Loading, please wait...
 

 🡩

Tag Archives: konsep waktu

Hakikatnya Waktu Tidak Pernah menjadi Baru

Jadi sebenarnya tidak ada “Tahun Baru”. Alasan paling sederhana ialah bahwa “waktu” tidak pernah berlalu, waktu tidak pernah lewat, waktu tidak pernah pergi, waktu tidak pernah meninggalkan kita. Waktu selalu ada, dari kemarin, hari ini, sampai selama-lamanya.

Yang datang dan berlalu justru semua yang hidup, semua yang ada di jagatraya ini datang dan pergi. Kedatangan dan kepergian itu disaksikan oleh “waktu”, yang tidak pernah menjadi lama dan tidak pernah menjadi baru itu.

Sebenarnya juga bukanlah datang dan pergi tetapi berubah wujud, dari tidak nampak menjadi nampak, dari angin menjadi cairan, dari cairan menjadi padat, dari pada mencair lagi, dari cairan menguap menjadi uap lagi, dari padat terbakar menjadi uap lagi, kembali menjadi bibit lagi.

Maka sebenarnya yang berubah bukanlah waktu. Waktu justru menjadi penonton setia.

Waktu tidak pernah terpengaruh oleh apapun yang terjadi di muka Bumi, di dalam kehidupan siapapun, dan apapun. Dia ada, berjalan, berputar, dalam siklusnya sesuai aturan hukum alam universal yang berlaku.

Oleh karena itu, setiap manusia hari ini yang punya otak sehat, seharusnya bertanya secara akal sehat,

  • Mengapa ada waktu-waktu dibagi menurut detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, abad?
  • Mengapa ada waktu dipetak-petak menjadi hari raya dan hari baru, hari lama?
  • Mengapa hari-hari itu dirayakan?

Perihal “Waktu” dan Nasib Manusia yang Hidup “di dalam” Waktu ?

Pengantar

Catatan sebelumnya kita bicara tentang “Waktu” dan “Ruang” adalah ciptaan Manusia modern! Pikirkan untuk Hidup di luar mereka! dengan tujuan untuk melihat konsep waktu menurut Orang Asli Papua (OAP) mewakili Masyarakat Adat (MADAT) sedunia, dan waktu menurut masyarakat modern.

Ada lima hal yang sering diperhatikan dalam melihat “waktu”.

  1. Pertama apa yang membatasi waktu
  2. Kedua, apa arti waktu dalam fisika? Karena waktu dilihat sebagai sesuatu yang pasti.
  3. Maksud waktu dalam sains (ilmu pengetahuan), yaitu nalar, secara khusus manusia modern.
  4. Filsafat waktu dan
  5. Konsep waktu

Dalam artikel sebelumnya kita sudah singgung tentang konsep waktu menurut MADAT dan masyarakat modrn.

Konsep Waktu

Menurut Wikipedia.org waktu adalah

Time is the indefinite continued progress of existence and events that occur in apparently irreversible succession from the past through the present to the future.

<https://en.wikipedia.org/wiki/Time>

[Artinya: Waktu adalah kemajuan tak tentu terus-menerus dari keadaan dan kejadian yang terjadi dalam suksesi yang nampak tidak dapat dibalikkan kembali dari masa lalu melewati masakini ke masadepan.]

Sesuatu sedang berlangsung secara tak menentu, tanpa batas, tanpa akhir dan ia berlangsung terus-menerus. Berlangsung dalam eksistensi dan peristiwa. Dan eksistensi dan peristiwa itu tidak dapat dibalikkan kembali, dari kemarin, hari ini, dan hari esok.

Itu dalam pandangan modern dan barat, inilah pemikiran Newtonian, yang mengatkan bahwa proses waktu dari kemarin, hari ini dan hari esok terjadi terus-menerus, tidak dapat diulang kembali, dalam garis lurus.

Berbeda dengan itu, MADAT dan dunia non-Barat tidak melihat waktu seperti itu. Waktu adalah “keberadaan saat ini”, tidak ada kemarin, tidak ada besok. Kami ada! saat ini! Titik!

Ada yang melihat malahan waktu dia berputar bolak-balik, dari kemarin, hari ini dan besok, dia berputar. Sama seperti planet Bumi adalah bundar, sesungguhnya waktu berjalan dalam sebuah proses siklus, dan ia kembali lagi ke awal, dan kembali lagi ke awal, dan kembali lagi ke awal, tidak berakhir.

Hari ini tanggal 31 Desember 2018, dan besok adalah tanggal 1 Januari 2019. Dan tanggal 31 Desember 2018 itu tidak akan pernah berulang kembali, tidak pernah terkena siklus lagi. Itu pandangan modern.

Itu sebabnya Tahun Baru dianggap sebagai sesuatu yang sangat berarti. Kita dipaksa untuk berbuat banyak hal, misalnya membuat resolusi-resolusi, mengevaluasi peri kehidupan kita dalam berbagai aspek, kalau pengusaha mengeluarkan keputusan-keputusan penting untuk usaha, kalau di dalam gereja biasanya ada pengakuan-pengakuan dosa dan resolusi-resolusi yang dibuat untuk tahun baru nanti.

Karena waktu dianggap TIDAK AKAN PERNAH DATANG KEMBALI, maka pelepasan tahun yang sedang berjalan menjadi sangat vital, dan resolusi menjadi sangat penting.

Hidup di Dalam Waktu = Budak Waktu

Pertanda pertama manusia hari ini yang ada “di dalam waktu” ialah dia punya kalender di dinding, atau di HandPhone, atau di Kompuernya, dan bukan itu saja, dia sering mengecek “waktu” itu sendiri.

Ada yang mengenakan arloji tangan, walaupun sudah punya handphone dan laptop yang menggunakan waktu. Dan pada saat bicara, berjalan, selalu melihat-lihat ke “waktu” yang ada di tangan.

Selain itu, orang yang hidup “di dalam waktu” memiliki jadwal kerja yang jelas. Pagi, siang, sore, malam; Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu; Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember. Ada yang lebih ketat lagi, semua diator menurut jam dan bahkan menit.

Orang seperti ini akan terlihat gelisah dalam hidup. Hidup mereka penuh dengan beban dan stress. Mereka terlihat selalu dikejar-kejar oleh sesuatu, saya tidak menganggap sedang mengejar sesuatu. Mereka mengira mereka mengejar waktu, tetapi sebenarnya bukan, mereka justru dikejar oleh waktu.

Bukan sekedar dikejar, mereka telah menjadi hamba dan budak dari “waktu”. Mereka menjadi tahanan dari “waktu”. Mereka menjadi “terpenjara” oleh konsep waktu.

Jangan heran, di mana ada masyarakat modern, di situ pasti ada Rumah Sakit Jiwa (disingkat RSJ). Di mana ada masyarakat modern, pasti penyakit stress dan depresi, sampai bunuh diri. Pasti ada banyak orang “gila” yang kehilangan keseimbangan antara emosi, nalar dan nurani sehingga mereka menjadi “sampah” masyarakat.

Budak Waktu Memperbudak Manusia Lain

Dampak lanjutan dari manusia-manusia “budak waktu” ialah mereka dikejar dan diperintah oleh waktu, sehingga mereka harus melakukan sesuatu, tanpa disadari, sebenarnya apa-apa yang dilakukan itu merupakan langkah manusia-manusia budak dimaksud untuk menyelamatkan diri atau memerdekakan diri dari perbudakan waktu.

Mereka menyembah kepada “waktu”. Mereka menjadi budak “waktu”. Mereka mengira mereka maju menjadi modern, menjadi makmur, menjadi kaya-raya dan bahagia. Ternyata tidak! Benar! Ternyata tidak! Kekayaan dalma bentuk harta benda dan uang ternyata tidak mendatangkan apa yang dijanjikan oleh “waktu”, yaitu “kebahagiaan hidup”.

Kata mereka, “Time is money“, dan karena itu “waktu” digunakan, atau “waktu memeras mereka semampu-mampunya sampai manusia menjadi mampus dipermainkan oleh waktu”, dan janji dari perbudakannya itu katanya adalah “money”. Dikira “money” dapat membeli “kebahagiaan”. Abraham Maslow mengatakan begitu ada “mass production” dan “mass production” maka ada kebahagiaan dan realisasi diri masng-masing orang. Itulah tujuan akhir dari keberadaan kita dalam kehidupan dalam tubuh fisik ini.

Dapatkan Kita Lihat “Kebahagiaan Hidup” dari Manusia “Budak Waktu”?

Kalau secara jujur kita lihat per tanggal 31 Desember 2018, maka tanpa ragu-ragu kita apat membantah Pak Maslow dan mengatakan kepada dia, “Kok hal itu tidak terbukti dalam hidup daya?”

Definisi “hidup bahagia” seperti yang digambarkan dalam ilmu-ilmu sosial, psikologi, filsafat justru lebih nyata dan dialami di tengah-tengah MADAT. Justru di masyarakat modern terlihat “hidup bahagia” itu menjadi sangat semu. “Kebahagiaan” masyarakat modern jadinya mirip dengan berfoya-foya, berpesta-pora, tampil seolah-olah kaya. Saat kita tatap di mata mereka, karena mereka adalah manusia sama dengan kita, akan nampak jelas “TIDAK ADA KEHAHAGIAAN” terpancar dari wajah mereka.

Apa solusinya?

Solusinya hanya satu, yaitu “Keluar”-lah dari “waktu”, karena perbudakan dimulai oleh, untuk dan karena “waktu”. Dan pada saat kita keluar dari “waktu” maka kita akan menjadi manusia yang benar-benar merdeka secara hakiki.

[Catatan berikut berjudul “Bagaimana dan Siapa yang Hidup di Luar Waktu”]

 ‡ , konsep waktu, perbudakan Length: [1382] words.

Kalender sebagai Cara Manusia Memahami dan Memanfaatkan Waktu

Setiap saat ada peringatan-peringatan dirayakan umat manusia di seluruh dunia, dalam berbagai budaya yang menciptakan waktu (kalender).

Menurut catatan “Ancient Near East, kalender Egyptian dan Sumerian merupakan yang tertua, disusul dengan Babylonian calendar,  Zoroastrian calendar dan juga Hebrew calendar. Kalender yang kita gunakan sebagai kalender umum atau kalender barat atau kalender Masehi ialah  Gregorian calendar, yang diperkenalkan pada tahun 1582

Siklus waktu dapat disinkronisasi dengan fenomena periodik:

Kalender-kalender ini disusun didasarkan atas budaya manusia yang memahami pergerakan dan fenomena alamiah yang terjadi menurut budaya masing-masing kelompok manusia.

“Waktu” dipatok dengan tujuan, baik tujuan yang diakui maupun tujuan yang tidak diakui, bahkan tujuan yang tidak disadari. Waktu sebagai bagian dari budaya manusia. Sebelumnya saat budaya manusia belum kompleks manusia tidak mengenal waktu. Waktu yang dikenal pada umumnya sama dengan yang ada dalam budaya Melanesia saat ini, yaitu waktu pagi, siang, sore dan waktu malam, tidak ada tanggal, tidak ada minggu, bulan, tahun semuanya tidak ada. Begitu budaya manusia menjadi semakin kompleks, tatanan sosial menjadi semakin rumit, manusia mulai berinteraksi dalam kelompok yang lebih besar, maka muncul kebutuhan untuk mengelola diri manusia sebagai kelompok.

Bersamaan dengan itu terjadi konsentrasi kegiatan, konsentrasi kekuasaan dan konsentrasi kepemimpinan dalam pemerintahan. Ada sejumlah orang mengkhususkan diri untuk mengelola pikiran dan energi untuk menguasai, menyisahkan yang lain sebagai yang dikuasai. Lama-kelamaan tenaga, kekuatan dan kebutuhan masyarakat umum harus dikelola, yaitu dikelola untuk mendatangkan keuntungan bagi para penguasa, pengendali pikiran dan kehidupan sosial-politik.

Kehidupan menjadi semakin kompleks, dan butuh alat untuk mengendalikannya. Maka proses pe-waktu-an muncul terutama untuk mengendalikan pemanfaatan “sumberdaya” manusia dalam mengelola “sumberdaya” alam. Alam dan manusia menjadi “sumberdaya”.Bahkan waktu ikut menjadi “sumberdaya” untuk dimanfaatkan. Bahkan sampai ada ungkapan “Waktu adalah uang” telah merajai pikiran dan perbuatan manusia sampai hari ini. Tidak ada seorangpun yang membayangkan kapan kerajaan “duit” akan runtuh dalam sejarah kehidupan manusia.

Melanesia dan Waktu

Manusia dunia barat ialah manusia yang telah diperbudak dan budak abadi dari si “waktu”. Mereka selalu dikejar oleh waktu dan juga selalu mengejar waktu. Di sebagian besar Asia, waktu adalah karet, bisa dirarik, bisa diputar, bisa dilupakan. Di Melanesia waktu berhenti total, karena konsep dan realitas waktu di Melanesia kembali kepada konsep awal, “no time zone”, dari sisi jam, hari, minggu, bulan, tanggal, tahun. Yang ada hanya pagi, siang, sore, dan malam.

Itulah sebabnya pada hari ini sudah umum dikenal beberapa istilah berkaitan dengan waktu

  1. Waktu internasional artinya waktu yang berlaku di seluruh budaya modern
  2. Waktu karet, yaitu waktu yang dimanfaatkan di sebagian besar negara-negara Asia dan Afrika
  3. Waktu Melanesia, yaitu ketika waktu berhenti total.

Sekarang pilihan kita untuk merenungkan dan memutuskan, waktu mana yang cocok dan bermanfaat untuk kita. Saya harap tidak ada dari kita yang mengatakan konsep “waktu” ini yang lebih baik daripada konsep “waktu” itu. Saya harap kita menerima semua konsep tentang waktu sesuai dengan konteks sosial-budaya dan geografis di mana kami berada.

Dalam konteks ini, kita perlu berpikir kembali apa artinya “perayaan”, “ulang tahun”, “peringatan”,  dan “pekerjaan” yang dikaitkan dengan waktu. HUT kelahiran, HUT pernikahan, HUT kemerdekaan, jam kerja dan waktu libur, dan sebagainya perlu dipikir ulang menurut konsep waktu tadi.

Gideon Kristian: Tiga Macam Waktu Tuhan

Renungan tentang Konsep Waktu
Renungan tentang Konsep Waktu

Penulis : Gideon Kristian

Dalam membicarakan waktu Tuhan, kita bertemu dengan tiga istilah dalam Alkitab (bah. Aslinya)

1. Waktu Kronos

Yang dimaksud Kronos adalah waktu yang biasa, yang selalu ada. kronos menunjukan jangka waktu tertentu, entah itu waktu yang singkat (sekejap mata, Luk 4:5) Atau waktu yang lama (Luk 8:27; 20:9). Dengan demikian kita mengerti bahwa kata Yunani kronos dipakai berhubungan dengan jam, bulan, dan tahun. Waktu kronos adalah siklus waktu yang biasa.

2. Waktu Aion:

Kata Aion dipakai untuk menunjukan entah waktu yang lama sekali, atau waktu yang tanpa batas. Oleh sebab itu waktu aion dipakai tentang waktu ini yang mulai dengan penciptaan dan berakhir denga kedatangan Kristus yang kedua kali; atau juga tentang waktu kekekalan, yaitu waktu tanpa batas. (Matius 12:32 dunia inidan dunia yang akan datang. Yang diterjemahkan dengan kata dunia adalah aion (lih. Ef 1:21)

3. Waktu Kairos :

Kata kairos berbicara tentang periode tertentu. Kalau waktu itu sudah lewat, tidak akan kembali lagi (Roma 5:6) Oleh sebab itu waktu kairos berbicara tentang kesempatan dan momentum yang ada di waktu waktu tertentu.

Galatia 6: 10 Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman – artinya, kalau kesempatan tidak digunakan, maka waktu (kairos) akan hilang.

Kalau kita tidak cermat kita akan kehilangan kesempatan. Sebab itu kita harus memperhatikan waktu pintu terbuka dan waktu pintu tertutup. Alkitab berkata, Apabila Ia (Yesus ) membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka. (wahyu 3:7)

Ada waktunya Tuhan membuka pintu masuk bagi kita dalam sebuah kesempatan. Bila mana kita tidak masuk, pintu akan tertutup. *Pintu itu bisa sebuah kesempatan kesempatan baik yang kita miliki. Yang mungkin Cuma sekali saja. Jadi perhatikan KAIROS yang Tuhan berikan. Jadilah peka, bijaksana, berani mengambil keputusan namun tidak terburuburu. Atau anda akan menyesalinya!

Catatan saya:

Saya sadari bahwa agama pada umumnya adalah warna kehidupan modern, ciri penting dari manusia modern ialah ia “punya agama”. Tanpa agama sering secara langsung dihubungkan dengan “purba”, “adat”, “tidak modern”. Oleh karena itu konsep waktu dalam Alkitab ini mengajarkan pandangan masyarakat modern tentang “waktu”.

Sedangkan masyarakat adat (Madat), secara khsusus Madat Melanesia memiliki konsep waktu tanpa tanggal dan bulan, tanpa jam, menit dan detik. Tanpa tahun dan abad. Madat Melanesia hanya mengenal pagi, siang, sore, dan malam; kemarin, kemarin dulu, besok, dan besok lusa. Tidak mengenal minggu depan, minggu lalu. Apalagi tahun depan atau tahun lalu. Hanya mengenal barusan lalu, dulu sekali, besok-besok, nanti kapan-kapan.

Dibandingkan antara kedua pandangan ini, maka kita manusia Papua secara sepihak perlu memaknai “waktu” di era yang modern ini secara bijaksana. Cara-cara yang saya anjurkan buat diri saya sendiri ialah sebagai berikut:

  1. Pertama, saya usahakan supaya diri saya tidak terkesan dikejar waktu, atau mengejar waktu. Walaupun saya tahu tanggal dan bulan, minggu dan tahun, saya melepaskan diri dari kesan di hati dan tubuh saya, otak dan pikiran saya, kesan saya dikejar waktu atau saya mengejar waktu.
  2. Kedua, saya juga usahakan supaya saya tidak ketinggalan zaman, sehingga orang lain bisa menilai saya manusia purba yang terpaksa ada di zaman ini. Jadi, saya tetap menggunakan waktu modern, tetapi dengan cara memperlakukannya sebagai sahabat yang bersahabat, yang tidak perlu saya kejar, dan juga dia tidak perlu kejar saya. Segala sesuatu saya berikan waktu yang luas, sehingga saya tidak merasa terdesak dan terpaksa. Dengan cara ini memang sangat sulit, terutama dalam berbisnis. Oleh karena itu yang harus berubah ialah mentalitas saya, cara berpikir saya, cara respon saya berikan dari otak, pikiran dan naluri saya, saya harus perlakukan apa yang harus saya lakukan sebagai sebuah pelayanan, sebuah amanat yang harus kutanggung, bagian dari panggilan hidup. Bukan karena kewajiban, bukan karena tugas, tidak karena dipaksa, tetapi karena memang saya mau melakukannya, dan karena saya senang melakukannya. Mental saya dengan sengaja saya setting sehingga pelayanan penjualan dan pembelian yang saya lakukan dalam dunia bisnis tidak terasa seperti “saya harus”, tetapi menjadi “saya beruntung karena mendapatkan tanggungjawab melaksanakan tugas pelayanan ini”. Dalam dunia bisnis disebut “passion”, akan tetapi yang saya maksudkan di sini lebih dari itu. Walaupun bukan “passion”, saya juga membantu pikiran saya untuk selalu “gembira” dan “bersedia” melayani konsumen, karena mereka mereka membutuhkan pelayanan saya, dan terutama karena saya merasa senang melakukannya.

    Dengan kata lain, secara prinsipil saya memberitahukan kepada diri sendiri bahwa waktu ini adalah sebuah “kairos”, bukan “kronos”, yang dipersembahkan oleh Tuhan untuk saya, dalam tubuh dan kondisi hidup ini tunaikan demi kepentingan pengembangan jiwa dan rohani saya secara pribadi. Tidak ada yang diuntungkan dari apa yang saya lakukan ini, selain diri saya sendiri, dalam hidup ini dan terutama setelah saya meninggalkan tubuh dan dunia fisik ini.

  3. Waktu dengan konsep “Ainon” inilah waktu menurut pengalaman hidup manusia Melanesia. Waktu Melanesia tidak mengenal kalender, periode, era. Kita hanya mengenal sebelum lahir, setelah lahir dan sampai di situ. Tidak banyak yang membahas tentang setelah meninggal dunia. Yang orang Melanesia tahu ialah “I was here, I am here, and I will be here forever” (saya ada di sini kemarin, hari ini, besok dan selama-lamanya).

Dalam kaitannya dengan berbagai perayaan, seperti Lebaran, Natalan dan Tahun baru, HUT Kelahiran, HUT Pernikahan, HUT Kematian, dan sebagainya, yang ditentukan oleh waktu-waktu menurut konsep “waktu” masyarakat modern, maka kita sebagai orang Melanesia perlu secara bijak memiliki dan menikmati konsep waktu dan perayaan sebagaimana seharusnya.

Kita harus keluar dari pembatasan modern tentang waktu.

  • Apa artinya hari kelahiran saya?
  • Apa artinya hari kematian saya?
  • Apa artinya hari kelahiran Yesus?
  • Siapa yang menentukan hari-hari ini?
  • Waktu dan tanggal menurut siapa: China, Eropa, Jawa, Indian, Aborigine? Banyak Kalender waktu di dunia, mana yang kita anggap sebagai “waktu” yang tepat untuk kita?

Yang terpenting saya rasa kita tidak termakan oleh “waktu” yang di-setting dengan sengaja sejak era pencerahan dimulai, lewat proyek modernisasi, dengan etika religious yang mengutamakan kerja, kerja dan kerja, yang mengabaikan esensi kehidupan, yang melupakan maksud manusia hadir ke planet Bumi, hidup, dan mati.

Kita harus keluar dari lingkaran setan waktu buatan manusia. Sudah saatnya kita berdialogue langsung dengan Tuhan, Sang Pencipta, Moyang, Dewa, entah siapa yang kita agungkan dan percaya sebagai yang “maha” di atas kita, dan memiliki kerinduan dan doa seperti ini, “Ya…. saya mau memahami dan menjalani hidup saya menurut dan sesuai waktu-waktu …., bukan waktu menurut masyarakat modern, bukan waktu seperti saya pahami yang terbatas ini.”

Saya curiga berat, jawabannya kemungkinan besar “Waktu tidak ada urusan dengan saya! Itu buatan kalian manusia. Jadi, jawabannya keluar dari lingkaran setan waktu buatan manusia, waktu yang dapat dipahami otak yang tidak sanggup memahami apa itu waktu, atau memang waktu itu pernah ada?

Filsafat (03) Hanya Manusia yang Mempunyai Waktu

Muhammad Wislan Arif

Flora dan Fauna ada yang mengetahui adanya peralihan waktu — mungkin dengan sensor mata atau sensor di daunnya, mereka merasakan ada peralihan waktu – ayam berkokok ada bias cahaya merubah lebar pupil matanya , puteri malu mengatupkan daunnya karena tidak ada lagi cahaya matahari di permukaan daunnya. Mereka bersama alunan alamiah.

Ada binatang dengan nalurinya, malam berarti saat mencari makanan — ada hewan terangsang di kegelapan malam meningkat hormon menggugah naluri seksnya, ia mendekap pasangannya. Hubungan seks nokturnal !

Codot terbang sejak senja ia mempunyai kemampuan mencari buah yang ranum walau di tengah kota yang hiruk pikuk — dan pohon yang disukainya jarang terdapat, ia mampu menemukannya. Kampret dengan melontarkan suaranya dan organ sensor di telinga menerima kembali getaran suara itu, ia menemukan serangga mangsanya. Adakah keajaiban flora atau tanaman yang luar biasa ? Ada ! (kapan-kapan ya)

Si Hasan dan Hasanah menyadari dan mempunyai “Waktu” — si Netty mengerti bahwa ia akan keluar kelas, karena menyadari jam pelajaran akan segera berakhir. Si Robert telah memperhitungkan faktor waktu untuk mengejar target penjual bulan ini – Menteri Sosial harus mengerti kapan Anggaran itu tersedia sesuai antisipasi bencana banjir. Menteri Pertahanan harus mengerti kapan Rudal TNI akan kadaluarsa tanggal/bulan/tahunnya. Camat harus mengerti kapan petani di daerahnya akan mulai musim tanam dan waktu koordinasi dengan Dinas Pertanian, masalah pupuk, masalah transportasi, masalah sarana dan prasarana. Wah masalah manusia neko-neko dengan waktu.

Makanya dalam ilmu modern waktu juga dikategorikan “Sumber Daya” . Lho, waktu bisa menjadi faktor penting untuk suksesnya program. Waktu menentukan kapan segalanya ditentukan oleh manusia modern. Tadi penjadwalan waktu, prioritas waktu , catu waktu , batas waktu, adalah untuk mengelola waktu — karena waktu adalah sumber daya !

Itu waktu untuk tujuan efisiensi dan efektifitas yang positif
Yang negatif, dari sisi filosofi — dimainkan juga oleh manusia, umpamanya — kapan Gayus diperiksa, kapan Gayus harus pergi bersembunyi untuk menyelamatkan sindikat — agar anggota sindikat punya waktu membuat alibi, menghilangkan bukti dan jejak, dan memberi kesempatan Atasan dan institusi membuat tabir asap. Hanya manusia ‘kan yang mempunyai “Kepentingan” (baca filsafat -02)

Jadi hanya manusia yang mempunyai “Budaya jadwal” — manusia mempunyai konsep jadwal. Jadwal bisa dimasukkan dalam Network Planning , bisa dimasukkan dalam Mapping untuk tujuan macam-macam kemaslahatan “kepentingan manusia”. Maka untuk tujuan diplomasi Presiden RI mengumumkan “Kematian Dulmatin” sengaja dilakukan didepan Sidang Parlemen Australia. Tentunya setelah dipastikan pihak kepolisian beberapa waktu sebelumnya. Karena apa ? Manusia Indonesia dan manusia Australia “berkepentingan” — orang Australia mati lebih kurang 200 orang kena bom Bali. Nih, telah kami tuntaskan sakit hatimu !

Beri kami bantuan yang kami perlukan. Manusia Indonesia berkepentingan untuk dibantu. Itu sumber waktu untuk tujuan diplomasi !

Wah, ajaib sekali sumber daya waktu ya ? Hanya manusia yang menyadari dan mempunyai waktu. Untuk apa saja — untuk tujuan ekonomi, pertahanan dan keamanan, teknis, perencanaan, menata jadwal politik, jadwal ketatanegaraan, suksesi kepemimpinan, suksesi warisan jabatan, wasiat untuk tahta dan harta bagi pewaris.
Dan seharusnya waktu juga direkayasa untuk tujuan “Strategi Kebudayaan”

Untuk apa ? Kebudayaan Indonesia (lama) ‘kan luhur dan bagus – bisa dijual dalam industri pariwisata. Iyaaaaa ya !

Itu mungkin hanya mampu untuk membesarkan Indonesia, mungkin. Di jaman modern pertumbuhan ekonomi dan budaya tidak cukup hanya sampai negeri itu besar. Tetapi “Budaya Masa Depan” harus mampu menjadikan Indonesia “Great” — Negeri yang Agung, agung dalam tatanan IPOLEKSOSBUD HANKAM.

Ha ?!

Jadi manusia Indonesia harus menyadari sumber daya waktunya — bukan hanya membanggakan sumber daya alam, sumber daya lain-lain yang materiil — juga sumber daya lain yang bersifat metafisis ya !
Katanya manusia berbudaya — Bangkit Indonesia-ku sadarilah dua sumber dayamu yang tersia-sia di 65 tahun merdeka ini : Sumber daya Manusia dan Sumber Daya Waktu.
Keberhasilan perekonomian Indonesia aman dari Krisis Finansial Amerika bukan karena Bail-out Bank Century, tetapi oleh karena tingkat konsumsi manusia Indonesia yang 240 juta orang, yang berbelanja di dalam negeri sepanjang waktu ini.

Bertepatan waktu dengan tetap kuatnya pertumbuhan ekonomi di Asia timur — yang dimotori Negeri Cina dengan jumlah manusia membangun dan mengkonsumsi di Cina — 1,7 Milyar manusia Cina !
Lihatlah dan palingkan muka-mu ke Cina, ke Jepang, ke Korea, ke Indo Cina, dan ke India — kemudian sadari “Waktu”-mu Indonesia-ku !

Kalau manusia Indonesia tidak ‘menyadari’ sumber daya waktunya — kita akan seperti suporter sepak bola, hanya marah dan kehilangan akal sehat. Karena mengurus sepak bola sama dengan cara mengurus negara.

Tabir asap melulu dan citra melulu (wacana Indonesia menyelenggarakan Kejuruan Dunia, wah diketawai Tokek Afrika lho) Ketinggalan waktu dan nol prestasi melulu.

Awas setelah budaya korupsi — akan ada perkembangan baru “budaya amuk massa”, yang disebabkan masyarakat tidak sabar — waktu terbuang ! Janji melulu.

Rakyat akan meniru suporter sepak bola Indonesia ( secara psikologis, tanpa disadari) — mereka akan mengamuk di kantor polisi, di ruang pengadilan, di hutan-hutan, di kawah gunung, di kantor pajak, di pasar-pasar, di kampus-kampus, di sekolah-sekolah, di pantai-pantai, dan di-mana-mana.

Jadi Bagaimana ?

Bagaimana ? Ingat hanya Manusia yang mempunyai Waktu — sadarilah ! Bagaimana menyadarinya ?

Waktu jangan dijadikan komoditi Diplomasi saja – tetapi jadikan Sumber Daya mengelola Strategi Kebudayaan !

Jangan kecewakan Suporter-mu di luar sana. Mereka menunggu dengan Sang Waktu !

(Dhalang Tukidjan berebes mili — mendengarkan Puisi “Bedebah” dibacakan Massardi. Nafas dalam-dalam, tetapi menyesak-kan, membayangkan pelarian si Gayus)

 ‡ fauna, flora, konsep waktu,  Length: [874] words.
Copyright © 218-2024 - Twenty Fourteen - 2014 AutoGrids 06.