di Jerman

Banyak orang yang hidupnya dikejar oleh waktu. Mereka membuat rencana yang detil pada hidupnya. Pada usia tertentu, misalnya, mereka sudah harus selesai kuliah. Pada usia yang lainnya, mereka sudah harus punya pacar, dan sebagainya.

Ketika rencana tidak sejalan dengan kenyataan, mereka lalu kecewa. Mereka mulai membandingkan keadaan yang mereka alami dan keadaan yang mereka rencanakan. Dari perbandingan lalu muncul kesedihan. Kesedihan menjadi akar dari depresi, stress dan berbagai penderitaan batin lainnya.

Hal ini khususnya dialami oleh banyak perempuan. Mereka membuat rencana yang detil dalam hidupya. Pada usia tertentu, mereka merasa harus sudah punya pasangan. Dan beberapa tahun berikutnya, mereka berencana untuk segera menikah.

Setelah menikah, mereka juga segera langsung berencana punya anak. Semua sudah terpeta dan terencana. Namun, sayangnya, hidup selalu berkelit dari rencana. Ketika rencana dan kenyataan tak berjalan seiring, kekecewaan dan kesedihan pun datang melanda.

Semua rencana ini biasanya lahir dari tuntutan sosial. Orang tua dan masyarakat sekitar menginginkan kita untuk hidup sesuai dengan nilai dan pola yang telah mereka buat. Kita pun kemudian melihat nilai dan pola itu sebagai bagian dari diri dan identitas kita sebagai manusia. Ketika hidup kita tidak sejalan dengan nilai dan pola yang ditetapkan masyarakat, kita lalu dianggap sebagai orang yang aneh, bahkan kriminal.

Nilai dan pola masyarakat telah kita telan menjadi nilai pribadi kita sendiri. Inilah yang disebut sebagai proses internalisasi nilai. Kita tidak lagi secara sadar melihat perbedaan antara nilai-nilai pribadi yang kita punya, dan nilai-nilai masyarakat yang ditanamkan pada kita. Ketika kita gagal mewujudkan semua ini, kita pun lalu hidup dalam penderitaan.

Semua rencana ini berpijak pada satu pandangan tentang waktu. Kita memacu diri kita untuk bisa berlari dengan waktu. Bahkan, kita pun merasa terus dikejar oleh waktu. Pertanyaan yang perlu kita pikirkan disini adalah, apa itu waktu?

Waktu dan Filsafat

Filsuf di awal abad pertengahan Eropa, yakni Agustinus, telah melihat perbedaan antara dua macam waktu, yakni waktu subyektif dan waktu obyektif. Waktu subyektif adalah waktu yang kita rasakan di dalam batin kita. Sementara, waktu obyektif adalah waktu sebagai mana tertera di dalam jam dan kalender. Ia adalah hari, jam dan tanggal yang digunakan sebagai panduan oleh banyak orang di dalam hidupya.

Waktu subyektif dan waktu obyektif berjalan dengan logika yang berbeda. Satu jam terkena macet di jalan dan satu jam bersama kekasih tercinta memiliki rasa yang amat berbeda. Secara obyektif, keduanya sama, yakni satu jam. Namun, secara subyektif, keduanya amatlah berbeda.

Di masa awal perkembangan ilmu pengetahuan modern di Eropa, pandangan tentang waktu subyektif pun disingkirkan. Yang tersisa kemudian adalah pandangan tentang waktu yang obyektif. Di sini, waktu dipandang sebagai sesuatu yang ada secara mandiri di luar diri manusia. Ia adalah bagian nyata dari alam yang bisa diukur.

Pandangan ini kemudian dikritik oleh Immanuel Kant, filsuf Pencerahan asal Jerman. Ia berpendapat, bahwa waktu adalah bagian dari akal budi manusia. Ia tidak berada di alam, melainkan di dalam pikiran manusia. Sebagai bagian dari pikiran manusia, waktu membantu manusia sampai pada pengetahuan tentang dunia.

Di dalam filsafatnya, Kant sudah menegaskan, bahwa waktu selalu terkait dengan ruang. Keduanya adalah bagian dari pikiran manusia. Pandangan ini dikembangkan selanjutnya oleh Albert Einstein. Ia melihat, bahwa waktu tidak pernah bisa dipisahkan dari ruang. Maka dari itu, ia merumuskan konsep ruang-waktu untuk menegaskan maksudnya.

Pada awal abad 20, Filsafat Barat menimba banyak sekali pemikiran dari Filsafat Timur, terutama tradisi Taoisme dan Buddhisme yang berkembang di Cina dan India. Di dalam Filsafat Timur, waktu dilihat sebagai persepsi manusia. Ia tidak bisa dipisahkan dari kedirian manusia itu sendiri.

Pandangan semacam ini sudah mengakar begitu dalam di dalam tradisi Cina dan India. Mereka melihat, bahwa waktu tak bisa dilepaskan dari pikiran manusia. Maka dari itu, bisa juga dirumuskan, bahwa waktu adalah aku. Jika Einstein melihat kaitan tak terpisahkan antara ruang-waktu, maka Filsafat Timur melihat kaitan yang tak terpisahkan antara aku-waktu.

Peradaban Eropa melihat waktu sebagai sesuatu yang linear, yakni sesuatu yang bergerak lurus. Ia terdiri dari masa lalu, masa kini dan masa depan. Ketiganya dilihat sebagai tiga hal yang berbeda, walaupun saling berhubungan. Jika masa lalu sudah lewat, maka ia sudahlah berlalu, dan tak akan bisa kembali lagi.

Pandangan ini menjadi akar dari slogan yang populer tentang waktu, bahwa waktu adalah uang. Artinya, waktu adalah sumber daya yang bisa habis dipakai. Jika kita menggunakan waktu kita secara tidak produktif, maka kita seperti membuang uang saja. Pandangan waktu sebagai sesuatu yang lurus dan terbatas layaknya sumber daya inilah yang membuat kita merasa terus dikejar oleh waktu, dan memacu diri kita terus menerus untuk mewujudkan rencana-rencana kita dalam rentang waktu tertentu.

Namun, pandangan ini tidak universal. Ada pandangan yang lain tentang waktu, yakni waktu sebagai lingkaran. Ia tidak lurus, dan tidak terbagi terpisah antara masa lalu, masa kini dan masa depan. Di dalam pandangan waktu sebagai lingkaran, segala sesuatu akan berulang, dan membentuk pola yang tetap. Waktu bukanlah sumber daya yang terbatas. Sebaliknya, ia tak terbatas, dan akan menciptakan dirinya sendiri berulang-ulang tanpa henti.

Martin Heidegger, filsuf Jerman di awal abad 20, menimba pemikiran dari kedua tradisi tersebut. Baginya, waktu adalah horison hidup manusia. Dalam arti ini, manusia adalah mahluk yang mampu mempertanyakan dasar dari seluruh kenyataan yang ada. Ia berada di dalam kenyataan, dan selalu hidup di dalam tiga kategori waktu yang terjadi secara bersamaan, yakni masa lalu, masa kini dan masa depan.

Jadi, ketika kita berpikir, kita secara otomatis berpikir dalam tiga waktu yang berbeda, yakni masa lalu, masa kini dan masa depan. Ketiga kategori itu selalu hidup di dalam diri kita. Pertanyaan kritisnya adalah, apakah pandangan Heidegger ini bisa dipertanggungjawabkan? Apakah masa lalu dan masa depan memiliki keajegan yang sama dengan masa kini yang sedang kita alami?

Masa lalu, Masa Kini dan Masa Depan

Secara alamiah, kita tahu, bahwa kita hidup di masa kini. Yang ada adalah masa kini. Masa lalu tidaklah sungguh ada, karena ia hanya sebentuk ingatan atas peristiwa yang tak lagi ada. Masa depan juga tidak sungguh ada, karena ia hanya terbentuk dari harapan dan bayangan semata. Jadi, jika dipikirkan secara tepat dan alamiah, yang ada hanyalah masa kini.

Namun, seringkali karena terbiasa, kita melihat masa lalu sebagai kenyataan. Kita mengingat apa yang telah lalu secara berlebihan, sehingga itu membuat kita cemas. Penyesalan dan kemarahan atas apa yang telah lalu pun muncul. Pada titik ini, kita lupa, bahwa kita memikirkan apa yang tidak ada. Kita pun akibatnya membuang-buang energi percuma, serta menciptakan penderitaan tanpa alasan untuk diri kita sendiri.

Kita juga terbiasa terbiasa berpikir tentang masa depan. Kita terpaku pada rencana dan ambisi. Kita mengira, bahwa rencana dan ambisi adalah sesuatu yang nyata. Kita pun lupa, bahwa keduanya tidaklah sungguh ada, melainkan hanya sekedar bayangan semata.

Jika yang ada adalah masa kini, maka waktu pun menjadi tidak relevan bukan? Pada titik ini, saya sepakat dengan konsep aku-waktu. Keduanya adalah satu. Makna waktu yang sejati amat tergantung pada cara berpikir yang kita gunakan dalam hidup.

Ketika kita memilih untuk dibebani masa lalu, maka masa kini akan lenyap, dan kita akan hidup sepenuhnya dalam penindasan masa lalu. Ketika kita memilih untuk dibebani oleh ambisi dan rencana masa depan, maka kita juga akan kehilangan masa kini, dan hidup dalam tegangan kecemasan terus menerus. Keduanya adalah cara berpikir yang menciptakan penderitaan, dan membuang banyak sekali energi. Namun, keduanya bisa dengan mudah dihindari.

Caranya adalah dengan menjadi alamiah. Secara alamiah, kita tahu, bahwa yang sungguh-sungguh nyata dan ada adalah masa kini. Jadi, mengapa sibuk memikirkan masa lalu dan masa depan? Lakukan apa yang terbaik disini dan saat ini, tanpa beban masa lalu, tanpa ambisi akan masa depan.

Inilah kebijaksanaan tertinggi. Ketika orang bisa mengakar pada masa kini dan sini, ia hidup dengan ketenangan batin yang dalam. Ia punya ingatan akan masa lalu, tetapi tidak dijajah olehnya. Ia punya harapan akan masa depan, tetapi tidak hidup di dalam bayang-bayangnya.

Waktu adalah aku. Aku adalah waktu. Keduanya sama dan tak terpisahkan. Pikiranku tak bisa terpisahkan dari waktu, dan waktu adalah persepsi dari pikiranku sendiri. Pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana kondisi pikiranku?

Sumber: https://rumahfilsafat.com

Forgive and Forget

How can one earn the forgiveness of Allah and be rewarded with His Paradise? There is a way for this – and that is to forgive others. Today people call it “the general forgiveness.” and that is for every night, to forgive and forget. Apply each night at bedtime; to pardon anyone who has insulted you and has spoken ill of you. In other words, cleanse this heart of anger, envy and hostility.

How much should you give way to feelings like envy, hatred, deceit, resentment, and hostility?

By Allah, how will peace be made with this heart? If you do not forgive and forget you will be the victim of this before the punishment of the Hereafter. You’ll be the one that suffers and not the one you’re upset with, or want to take revenge on…

A man once said: “Whoever carries hostilities with him, their toe furnaces the fire, and advances it to the chest. That oven than burns you.”

We therefore need to forgive people, in the hope that Allah forgives us. He saw) said: “And when you accompany rage, then forgive and Allah loves the righteous.”

Our life cannot bear to have a hostile attitude towards others. A life of hatred towards people results in living in a (created) prison, a punishment for man. I want us, if were lucky, to earn the forgiveness and Paradise of Allah (swt). So if there is someone who has wronged you, and has misbehaved in front of you then forgive! That you show mercy towards all Muslim men and women and that you remember the rights of others that you forgot and also the rights to others you meet. If you will do this, you will experience peace and tranquility.

The Messenger of Allah (sallaAllahu ‘alayhi wasallam) was sitting with a group of the sahabah (RAA) in the masjid and he said “A man will now enter [who is] from the people of Paradise.” and a Sahabi (companion of Muhammad (saw) ) walked in. Later it happened again, and then a third time. ‘Abdullah ibn ‘Amr ibn al-‘aas (RAA) wanted to find out what was so special about this man, so he asked the man if he can stay over his house for 3 days. (He made up an excuse). The man allowed him to stay. ‘Abdullah noticed that the man didn’t do anything out of the ordinary: He didn’t fast all the time, he slept some of the night and prayed some of the night, and so on. So after the 3 days, ‘Abdullah told him the real reason why he requested to stay with him, and he asked him what it was that could be the reason why he was from the people of Jannah. The man (RA) couldn’t think of anything, but after a bit he said: “Every night, before I go to sleep, I forgive whoever has wronged me. I remove any bad feelings towards anyone from my heart.”

One of the scholars said: “When you go to bed, clean your heart – so to forgive seven times, and the eighth time with mercy.” Then say: “May Allah forgive all men. May Allah forgive those who have wronged us. May Allah guide us, and forgive those who have misbehaved. May Allah be merciful to those who have spoken ill of us. May Allah forgive us, and every other Muslim.” In other words, know the rights, so that the reward of Allah will find you and Allah (swt) treats people the way they treat His servants.

The one who forgives others and shows mercy, Allah forgives him and gives him favors, and the one who does not do this, Allah (swt) makes it difficult and troublesome for him on the Day of Judgement.

In that he (peace be upon him) said: “O Allah, the person who is entrusted of my community and shows mercy, be merciful to him. And the person who is entrusted of my community but makes it difficult for them, then make it difficult for him.”

You must therefore know that someone who does something, he is also met with it, so what you do here, you will also find there (i.e: Hereafter).

May Allah forgive us, and all Muslims. May Allah forgive us, and His servants. May Allah grant you and I the Gardens of paradise, and may He gather us together in His Paradise.

Ameen

By – Shaykh Aid al Qarni

Filsafat (03) Hanya Manusia yang Mempunyai Waktu

Muhammad Wislan Arif

Flora dan Fauna ada yang mengetahui adanya peralihan waktu — mungkin dengan sensor mata atau sensor di daunnya, mereka merasakan ada peralihan waktu – ayam berkokok ada bias cahaya merubah lebar pupil matanya , puteri malu mengatupkan daunnya karena tidak ada lagi cahaya matahari di permukaan daunnya. Mereka bersama alunan alamiah.

Ada binatang dengan nalurinya, malam berarti saat mencari makanan — ada hewan terangsang di kegelapan malam meningkat hormon menggugah naluri seksnya, ia mendekap pasangannya. Hubungan seks nokturnal !

Codot terbang sejak senja ia mempunyai kemampuan mencari buah yang ranum walau di tengah kota yang hiruk pikuk — dan pohon yang disukainya jarang terdapat, ia mampu menemukannya. Kampret dengan melontarkan suaranya dan organ sensor di telinga menerima kembali getaran suara itu, ia menemukan serangga mangsanya. Adakah keajaiban flora atau tanaman yang luar biasa ? Ada ! (kapan-kapan ya)

Si Hasan dan Hasanah menyadari dan mempunyai “Waktu” — si Netty mengerti bahwa ia akan keluar kelas, karena menyadari jam pelajaran akan segera berakhir. Si Robert telah memperhitungkan faktor waktu untuk mengejar target penjual bulan ini – Menteri Sosial harus mengerti kapan Anggaran itu tersedia sesuai antisipasi bencana banjir. Menteri Pertahanan harus mengerti kapan Rudal TNI akan kadaluarsa tanggal/bulan/tahunnya. Camat harus mengerti kapan petani di daerahnya akan mulai musim tanam dan waktu koordinasi dengan Dinas Pertanian, masalah pupuk, masalah transportasi, masalah sarana dan prasarana. Wah masalah manusia neko-neko dengan waktu.

Makanya dalam ilmu modern waktu juga dikategorikan “Sumber Daya” . Lho, waktu bisa menjadi faktor penting untuk suksesnya program. Waktu menentukan kapan segalanya ditentukan oleh manusia modern. Tadi penjadwalan waktu, prioritas waktu , catu waktu , batas waktu, adalah untuk mengelola waktu — karena waktu adalah sumber daya !

Itu waktu untuk tujuan efisiensi dan efektifitas yang positif
Yang negatif, dari sisi filosofi — dimainkan juga oleh manusia, umpamanya — kapan Gayus diperiksa, kapan Gayus harus pergi bersembunyi untuk menyelamatkan sindikat — agar anggota sindikat punya waktu membuat alibi, menghilangkan bukti dan jejak, dan memberi kesempatan Atasan dan institusi membuat tabir asap. Hanya manusia ‘kan yang mempunyai “Kepentingan” (baca filsafat -02)

Jadi hanya manusia yang mempunyai “Budaya jadwal” — manusia mempunyai konsep jadwal. Jadwal bisa dimasukkan dalam Network Planning , bisa dimasukkan dalam Mapping untuk tujuan macam-macam kemaslahatan “kepentingan manusia”. Maka untuk tujuan diplomasi Presiden RI mengumumkan “Kematian Dulmatin” sengaja dilakukan didepan Sidang Parlemen Australia. Tentunya setelah dipastikan pihak kepolisian beberapa waktu sebelumnya. Karena apa ? Manusia Indonesia dan manusia Australia “berkepentingan” — orang Australia mati lebih kurang 200 orang kena bom Bali. Nih, telah kami tuntaskan sakit hatimu !

Beri kami bantuan yang kami perlukan. Manusia Indonesia berkepentingan untuk dibantu. Itu sumber waktu untuk tujuan diplomasi !

Wah, ajaib sekali sumber daya waktu ya ? Hanya manusia yang menyadari dan mempunyai waktu. Untuk apa saja — untuk tujuan ekonomi, pertahanan dan keamanan, teknis, perencanaan, menata jadwal politik, jadwal ketatanegaraan, suksesi kepemimpinan, suksesi warisan jabatan, wasiat untuk tahta dan harta bagi pewaris.
Dan seharusnya waktu juga direkayasa untuk tujuan “Strategi Kebudayaan”

Untuk apa ? Kebudayaan Indonesia (lama) ‘kan luhur dan bagus – bisa dijual dalam industri pariwisata. Iyaaaaa ya !

Itu mungkin hanya mampu untuk membesarkan Indonesia, mungkin. Di jaman modern pertumbuhan ekonomi dan budaya tidak cukup hanya sampai negeri itu besar. Tetapi “Budaya Masa Depan” harus mampu menjadikan Indonesia “Great” — Negeri yang Agung, agung dalam tatanan IPOLEKSOSBUD HANKAM.

Ha ?!

Jadi manusia Indonesia harus menyadari sumber daya waktunya — bukan hanya membanggakan sumber daya alam, sumber daya lain-lain yang materiil — juga sumber daya lain yang bersifat metafisis ya !
Katanya manusia berbudaya — Bangkit Indonesia-ku sadarilah dua sumber dayamu yang tersia-sia di 65 tahun merdeka ini : Sumber daya Manusia dan Sumber Daya Waktu.
Keberhasilan perekonomian Indonesia aman dari Krisis Finansial Amerika bukan karena Bail-out Bank Century, tetapi oleh karena tingkat konsumsi manusia Indonesia yang 240 juta orang, yang berbelanja di dalam negeri sepanjang waktu ini.

Bertepatan waktu dengan tetap kuatnya pertumbuhan ekonomi di Asia timur — yang dimotori Negeri Cina dengan jumlah manusia membangun dan mengkonsumsi di Cina — 1,7 Milyar manusia Cina !
Lihatlah dan palingkan muka-mu ke Cina, ke Jepang, ke Korea, ke Indo Cina, dan ke India — kemudian sadari “Waktu”-mu Indonesia-ku !

Kalau manusia Indonesia tidak ‘menyadari’ sumber daya waktunya — kita akan seperti suporter sepak bola, hanya marah dan kehilangan akal sehat. Karena mengurus sepak bola sama dengan cara mengurus negara.

Tabir asap melulu dan citra melulu (wacana Indonesia menyelenggarakan Kejuruan Dunia, wah diketawai Tokek Afrika lho) Ketinggalan waktu dan nol prestasi melulu.

Awas setelah budaya korupsi — akan ada perkembangan baru “budaya amuk massa”, yang disebabkan masyarakat tidak sabar — waktu terbuang ! Janji melulu.

Rakyat akan meniru suporter sepak bola Indonesia ( secara psikologis, tanpa disadari) — mereka akan mengamuk di kantor polisi, di ruang pengadilan, di hutan-hutan, di kawah gunung, di kantor pajak, di pasar-pasar, di kampus-kampus, di sekolah-sekolah, di pantai-pantai, dan di-mana-mana.

Jadi Bagaimana ?

Bagaimana ? Ingat hanya Manusia yang mempunyai Waktu — sadarilah ! Bagaimana menyadarinya ?

Waktu jangan dijadikan komoditi Diplomasi saja – tetapi jadikan Sumber Daya mengelola Strategi Kebudayaan !

Jangan kecewakan Suporter-mu di luar sana. Mereka menunggu dengan Sang Waktu !

(Dhalang Tukidjan berebes mili — mendengarkan Puisi “Bedebah” dibacakan Massardi. Nafas dalam-dalam, tetapi menyesak-kan, membayangkan pelarian si Gayus)

Bahasa Mengandung “Amonggar”, Jadi Berbahasa Artinya Menyuarakan “Monggar” Itu

Saya harus menggunakan “Monggar” dan “Amonggar” karena saya tidak punya kata-kata dalam bahasa Melayu versi Indonesia nntuk mengungkapkan apa yang saya maksud. Saya mau katakan “roh”, tetapi tidak, karena yang saya maksud bukan roh. Saya mau katakan “nyawa”, tetapi juga bukan. Seharusnya saya katakan “jiwa”, tetapi apa bedanya dengan “nyawa”? Akhirnya saya gunakan ‘monggar’ dan ‘amonggar’ karena saya bisa rasakan secara alam kesadaran apa artinya kata-kata ini.

Pada saat saya berhabasa Melayu versi Indonesia, saya akan lebih condong berbicara ke arah logat-logal daerah tertentu. Saat saya mencoba Melayu-Malaysia, saya akan condong ke logat lain lagi. Pada saat saya berbahasa Melayu-Indonesia dengan orang Jawa, saya akan mengeluarkan “monggar” tidak sama dengan pada saat saya bicara dengan sesama orang Papua, dan berbeda juga dengan saat saya bicara dengan sesama suku/ bahasa ibu.

Lebih jauh lagi, pada saat saya berpikir dalam bahasa Melayu-Indonesia, tanpa sadar atau tidak, tanpa diakui atau tidak, terima atau tidak, saya sebenarnya berpikir menurut logika pemilik dan pengguna bahasa itu. Saya pikir saya sedang melakukan sesuatu untuk suatu hal, tetapi sebenarnya saya sedang bermain-main di dalam “monggar” Melayu-Indonesia. Sama halnya pula, saat saya berbicara dalam bahasa Inggris, pola pikir, alur cerita, cara saya memulai kalimat dan cara saya memilih kata juga berubah total. Apa lagi saat saya berbicara atau menulis dalam bahasa ibu saya, jelas-jelas saya akan menuturkan kalimat dan memilih kata-kata yang tidak sama dengan yang saya lakukan dalam bahasa Inggris atau Indo-Melayu.

Saya juga pernah bertemu dan bercakap dengan orang Malaysia. Saya paham apa yang dia maksud. Saya juga pernah bekomunikasi dengan beberapa orang imigrasi di Malaysia, saat saya dicegat seperti saya sudah kisahkan.

Yang saya mau katakan di sini, untuk “decolonize” pemikiran atau untuk merevolusi mentalitas kita, sebenarnya yang pertama-tama bahasa kita harus merubah bahasa kita dari bahasa kedua dan ketiga ke bahasa pertama. Alasannya mudah, karena di dalam bahasa ibu itulah “ninamonggar” terletak dan terlahir, dan kita akan kembali kepada “monggar’ itu setelah kita mati. Oleh karena itu expresikan-lah diri kita dengan “monggar” itu, supaya kita kelihatan asli, jujur, transparan, apa-adanya, yaitu fiolsofi hidup orang Koteka, di pulau New Guinea.

Saya tahu dan sengaja, saya tulis ini untuk dibaca oleh orang Koteka saja, sehingga saya menghindari mengartikan kata-kata bahasa Ibu saya. Wa, wa wa!

Sumber: http://yikwanak.com/blog/2018/bahasa-mengandung-amonggar-jadi-berbahasa-artinya-menyuarakan-monggar-itu.html/

Identitas (4) ‡ amonggar, Bahasa Ibu, Indo-Melayu Length: [404] words., and modified on: December 11th, 2021.

Situs Anaknya Perempuan Yikwa