Tujuan Mengampuni: Bukan untuk Merubah yang Diampuni, tetapi….

Intro Banyak kali saya sudah salah dalam pikiran dan dalam perbuatan, yaitu saya pikir dan saya lakukan upaya-upaya mengampuni dengan tujuan untuk Meminta pengampunan dari Allah buat saya, Berharap agar orang yang saya ampuni berubah dan berbalik berbaikan dengan saya. Tentu saja dua tujuan ini jelas-jelas salah. Alasan mengampuni bukan supaya saya diampuni, tetapi justru… Continue reading Tujuan Mengampuni: Bukan untuk Merubah yang Diampuni, tetapi….

Aku Telah Menjadikan Mengampuni dan Melupakan sebagai Makanan Pokok (2)

Komentar untuk “Inner Smile” Dengan praktek “Inner Smile” kita belajar untuk menyampaikan “senyum” kepada seluruh organ penting di dalam tubuh kita: Senyum kepada (1) jantung; (2) paru-paru; (3) liver atau hati; (4) perut dan usus; (5) buah pinggang. Sebagai puncak, kita senyum kepada alat vital atau organ seks kita. Inner smile punya prinsip dasar dalam… Continue reading Aku Telah Menjadikan Mengampuni dan Melupakan sebagai Makanan Pokok (2)

Aku Telah Menjadikan Mengampuni dan Melupakan sebagai Makanan Pokok (1)

Catatan Pembuka Sejak saya menjadikan “mengampuni dan melupakan” sebagai makanan pokok setiap hari, khususnya setiap akhir hari saya, maka saya telah temukan banyak hal. Yang pertama dan utama ialah “kedamaian bathin dan jiwa”. Kedamaian yang saya maksudkan di sini ialah “berdamai dengan diri sendiri”, bukan dengan pihak lain. Pesan untuk selalu mengampuni dan melupakan saya… Continue reading Aku Telah Menjadikan Mengampuni dan Melupakan sebagai Makanan Pokok (1)

Forgiveness: Don’t go to bed without it!

Releasing anger and irritation before the sun goes down is a mercy worth ritualizing 28) Create a short end-of-day ritual to ask for (and extend) forgiveness with those you live with. “Do not let the sun set on your anger” (Eph. 4:26). — 56 Ways to Be Merciful During the Jubilee Year of Mercy Women’s magazines are always… Continue reading Forgiveness: Don’t go to bed without it!

(Racun) Populisme, Politik Identitas, dan Jalan Panjang Demokrasi

Jakarta – DetikNews Judul Buku: Populisme, Politik Identitas, dan Dinamika Elektoral: Mengurai Jalan Panjang Demokrasi Prosedural; Penulis: Burhanuddin Muhtadi, Ph.D, Penerbit: Intrans Publishing, Malang, Maret 2019; Tebal: xxiv + 304 Halaman Setiap pasangan calon presiden dan wakil presiden serta para calon legislatif perlahan menunjukkan konfidensi popularitasnya di mata publik pemilih, terkhusus menjelang detik-detik pencoblosan. Setiap dari mereka sudah sejak… Continue reading (Racun) Populisme, Politik Identitas, dan Jalan Panjang Demokrasi

OAP: Mau Bilang Pintar Salah-Salah, Sebaliknya juga Bingung

Kita sebagai Orang Asli Papua (OAP) selalu hidup dalam kondisi serba sulit ditebak, sulit menyatakan sikap, sulit menentukan nasib, bahkan nasib untuk hidup mati-pun kami tidak punya posisi dan sikap yang jelas. Yang bingung adalah dunia, karena mereka tidak sanggup melihat jawaban atas pertanyaan, “OAP sebenarnya maunya apa?” Apakah dunia yang tidak pintar sehingga sulit… Continue reading OAP: Mau Bilang Pintar Salah-Salah, Sebaliknya juga Bingung

Jadi sebenarnya tidak ada “Tahun Baru”. Alasan paling sederhana ialah bahwa “waktu” tidak pernah berlalu, waktu tidak pernah lewat, waktu tidak pernah pergi, waktu tidak pernah meninggalkan kita. Waktu selalu ada, dari kemarin, hari ini, sampai selama-lamanya.

Yang datang dan berlalu justru semua yang hidup, semua yang ada di jagatraya ini datang dan pergi. Kedatangan dan kepergian itu disaksikan oleh “waktu”, yang tidak pernah menjadi lama dan tidak pernah menjadi baru itu.

Sebenarnya juga bukanlah datang dan pergi tetapi berubah wujud, dari tidak nampak menjadi nampak, dari angin menjadi cairan, dari cairan menjadi padat, dari pada mencair lagi, dari cairan menguap menjadi uap lagi, dari padat terbakar menjadi uap lagi, kembali menjadi bibit lagi.

Maka sebenarnya yang berubah bukanlah waktu. Waktu justru menjadi penonton setia.

Waktu tidak pernah terpengaruh oleh apapun yang terjadi di muka Bumi, di dalam kehidupan siapapun, dan apapun. Dia ada, berjalan, berputar, dalam siklusnya sesuai aturan hukum alam universal yang berlaku.

Oleh karena itu, setiap manusia hari ini yang punya otak sehat, seharusnya bertanya secara akal sehat,

  • Mengapa ada waktu-waktu dibagi menurut detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, abad?
  • Mengapa ada waktu dipetak-petak menjadi hari raya dan hari baru, hari lama?
  • Mengapa hari-hari itu dirayakan?

Perihal “Waktu” dan Nasib Manusia yang Hidup “di dalam” Waktu ?

Pengantar Catatan sebelumnya kita bicara tentang “Waktu” dan “Ruang” adalah ciptaan Manusia modern! Pikirkan untuk Hidup di luar mereka! dengan tujuan untuk melihat konsep waktu menurut Orang Asli Papua (OAP) mewakili Masyarakat Adat (MADAT) sedunia, dan waktu menurut masyarakat modern. Ada lima hal yang sering diperhatikan dalam melihat “waktu”. Pertama apa yang membatasi waktu Kedua,… Continue reading Perihal “Waktu” dan Nasib Manusia yang Hidup “di dalam” Waktu ?

Di Melanesia secara prinsipil, kita kenal ada empat “waktu” saja,

  1. Waktu pagi
  2. Waktu Siang
  3. Waktu sore
  4. Waktu malam

Selain itu, kita juga mengenal waktu-waktu yang lain, seperti berikut

  1. Waktu kecil
  2. Waktu besar
  3. Waktu muda/ tua
  4. Waktu hidup
  5. Waktu mati

Selain dari itu lagi, kita kenal waktu seperti berikut

  1. Waktu kemarin
  2. Waktu besok
  3. Waktu dulu
  4. Waktu sekarang

Ini waktu-waktu yang dikenal di masyarakat Melanesia. Begitu Melanesia bersentuhan dengan dunia modern, maka waktu-waktu itu mengalami perubahan besar-besaran. Sekarang “waktu-waktu” itu kita bagi ke dalam

  1. Waktu “jam”, termasuk detik dan menit
  2. Waktu “hari”
  3. Waktu “minggu”
  4. Waktu “tahun”
  5. Waktu “dekade”
  6. Waktu “abad”

Selain itu kita diperkenalkan dengan waktu-waktu berikut

  1. Waktu bayi
  2. Waktu remaja
  3. Waktu pemuda
  4. Waktu dewasa
  5. Waktu muda
  6. Waktu tua

Silahkan cari di google.com tentang “waktu” ini dan kita akan tercengang betapa “waktu” telah menjadi satu “subyek” yang sangat menentukan dan mengatur peri kehdupan masyarakat modern.

Anda bayangkan masyarakat modern tanpa waktu? Jelas sulit! Bagaimana mungkin peradaban modern berjalan tanpa waktu? Itu pertanyaan gila.

Dengan kesimpulan kecil ini, kita bisa lihat dengan jelas, bahwa “waktu” diciptakan atau tercipta untuk melayani kebutuhan modernisasi, dan dunia modern tanpa waktu tidak dapat berjalan sama-sekali. Bisa dikatakan juga waktu tanpa dunia modern sama sekali tidak ada gunanya.

Ingat, kita baru bicara tentang “waktu”, karena itu catatan berikutnya kita kaan bicara tentang “ruang”. Salam jumpa!